
Sendirian melewati trotoar dengan perasaan yang damai. Namun, tak begitu damai juga, ketika ia merangkum semua hal yang ia alami hari ini. Pandangannya tampak sedikit kabur dalam setiap langkahnya. Dia terhenti, mengabaikan orang-orang yang berlalu-lalang, seakan hanya dirinya yang diam di tempat. Nafasnya begitu berat ketika dihembuskan.
Tubuhnya bersandar pada salah satu pagar, menatap jalan raya yang banyak dilalui kendaraan. Dia akui, Sakura sulit menata pikirannya sendiri—entah apa penyebabnya. Langit yang berada di atasnya juga tampak menghitam.
"Lagi-lagi mau hujan," katanya.
Wanita itu melanjutkan langkahnya tanpa tujuan jelas. Padahal, dia sudah menduganya, tetap saja terkejut ketika hujan deras mendadak turun. Tubuhnya mencoba untuk berlari mencari tempat untuk berteduh. Memang sedikit kesulitan, lantaran hanya ada kafe-kafe yang berjajar. Sakura enggan mendatanginya hanya untuk berteduh, sebab itu dia terus berlari.
Sejauh mungkin dia berlari, baru ia sadar jika hanya dirinya yang tak membawa payung. Seluruh orang di sekitarnya berjalan dengan santai di bawah payung, sedangkan dirinya berlari jauh dan tak mendapatkan tempat untuk berteduh. Bahkan, lariannya telah berubah menjadi langkah lambat. Percuma berlari lagi jika pakaiannya sudah basah.
"Oke, jalan pelan-pelan aja," ucapnya pasrah.
Tak akan ada angkutan yang menerimanya dengan keadaan basah semacam ini. Dia meyakini kembali, kemunculan wanita yang serupa dengan ibunya itu telah membuat hatinya berantakan. Wanita itu hanya bisa tersenyum sedih ketika mengingatnya.
"Kalau udah tau hujan, cari tempat teduh,"
Seseorang baru saja mengatakan hal tersebut, Sakura cukup terkejut sampai menoleh guna melihat siapa sosok tersebut. Senyumannya seketika begitu cerah, apalagi saat sosok tersebut membuatnya terhindar dari guyuran hujan.
"Udah ketemu," balas Sakura.
Keduanya sama-sama melemparkan senyuman, Dirga bersama dengan Sakura berjalan menelusuri jalanan. Laki-laki itu membawa Sakura menuju mobilnya, lantaran merasa tak tega dengan keadaan wanita itu yang pastinya tak nyaman.
Tepat setelah keduanya masuk, Dirga mengatur semua pendingin mobilnya untuk menghindari Sakura. Dia juga segera mengambil selimut milik ibunya yang memang ditinggal di dalam mobil untuk di berikan pada Sakura.
__ADS_1
"Lo darimana? Kenapa nggak telpon gue, sih? Daripada jalan sendirian di bawah hujan,"
"Jalan-jalan doang. Udah lama nggak pernah ngabisin waktu sendiri," jawabnnya.
Dirga menganggukkan kepalanya, memahami jawaban tersebut, lantas dia melajukan mobilnya. Dia sekali lagi menoleh ke arah Sakura yang masih menghangatkan diri di balik selimut tersebut. Salah satu tangannya terarah ke kursi belakang guna mengambil bungkusan yang tadi dibawanya.
"Gue sebenarnya mau ngajak lo ketemuan. Tapi, kebetulan malah ketemu di sini," kata Dirga.
"Lo sendiri ngapain ke sini?" tanya Sakura.
"Emang pengen beli kopi aja," jawab Dirga seraya menunjuk kopi yang telah dia berikan pada Sakura. "Eh, malah jadi ketemu lo. Pas banget," imbuh laki-laki itu.
Wanita itu menganggukkan kepalanya, lantas obrolan keduanya kembali terhenti begitu saja. Sakura hanya terdiam dengan tatapan yang mendadak terlihat begitu sayu. Beberapa menit terdiam, Sakura dengan sendirinya mencurahkan apa yang ada di dalam hatinya.
"Pasti lo lagi kangen sama nyokap lo," balas Dirga.
Sakura menaikkan kedua bahunya singkat, dia sendiri memang sedang merindukan ibunya. Itupun karena kejadian yang dia alami sejak tadi. Tapi, pribadi itu tidak yakin seutuhnya jika kemunculan wanita yang menyerupai ibunya itu benar-benar karena dia terlalu merindukannya. Apalagi saat kalimat ibunya terbayang di kepalanya hingga detik ini.
Dia tidak bisa menceritakan semua kejadian yang sedang dialami. Apalagi tujuan utamanya ketika dia berada di daerah tersebut. Ah, dia harus melihat bukti itu terlebih dahulu sebelum nantinya dia akan membahas hal tersebut bersama dengan Dirga.
Perjalanan mereka terus berlangsung sampai puluhan menit. Mobil milik laki-laki itu akhirnya berhenti di depan pelataran rumah Sakura. Keduanya turun, berjalan masuk ke dalam rumah wanita itu. Karena waktu juga masih cukup panjang, Dirga memang berniat untuk menghabiskan waktunya di sini.
"Tunggu sebentar, ya. Gue mandi dulu," pinta Sakura.
__ADS_1
Dirga menganggukkan kepalanya, dia duduk di ruang tamu seorang diri. Awalnya dia tak melakukan apapun, namun untuk membunuh rasa bosannya, laki-laki itu mengambil ponsel yang berada di dalam saku. Sibuk dengan gawainya, secara mendadak dia mendengar adanya ponsel berdering, yang mana suara tersebut berasal dari dalam tas Sakura. Beberapa menit didiamkan, panggilan itu mati dengan sendirinya. Akan tetapi, kembali berbunyi setelah beberapa detik.
Presensi itu cepat ragu untuk mengambil dari tas Sakura. Namun, dia juga khawatir jika panggilan tersebut sangatlah penting. Lantas dengan setengah keberaniannya, Dirga mengambil ponsel wanita itu. Hanya saja, dia segera mematung ketika melihat pesan yang masuk dari nomor yang sama. Pesan tersebut dari Riana.
Hanya dari notifikasi Dirga melihatnya, sebuah foto yang ingin sekali dia periksa. Karena mustahil untuk membukanya, Dirga memilih untuk memasukkan kembali ponsel tersebut usai membaca satu pesan yang tertulis di sana.
"Ini buktinya"
Buru-buru Dirga memasukkan ponsel Sakura kembali dalam tas. Namun, dia harus tenggelam dalam rasa penasarannya karena Sakura berhubungan dengan Riana tanpa sepengetahuan dirinya. Hingga tidak lama setelah kejadian itu, Sakura tiba dengan rambutnya yang setengah basah. Dirga sendiri mengendalikan raut wajahnya.
"Tadi ada panggilan. Gue nggak berani ngambil," alibinya yang mana dia telah melihatnya lebih dulu.
"Dari siapa?"
Dirga menaikkan bahunya singkat guna menutupi kebohongannya. Lagipula, jika memang hal itu ada kaitannya dengan masalah yang sedang mereka hadapi, sudah pasti Sakura akan bercerita dengan sendirinya. Ya, tidak hanya perlu menunggu hingga nanti wanita itu akan berbicara—dengan harapan hari ini juga Sakura membicarakannya.
Lantas laki-laki berbadan besar itu melihat Sakura yang telah memeriksa ponselnya. Wajahnya tampak begitu tenang ketika wanita gitu fokus pada layar ponsel. Padahal, tanpa Sakura ketahui, jika Dirga hampir mati penasaran karena isi pesannya.
"Dari siapa? Fokus banget ngelihatnya," tanya Dirga.
"Bukan dari siapa-siapa. Cuma orang yang nggak penting," jawab Sakura.
Ingin bertanya lebih jauh, Dirga khawatir jika Sakura akan meletakkan rasa curiganya. Pun dia hanya menganggukkan kepalanya guna mempercayai apa yang dikatakan oleh Sakura.
__ADS_1
"Emang bukti apa yang dikirim Riana? Kenapa Sakura nganggap hal itu nggak penting?" tanyanya dalam hati. Dia hanya terdiam seraya memikirkan hal yang terlihat jelas ditutupi oleh Sakura saat ini. "Nggak mungkin juga gue tanya langsung ke Riana,"