
Membawa barang penting itu membuat Sakura terasa memikul beban begitu berat. Ini pertama kalinya dia begitu mengkhawatirkan benda yang bukan miliknya. Bagaimana, ya? Barang bukti yang dibawanya itu masih terdapat bercak darah, dan ia khawatir jika ada orang yang melihatnya karena kelalaiannya, Sakura akan dituduh sebagai pembunuh. Sebab itu, dia memeluk tasnya, bahkan sampai memilih untuk menghindari keramaian.
Saat ini, wanita itu masih berada di pinggir jalan, ia menunggu sebuah mobil yang katanya sudah melaju sejak sepuluh menit yang lalu. Entahlah, tapi hingga saat ini Sakura masih belum melihat kemunculan mobil tersebut. Dia menelan ludahnya beberapa kali, dalam hatinya ia ingin Dirga segera tiba di sini. Setidaknya, bisa membuat rasa gugupnya hilang terlebih dahulu.
Hingga total tiga puluh menit menunggu, akhirnya Sakura melihat mobil Dirga dari kejauhan. Pun dia segera memasuki mobil tersebut kala Dirga baru saja menghentikan mobilnya. "Akhirnya dateng juga," kata Sakura.
"Segitu kangennya sama gue?" goda Dirga.
"Bukan. Segitu takutnya gue bawa baju Ryan," balasnya.
Senyuman Dirga langsung surut begitu saja, ia berdecak kesal dan memilih membawa pandangannya pada kaca. Sedangkan Sakura tengah menghembuskan nafasnya berkali-kali, terdengar begitu lega kala membuang karbondioksida tersebut.
Sakura sampai menoleh ke arah laki-di sebelahnya, lantaran tak kunjung membawa mobil tersebut melaju. Wanita itu memutar matanya jengah, lantas bergerak mendekat ke arah wajah Dirga guna memberi kecupan pada pipi kirinya, yang mana langsung membuat Dirga kembali tersenyum dan melajukan mobilnya.
Selama berjalan beberapa meter, Sakura mengeluarkan pakaian Ryan yang sejak tadi berada di dalam tasnya. Tanpa menyentuhnya, Sakura menunjukkan baju tersebut pada Dirga. Dan ya, reaksi Dirga sama seperti apa yang dibayangkan sebelumnya. Laki-laki itu kembali teringat dengan bayangan yang ia dapatkan sejak awal. Wah, Dirga sampai tak bisa berkata-kata, jika bayangan itu begitu akurat membawa barang bukti ini ke hadapannya.
"Baju ini sama persis," kata Dirga.
"Iya. Gue juga nggak percaya kalau akhirnya, kita dapet barang ini dengan gampang," balas Sakura.
Dirinya kembali memasukkan baju tersebut dan mengamankannya. Namun, obrolan keduanya juga tak berhenti sampai di sana. Karena Dirga juga kembali bertanya tentang hal yang mereka diskusikan tadi malam.
"Terus, gimana sama permintaan dia?" tanya Dirga.
"Gue bilang aja, kita mau nerima dia. Dan tugas pertama dia cuma gue suruh buat ngawasin pergerakan Ryan," jawabnya. Saat tangannya memasukkan barang bukti itu, dirinya kembali teringat tentang sesuatu yang saling berkaitan. "Ah iya, dan informasi yang dia kirim ke gue justru informasi yang udah lewat. Dan ada satu tempat yang didatengin Ryan beberapa hari lalu," katanya lagi.
__ADS_1
"Penjara?"
"Iya, darimana lo tau? Kertas yang gue temuin di jaket lo itu cuma alamat," tanya Sakura.
"Gue nyuruh orang buat ngawasin dia. Dan ternyata dia dateng ke penjara," jawab Dirga.
Sakura menganggukkan kepalanya beberapa kali usai paham dengan perkataan laki-laki itu. Rupanya, Dirga juga telah menyuruh orang untuk mengawasi Dirga. Tapi tak apa, Riana itu adiknya Ryan, ia rasa akan lebih akurat mendapat informasi dari gadis itu.
"Tapi, ngapain dia ke sana?" tanya Sakura.
Dirga menggelengkan kepalanya tanpa menoleh. "Gue nggak tau. Nggak ada informasi lebih dari sana," jawabnya.
Keduanya sama-sama terdiam ketika menggunakan kepalanya untuk berpikir. Hal itu terjadi cukup lama, lantaran mereka tak bisa menemukan informasi itu jika tidak melakukannya sendiri. Tapi, mustahil jika memang penjagaan di sana sangat ketat. Namun, secara tiba-tiba Sakura menoleh ke belakang dengan ragu.
"Bisa bantu, nggak?" tanya Sakura.
"Gimana? Dijawab apa?" tanya Dirga.
"Belum ada jawaban apa-apa, dia cuma diem. Bahkan, nggak natap gue sama sekali," Sakura kembali mengubah posisinya menjadi posisi semula. Dia melipat kedua tangannya seraya menekuk kedua alis. "Gue curiga, dia marah sama gue," katanya lagi.
"Marah kenapa? Orang kita mau bantuin dia, kok,"
"Dia pasti marah, karena gue suka—"
"Gue yang suka sama lo duluan," kata Dirga seraya menutup mulut Sakura saat wanita itu belum selesai menuntaskan kalimatnya.
__ADS_1
Sakura tak bisa menimpalinya lagi, namun dia tetap khawatir jika rasa sukanya terhadap Dirga akan mengganggu arwah itu. Tapi, dia ini hanya manusia yang tak bisa mengendalikan perasaannya untuk menyukai siapa. Toh, karena masa lalu arwah perempuan itu yang akhirnya membuat Sakura bertemu dan menyukai Dirga.
Saking seriusnya memikirkan hal tersebut, Sakura sama sekali tak menyadari jika Dirga membawa laju mobil ini ke alamat yang mereka bicarakan tadi. Iya, penjara, dimana tempat yang Ryan datangi. Wanita itu sampai memukul lengan Dirga untuk menyadarkan laki-laki itu atas apa yang membuatnya membawa mereka ke tempat ini.
"Dirga, lo gila! Kita belum ada persiapa apa-apa buat ke sini! Kenapa malah dateng sekarang?!" kesal Sakura.
Dirga sama sekali tak menanggapinya, dia melepas sabuk pengamannya dan bersiap untuk turun dari mobil. Akan tetapi, pergerakannya itu tertahankan saat Sakura menahan lengan pakaian laki-laki itu. Dia menggelengkan kepala dan melarang Dirga untuk nekat masuk ke dalam.
"Yang belum ada persiapannya, 'kan, lo. Kalau gue, udah sempet mikir ini tadi malem," tuturnya seraya melepaskan tangan Sakura dari lengan pakaiannya.
Dengan berat hati pula Sakura membiarkan laki-laki itu melakukan hal yang ingin dia lakukan. Sakura sampai menggigit jarinya saat melihat punggung Dirga mulai menjauh dari mobil. Jujur saja, Sakura tak merasa yakin dengan ide Dirga saat ini. Apalagi penjara itu memiliki pengawasan yang ketat, Dirga tak akan mudah mendapatkan informasi apapun.
Dia mengambil ponselnya, mencari tahu tentang penjara yang ada di hadapannya itu. Mungkin tak banyak informasi yang bisa dia ambil, tapi setidaknya dia membaca jika penjara tersebut menjadi penjara yang menampung narapidana dengan kasus yang berat. Sakura menggelengkan kepalanya, merinding dengan hal yang dia baca saat ini.
Dan tak lama setelahnya, dia melihat Dirga yang berjalan keluar. Sampai akhirnya, laki-laki itu masuk dengan membawa dugaan Sakura. Iya, laki-laki itu sama sekali tak mendapat informasi apapun. Mereka merahasiakannya.
"Penjara ini, salah satu penjara yang nampung narapidana dengan kasus berat. Jangan macem-macem, ah," kata Sakura.
"Darimana lo tau?" tanya Dirga.
"Internet,"
Dirga tersenyum, dia mengacak rambut Sakura saat wanita itu menunjukkan layar ponselnya yang menyala ke arahnya. Pun Dirga memasang sabuk pengamannya seraya meninggalkan tempat tersebut.
"Gue ketemu sama sipir, bukan napinya," kata laki-laki itu.
__ADS_1
"Iya, tapi sama aja. Ketemu sama sipir pun nggak dapet informasi apa-apa. Dikasih tau, nggak mau dengerin, sih,"
"Iya deh, iya. Maaf, gue nggak dengerin," pungkas Dirga yang memilih untuk mengalah dari konversasi tersebut.