Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Merasa Bersalah


__ADS_3

Bersama dengan sang ibu dan juga Sakura, ketiganya duduk di ruang tamu dalam keadaan yang sangat hening. Ya, Ryan sudah meninggalkan rumah ini, namun belum cepat membuat mereka melupakannya begitu saja. Terlebih sang ibu yang masih penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Hanya saja, Dirga belum mau menceritakan hal tersebut pada sang ibu. Dia memilih untuk bungkam dan meminta tolong pada ibunya untuk tidak memikirkan hal ini. Pasalnya, Dirga sendiri juga dibuat kewalahan dengan tingkah Ryan.


Ketika Sakura memperhatikan perempuan yang laki-laki itu, cetak jelas kuratan frustrasi yang Dirga alami. Ingin sekali rasanya Sakura memeluk laki-laki itu, serta memberitahu Dirga jika mereka berdua akan melewatinya bersama. Baru saja wanita itu memikirkannya, Dirga justru menoleh ke arahnya dengan senyuman tipis.


"Makasih, karena akhirnya lo dateng cepet," kata Dirga.


Sakura menganggukkan kepalanya beberapa kali, dia juga berkata jika hal yang diminta Dirga bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan. Karena wanita itu juga begitu terhadap ibunda Dirga.


Saat ini, Sakura sedang membaca situasinya, yang mana dia rasa dia nggak membutuhkan waktu sendirian. Lantas wanita itu mengajak ibunda Dirga untuk pergi meninggalkan ruang tamu dan membiarkan Dirga menenangkan dirinya sendiri. Mereka berdua berjalan menuju belakang rumah, tetapi wanita paruh baya tersebut terlihat tidak bisa menang karena putranya. Sakura juga menjadi tidak enak jika terus menutupi hal tersebut.

__ADS_1


Di sana terdapat sebuah bangku yang digunakan oleh ibunda Dirga. Mereka berdua masih sama-sama terdiam, akan tetapi tidak sama dengan pikiran mereka yang cukup berisik. Sakura paham jika seorang ibu pasti akan mengkhawatirkan anaknya, dan perasaan itu membuat dirinya terganggu lantaran tidak tega. Dia juga ingin menahannya, tapi sepertinya sulit untuknya.


Wanita itu berjongkok tempat di depan ibunda Dirga, lantas menggenggam kedua tangan yang telah penuh akan keriput tersebut. Sakura tersenyum seraya mengusap lembut tangan yang masih digenggamnya. Walau sedikit menyakitkan, memang lebih baik dia menceritakan hal ini pada ibunda Dirga.


"Tante, sebenarnya Dirga itu khawatir dengan keadaan kita berdua. Itu semua karena Ryan udah tau kalau dia target kita," jelasnya secara garis besar.


"Terus, gimana sama kalian? Bukannya kalian udah bisa buat ngungkap semuanya?" tanya wanita paruh baya itu.


Sakura mengalihkan pandangannya, dia juga mengangguk kecil, akan tetapi selalu saja ada masalah lain yang membuat dirinya dan juga Dirga memundurkan niatan tersebut. Memang sangat lelah jika harus terjebak dalam masalah ini, tetapi mereka juga berusaha untuk menyelesaikannya dengan cepat.

__ADS_1


"Maaf ya, tante. Masalah ini ternyata lebih lama dari yang diperkirakan," kata Sakura dengan kepala yang tertunduk.


Wanita paruh baya tersebut memegang peran kedua pundak Sakura, akan memberikan kekuatan pada wanita itu untuk tidak merasa bersalah. Kendati juga merasa lelah, tetapi wanita tersebut bisa mempercayakannya pada Sakura dan juga Dirga. Cepat atau lambat, semua masalah pasti bisa terselesaikan.


"Nggak apa-apa, tante cuma mau kalian menyelesaikan tanpa ada yang terluka. Jangan merasa bersalah lagi. Semua ini bukan salah kalian, bukan kalian yang memulainya," tutur ibunda Dirga. Wanita tersebut mengusap salah satu pipi Sakura, menunjukkan dan menyalurkan kasih sayangnya terhadap wanita muda itu.


Tanpa dua wanita itu sadari, sejak tadi Dirga hanya mendengarkan apa yang dibicarakan oleh mereka berdua. Ya, jika memang sengaja tidak menampilkan dirinya bersama dengan dua wanita yang sangat berharga baginya itu. Dan mendengarkan ketulusan Sakura serta sang ibu, juga ikut membuatnya merasa bersalah. Kedua atau telapak tangannya telah terkepal kuat, seakan menyalakan dirinya sendiri sebagai laki-laki yang tidak bisa menyelesaikan masalah dengan baik.


"Maaf, bu," ucapnya dalam sendu.

__ADS_1


__ADS_2