
Sakura baru saja mengelilingi rumahnya, dia memasang sesuatu untuk pertahanan dirinya. Ini adalah cara yang terbaik untuk melindungi dirinya dari serangan Hanna kalau-kalau hantu perempuan itu semakin murka terhadapnya. Akan dia pastikan seutuhnya, jika Hanna tak akan bisa melewati batas. Sebab Sakura tak ingin sesuatu yang dia rencanakan akan terlihat atau diketahui Hanna dengan jelas. Wanita itu tinggal menunggu dua orang lainnya yang akan turut membantunya menyusun rencana.
Wanita itu duduk di ruang tamu, pandangannya hanya terpaku pada meja yang kosong. Akan tetapi, otaknya tengah bekerja keras dibantu dengan kedua manik yang bergerak acak. Dia masih memikirkan sebuah fakta yang baru dia ketahui dari Riana tentang Hanna. Sudah Sakura duga sejak awal, jika arwah perempuan itu sangat berbahaya. Apalagi sampai sosok itu berani membunuh orang demi membalas dendamnya.
Tak lama setelahnya, mobil Riana tiba lebih dulu di pelataran rumahnya. Sakura berdiri guna menghampiri gadis yang baru saja keluar dari mobilnya. Pun saat keduanya berdiri di depan pintu, sebuah mobil lainnya juga tiba dan terpakir di sebelah mobil Riana. Kedua wanita itu menunggu sampai Dirga menghampiri mereka.
"Ngapain dia di sini?" tanya Dirga tanpa ragu.
Ya, dari nada suara laki-laki itu, terdengar ketus dan tidak menyukai keberadaan Riana yang sedang bersama dengan Sakura. Riana sendiri mencoba untuk memahaminya, dia juga paham jika Dirga akan semarah ini terhadapnya. Dan di sana Sakura segera menjelaskannya pada Dirga—wanita itu tengah melindungi Riana.
"Denger ya," Dirga mengubah posisinya menghadap Riana. Salah satu jari telunjuknya menunjuk ke arah Riana dengan suara beratnya. "Sampai lo bikin kacau, gue nggak segan-segan buat bikin lo masuk penjara," kata Dirga yang mengancam sepupunya itu.
"Iya. Nggak akan!" jawab Riana yang memalingkan wajahnya. "Gue lebih suka Sakura daripada lo," kata gadis itu seraya menggandeng Sakura masuk ke dalam rumah.
Sakura tersenyum ke arah Dirga, seakan tidak bisa berbuat apa-apa karena sepupu laki-laki itu lebih menyukainya. Sedangkan Dirga menyusul keduanya yang lebih dulu duduk di sofa ruang tamu. Dia dan Riana saling melempar tatapan tajam, yang mana segera diputus oleh Sakura lantaran mereka harus segera menemukan solusi untuk membuat Hanna pergi ke alamnya.
"Dirga. Lo harus tau sesuatu," kata Sakura.
Seraya menunggu penjelasan, Sakura menyenggol Riana untuk menjelaskannya pada Dirga—supaya mereka berdua tidak terus melempar kebencian. Pun dengan helaan nafas yang berat, Riana akhirnya menjelaskan hal yang sebelumnya telah dia ceritakan pada Sakura.
__ADS_1
"Hanna bukan cuma sekedar roh, tapi dia juga bisa nyamar jadi manusia," kata Riana.
"Gue juga belum mastiin sendiri, apa dia beneran bisa nyamar jadi manusia atau dia masuk ke dalem tubuh manusia. Tapi, dari cerita Riana, dia manusia," Sakura menambahkan.
"Gimana gue bisa percaya soal itu?" tanya Dirga yang masih cukup ragu.
Sakura mengangkat salah satu tangan Riana guna memperlihatkan bekas luka yang didapat oleh Riana dari cakaran Hanna. "Nggak asing, kan?" tanya Sakura sebelum kembali meletakkan tangan Riana. "Luka yang dia dapet, sama kayak yang gue dan Ryan dapet. Walau kita nggak tau siapa yang nyakar Ryan, gue sama Riana juga dapet cakaran yang sama, tapi dari sosok yang berbeda. Itu berarti, Ryan dicakar salah satu dari sosok Hanna. Entah dia sebagai Hanna atau pura-pura sebagai manusia," jelas Sakura.
Kedua alis Dirga tertekuk bersamaan, dia mencoba untuk berpikir dan menelaah semua yang dikatakan oleh Sakura dan Riana. Lantas laki-laki itu menatap kedua wanita yang ada di hadapannya itu, mungkin dia bisa mempercayainya. Toh, Sakura sendiri yang juga menjelaskannya.
"Oke, anggaplah gue percaya apa yang kalian omongin. Terus, gimana kita ngelawan?" tanya Dirga.
"Apa-apaan lo?! Mau bikin gue kayak dulu lagi?!" kesal Dirga.
Sakura mengangkat wajahnya, dia menganggukkan kepala tanpa ragu. Di sebelahnya, Riana menyadari jika tatapan wanita itu terarah ke luar rumah. Yang mana di luar sana terdapat sosok yang sedang mereka bicarakan. Kontan salah satu tangan Riana menggenggam erat tangan Sakura, lantaran dirinya khawatir jika Hanna akan mendengarnya. Dan Sakura sendiri juga menyadari hal itu.
"Tenang aja, dia nggak akan bisa masuk atau denger. Gue udah pasang pembatas yang nggak bisa dia lewatin," kata Sakura yang masih menatap arwah perempuan itu di luar sana. Lantas tatapannya berubah menatap dua presensi di ruang tamunya ini. "Inget! Jangan ngomong sembarangan setelah kalian keluar dari rumah ini. Pikirin di dalem kepala atau hati. Kita nggak akan tau, kapan Hanna bakalan ada di sekitar kita," tutur Sakura.
"Tapi, gimana sama gue? Lo beneran mau buat gue kayak dulu?" tanya Dirga yang masih belum terima.
__ADS_1
Wanita itu sampai menghela nafasnya cukup panjang, dia harus kembali menjelaskannya pada Dirga supaya laki-laki itu tidak kesal dan bisa mengontrol diri untuk tidak berbicara sembarangan. Apalagi, Dirga adalah prioritas untuk Hanna. Sudah sangat jelas jika laki-laki itu akan memiliki banyak waktu dengan arwah perempuan jahat itu.
"Dan gue sama Riana bakal mantau lo. Nggak usah khawatir!" kata Sakura dengan tegas.
Apa yang bisa Dirga lakukan? Tentu saja hanya menurut dengan Sakura yang lebih tahu hal semacam ini. Walau Dirga tidak mau diposisikan seperti ini. Lalu, bagaimana dia akan menceritakannya pada ibunya?
"Terus, apa gue juga harus ngehindarin semua perempuan lagi?" tanya Dirga lagi dan langsung diangguki oleh Sakura.
"Karena dia pasti bakalan aman disaat dia lo jauh dari gue. Dan saat itu juga dia bakal lemah," pungkas Sakura.
...****************...
Baru saja Riana dan Sakura melihat Dirga yang pergi meninggalkan rumah Sakura. Kedua wanita itu melanjutkan obrolan mereka. Toh, hal ini juga membuat mereka mengobrol lebih bebas—karena Hanna pergi bersama dengan Dirga.
"Lo yakin bisa ngelawan dia?" tanya Riana.
"Gue yakin bisa ngelawan, tapi gue nggak bisa bilang seratus persen gue bakalan menang," jawab Sakura.
Dia menyadarinya, jika Hanna bukan tandingan yang bisa dia remehkan. Wanita itu tidak ingin terlalu percaya diri, kalau-kalau dia jomblo tidak berhasil mengalahkan sosok arwah perempuan itu. Lantas wanita itu menatap ke arah Riana yang berada di sebelahnya.
__ADS_1
"Riana, beberapa hari lagi, kita cari dukun itu. Tunggu kabar dari Dirga sampai dia bisa melihat dukun itu lagi. Baru, kita cari dukun itu," ucap Sakura, Riana yang mendekatkan dengan sungguh-sungguh itu langsung menganggukkan kepalanya guna menyetujui perkataan wanita itu.