Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Menghilangkan Jejak


__ADS_3

Dari tempat kejadian, mobil yang berisikan tiga orang tersebut berhenti di depan minimarket. Ryan keluar dari mobil, membawa masuk dirinya ke dalam sana, serta membiarkan Dirga dengan Sakura. Sedari tadi, tak ada obrolan di dalam mobil tersebut, hanya tatapan Sakura yang begitu hancur ketika ia menyadari telah dilecehkan oleh laki-laki itu. Bahkan, tanpa ragu dirinya kembali membuka pakaiannya, mengambil tisu dan mengelap semua bekas yang disentuh.


Dirga tak bisa menyaksikan ini, dia hanya memandang Sakura dengan tatapan kasihan. Laki-laki itu juga tak tahu harus bagaimana untuk menenangkan Sakura, lantaran tangannya terus bergerak menghapus semua bekasnya—sekaligus diseluruh bagian wajahnya. Terutama bibir. Sakura terus mengelap bibirnya hingga berdarah. Dia jijik dengan semua yang ia dapat.


"Biar gue yang ngilangin," kata Dirga seraya menjauhkan tangan Sakura dan segera mencium wanita itu.


Sakura sampai menahan nafasnya ketika Dirga telah menciumnya. Tubuhnya benar-benar mematung dengan jantung yang terasa panas serta berdebar kencang. Hanya beberapa detik sebelum Dirga menjauhkan tubuhnya dengan tatapan yang masih sama seperti sebelumnya. Pun wanita itu memalingkan wajahnya, mengancingkan kembali pakaiannya.


"Gue beli minum dulu," kata Dirga yang langsung keluar dari mobil.


Laki-laki itu bertemu dengan Ryan yang duduk seorang diri di depan. Dia berhenti sejenak dengan obrolan singkat.


"Gimana sama dia?" tanya Ryan.


"Gue rasa masih syok," jawab Ryan.


Ryan mengangguk beberapa kali, memahami jawaban dari sepupunya tersebut. Lantas Dirga berjalan masuk ke dalam minimarket, meninggalkan Ryan seorang diri yang menatap mobil dari kejauhan. Sedangkan di dalam sana, Dirga tengah bergerak mencari makanan dan minuman untuk Sakura. Dirinya juga mencari obat-obatan untuk mengubati luka wanita itu.


Dirga akui, suasananya sangat tidak nyaman. Dia juga belum pernah berada di posisi semacam ini. Entahlah, apa yang harus dilakukannya untuk menenangkan Sakura, atau apa yang bisa membuat wanita itu melupakan kejadian ini. Dirga tak yakin Sakura akan cepat melupakannya.


Lantas laki-laki itu keluar usai membeli semua yang ia butuhkan. Kembali berjalan ke dalam mobilnya, menemui Sakura yang sama sekali tak mengubah posisinya. Dengan segera Dirga membukakan makanan dan minuman untuk Sakura, sayangnya wanita itu menolak. Enggan memasukkan makanan ataupun minuman ke dalam perutnya. Dirga sampai menghela nafas panjang. Kekhawatirannya terhadap Sakura telah mengganggu ketenangannya.

__ADS_1


"Ra, dimakan," kata Dirga.


"Nggak mau," balas Sakura.


Mendengar Sakura yang kembali berbicara cukup membuatnya lega. Setidaknya dia tak diam karena terus merasa menyesal. Dirga tak mau memaksa terlalu keras pada Sakura, dia mengalah dan membiarkan Sakura seperti itu. Dirinya kembali keluar guna memanggil Ryan untuk melanjutkan perjalanan.


Pun pada akhirnya mobil tersebut telah melaju kembali. Kali ini, Dirga sendiri yang berada di balik roda setir, dia akan mengantar sepupunya itu pulang ke rumahnya. Selama dalam perjalanan, kepala Dirga penuh dengan pemikirannya. Berusaha memutuskan sesuatu yang mengganggu kepalanya.


Haruskah Sakura dia tinggalkan di rumah sendirian? Ataukah membawanya bersamanya?


Berpikiran semacam itu membuat semua ketakutan Dirga muncul begitu saja. Memang, pada dasarnya yang menghancurkan diri sendiri itu hanya rasa takut. Tapi, terkadang segala sesuatu juga dapat diprediksi—sekalipun dengan rasa takut tersebut.


Beberapa menit lalu, Dirga telah mengantar Ryan ke rumahnya. Di dalam mobil ini hanya dia dan Sakura. Sekilas Dirga menoleh ke belakang, tak ada yang bisa dia bicarakan dengan wanita tersebut. Namun, ada yang bisa dia putuskan untuk malam ini, jika Dirga akan membawa Sakura pulang bersamanya. Dia tak akan bisa meninggalkan wanita itu seorang diri di rumah. Rasa takutnya juga telah menguasai otaknya. Daripada semakin mengganggunya, lebih baik dia membawanya. Toh, ada sang ibu di rumah.


Dirga belum menjawabnya, dia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Sakura. "Lebih aman buat lo di sini," kata laki-laki itu seraya mengulurkan tangannya.


Sakura sama sekali tak beranjak dari sana, menatap kosong tangan Dirga tanpa suara. Lantas dia menggelengkan kepalanya, seakan menolak tawaran baik Dirga untuk dirinya berada di rumah laki-laki itu. Hal tersebut membuat Dirga terdiam. Dia juga tak bisa menuruti keinginan Sakura jika memang wanita itu ingin berada di rumah sendirian. Pun perlahan dia meraih kedua tangan Sakura, memberikan usapan lembut.


"Ini udah larut malem. Gue nggak bisa ninggalin lo sendirian. Malam ini aja, lo tidur di sini. Besok pagi langsung gue anter pulang," tutur Dirga.


Sakura memang bukan wanita yang rumit, dengan penuturan tersebut ia langsung menganggukkan kepalanya. Lantas turun bersama dengan Dirga dan berjalan masuk ke dalam rumah laki-laki tersebut. Seperti biasa, pribadi itu akan selalu disambut sang ibu yang menunggu kepulangannya.

__ADS_1


"Sakura kenapa?" tanya sang ibu.


Dirga menggelengkan kepalanya, menghentikan pertanyaan ibunya itu untuk tidak membahasnya terlalu jauh. Dia yakin, ibunya pasti begitu merasa penasaran dengan apa yang terjadi, hingga membuat mereka datang selarut ini. Hanya saja, saat ini Dirga harus membawa Sakura masuk ke kamar tamu untuk beristirahat.


"Kalau butuh apa-apa, jangan ragu panggil gue atau nyokap," kata Dirga yang langsung diangguki oleh Sakura.


Akhirnya, laki-laki itu keluar dari kamar tersebut usai memastikan keadaan Sakura. Baru saja menutup pintu kamar tersebut, dia dikejutkan dengan keberadaan sang ibu yang telah berdiri tepat di belakangnya. Iya, memang benar ibunya itu sangat penasaran. Pun ia segera membawa tubuh sang ibu menjauh dari kamar Sakura.


"Jangan keras-keras kalau tanya. Nanti Sakura denger," kata Dirga seraya meletakkan jari telunjuk di depan bibir.


"Iya, makanya itu. Kasih tau ibu, ada apa?"


Di depan kamar ibunya, Dirga mulai menjelaskan apa yang terjadi dengan mereka dengan lengkap. Dia juga memperhatikan reaksi ibunya ketika banyak hal-hal berbahaya dan mengerikan yang mereka hadapi—tak terkecuali tentang Sakura yang mendapatkan perlakuan buruk. Terlihat jelas dari luka-luka di wajah wanita itu.


Ibunda Dirga menutup mulutnya yang terbuka, tak bisa berkata-kata saat seluruh cerita putranya. Wanita tersebut begitu kasihan mendengar apa yang Sakura dapatkan. Rasanya turut melegakan ketika Dirga membawa wanita itu untuk menginap di sini. Tentu saja, wanita paruh baya tersebut sama sekali tidak merasa keberatan.


"Tapi, pelakunya semua udah ketangkap, kan?" tanya sang ibu guna memastikan.


"Udah, bu. Semua perempuan di sana juga udah bebas semua," jawab Dirga.


"Syukurlah. Emang ternyata kalian yang harus nyelamatin tempat itu. Tapi, ibu juga nggak bisa lihat Sakura yang begitu,"

__ADS_1


Dirga terdiam, dia menarik nafas panjang, membawa sang ibu masuk ke dalam kamar. Dia juga meminta ibunya untuk tidak menyinggung cerita itu pada Sakura. Mereka berdua tak tahu apa yang ada di pikiran Sakura, dan memang lebih baik untuk tidak dibahas.


__ADS_2