
Lapar, lelah, pasrah. Seluruh perasaan itu Sakura rasakan lantaran dua hari tidak mendapatkan energi apapun. Wajahnya juga tampak pucat, tak mendapat banyak oksigen dari luar ruangan. Sakura sudah tidak dapat menangis lagi, tak memiliki energi dan manfaat untuk melakukannya. Entah berapa lama berada di tempat ini dengan seluruh tubuh yang terikat kuat.
Tidak lama setelahnya, itu ruangan itu terbuka dan mendapati seorang gadis yang masuk ke dalam kamar dengan penampilan yang cukup mengerikan. Iya, Sakura yang ada banyaknya untuk kaca karena di wajah dan di tangan gadis tersebut. Sakura tertawa remeh usai melihat lukanya, lantaran dia cukup mengenali luka cakaran itu. Dia tahu, Hanna pasti tidak akan diam setelah tahu jika dirinya menghilang tanpa kabar. Tentu saja harapan paling besarnya berada pada hantu perempuan itu.
"Nggak usah ketawa! Luka ini bukan apa-apa!" kata Riana.
"Lo pantes dapetin!" kata Sakura dengan tatapan tajam.
Tepat setelah wanita itu mengatakannya, Sakura langsung mendapatkan tamparan keras dari Riana. Pipinya terasa begitu panas, dia tidak bisa menyentuh dengan telapak tangannya, hanya merasa perih setelahnya.
Karena adanya keributan di ruangan ini, Ryan datang dengan wajah yang tegas. Tatapannya langsung terarah pada Sakura yang tampak menyedihkan. Apalagi setelah mendapatkan tamparan dari Riana. Pemandangan yang sangat menyenangkan untuk Ryan.
"Udah, biarin aja dia busuk di sini. Kita ngomong di luar," kata Ryan yang mengajak adiknya pergi.
Keluar dari ruangan, Sakura masih mendengar obrolan dari keduanya. Hal itu membuat Sakura menyadarinya dan meyakini.
"Lagipula, gimana bisa lo dapetin luka itu?" tanya Ryan.
"Ada perempuan yang dateng ke rumah gue. Nggak tau masalahnya apa, dia cakar gue," jawab Riana.
__ADS_1
Sakura memang sangat yakin jika luka yang didapat oleh Riana adalah luka yang berasal dari perbuatan Hanna. Toh, Ryan dulu juga pernah mendapat luka yang sama seperti itu. Sakura tersenyum, sedikit merasa lega karena setidaknya Hanna sudah tahu jika dirinya bersama Riana dan Ryan.
...****************...
Hanna sibuk sendiri dengan cincin yang berada di tangannya. Hantu perempuan itu berusaha untuk membuat dirinya terlihat di depan Dirga. Padahal saat menemui Riana, dia bisa melakukannya tanpa masalah. Akan tetapi begitu sulit melakukannya, yang mana Hanna juga tidak tahu alasannya. Dia merasa frustasi melihat Dirga mengendarai mobilnya tanpa tujuan. Hanna telah mengetahui dimana lokasi keberadaan Sakura saat ini.
Usai semua usahanya sia-sia, Hanna terdiam. Hantu perempuan itu menatap Dirga dalam diamnya, dia juga kembali mengingat kejadian-kejadian sebelumnya. Hanna bisa menyentuh barang-barang yang ada di sekitarnya. Dia ragu, tapi merasa harus melakukan hal ini. Dengan berani Hanna sendiri yang memegang kendali mobil Dirga—walaupun laki-laki itu masih berada di kursi sopir.
"Kenapa ini?!" Dirga terkejut.
Dirga berusaha memegang kembali mobilnya, namun tidak berhasil karena kekuatan Hanna lebih kuat daripada dirinya. Dia mencoba untuk membaca situasi saat ini, yang mana langsung mengarah pada perbuatan Hanna. Hanya hantu perempuan itu yang biasa melakukan hal-hal aneh terhadapnya.
"Hanna, lo ngapain?! Jangan macem-macem!" kata Dirga.
Dirga sempat melepas pedal gas, berniat menginjak pedal rem, akan tetapi kakinya tak bisa bergerak karena sesuatu membuatnya terus menginjak pedal gas. Sungguh, laki-laki merasa frustasi berada di dalam mobil. Dia sudah mengetahui jika Hanna yang mengambil alih kendali mobil. Selama dalam perjalanan, Dirga kanan dan kirinya guna membaca letak keberadaan mereka saat ini.
Dirga tak akan berbohong jika dirinya merasa tidak asing dengan jalan yang sedang mereka lewati. Hanya saja laki-laki itu tidak bisa mengingat ke mana mereka akan pergi. Namun tetap berusaha untuk mengingat.
Melihat bagaimana cara menyetir Hanna, membuat laki-laki itu merasa trauma dengan hantu perempuan itu. Pasalnya, Hanna mobilnya dengan cukup ekstrim. Entahlah, Dirga hanya berharap jika hantu perempuan itu tidak berniat untuk menjadikannya sosok yang sama dengan Hanna. Dirga masih belum siap menjadi hantu. Dia akan mencari Hanna jika hal itu benar terjadi.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya Hanna menghentikan mobil tersebut beberapa meter dari lokasi keberadaan Sakura. Dia sampai tidak bisa berkata-kata setelah melihat keberadaannya sekarang. Secara tiba-tiba emosinya juga mulai memuncak, lantaran tempat yang saat ini didatangi adalah rumah Hanna. Satu-satunya tempat yang sama sekali tidak terpikirkan olehnya. Dirga menggeleng dengan cepat, lamaran tidak ingin jika Sakura akan pernah sama seperti Hanna.
Tunggu, Dirga tidak bisa membuat keputusan untuk masuk tanpa rencana. Walau tidak adanya penjagaan ketat di rumah itu, tetapi Dirga tetap bisa kalah jika Ryan sudah merencanakannya terlebih dahulu. Laki-laki itu mencoba untuk berpikir sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah Hanna. Cukup lama dia melakukan sesuatu sesuai dengan rencananya yang telah dia pikirkan. Lantas dengan berani melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.
"Ryan!!" teriak Dirga.
Dengan suara yang lantang laki-laki itu berteriak memanggil nama sepupunya. Tidak! Dia sudah tidak menganggap laki-laki itu sebagai sepupunya lagi. Bahkan, Dirga juga menggebrak kuat pintu rumah Hanna itu. Berharap nama yang baru saja dia ucapkan dengan lantang keluar menghadap dirinya. Sampai akhirnya pintu tersebut terbuka dan menampilkan sosok Ryan yang memasang senyumannya.
"Akhirnya, pahlawannya udah datang," ucap Ryan. Laki-laki itu sempat memutar tubuhnya menghadap ke belakang sebelum bersuara dengan lantang. "Sakura!! Pahlawan lo udah dateng, nih! Tapi sayangnya, datengnya telat! Cewek lo udah lemes," katanya lagi.
Tanpa ragu, Dirga menarik kerah pakaian Ryan, emosinya sudah tidak dapat ditahannya lagi. Tubunya terasa panas ketika berhadapan dengan laki-laki bejat di depannya itu.
"Sampai Sakura kenapa-kenapa. Lo bakal mati di tangan gue!" kata Dirga.
"Rencananya, gue mau buat dia kenapa-kenapa," kata Ryan. Dia mendekatkan diri ke telinga Dirga. "Sama kayak yang dialami sama pemilik rumah ini," ucapnya lagi, disertai dengan tawa.
Dirga langsung memberikan pukulan di wajah laki-laki itu, bahkan membabi-buta memberikan banyak pukulan. Namun, dia tidak menyangka jika hal ini membuatnya salah bertindak. Dua orang penjaganya datang dan menahan tubuh Dirga. Ryan bangkit, dia menyeka sedikit darah yang keluar di sudut bibirnya. Lantas membalas pukulan Dirga tanpa ampun, membuat Dirga juga mengeluarkan banyak darah.
"Lo itu cuma laki-laki lemah! Semua yang lo lakuin masih dalam pengawasan orang tua!" kata Ryan ketika dia masih memberikan pukulan di perut Dirga. "Aksi pahlawan lo sekarang nggak akan ada gunanya," kata Ryan lagi, dia meludah ke sisi kirinya.
__ADS_1
Entah sudah berapa pukulan yang didapat oleh Dirga. Lantas Ryan diam setelah melihat Dirga lemah, yang mana sudah tidak dapat berdiri walaupun masih dipegang oleh kedua penjaganya. Laki-laki itu juga menyuruh para penjaganya untuk membawa Dirga ke ruangan yang menjadi tempat keberadaan Sakura.
"Gue pakai cara yang sama," kata Ryan.