Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Tidur Bersama


__ADS_3

Setelah merasa dirinya pengap dipeluk begitu erat oleh Dirga, wanita itu langsung meloloskan dirinya dengan bergerak ke bawah menghindari pelukan laki-laki itu. Dirinya mengalikan pandangannya dari laki-laki, gugupnya bukan main, serta debaran jantung yang tidak beraturan.


Selagi menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Sakura, sosok laki-laki itu meletakkan kedua tangannya di pinggang, memasang senyum miring ketika merasa senang melihat wajah gugup dari wanita yang dia sukai itu.


"O-oke, tapi cuma malam ini aja," kata Sakura dengan suara gagap.


Tampak begitu senang, Dirga melebarkan senyumannya. Dia semakin tak bisa menahan tawanya saat Sakura memutar tubuhnya masuk meninggalkan dia sendirian. Pun Dirga hanya menyusul usai mengunci pintu rumah Sakura.


Waktu yang telah menunjukkan pukul sembilan malam mendadak membuat Sakura merasa harus cepat-cepat membersihkan dirinya. Bahkan, dia sudah selesai dengan mulut yang bersih, serta nafas yang segar. Pun wanita itu masuk ke dalam kamar terlebih dahulu. Sedangkan Dirga, ia baru saja keluar dari kamar mandi, melihat sendiri Sakura telah memasuki kamar.


"Ra, udah mau tidur?" tanya Dirga.


"Iya, ngantuk," jawab Sakura dari dalam kamar.


Dirga hanya bisa menghela nafasnya, lantas berjalan ke arah ruang tamu guna mengambil ponselnya. Laki-laki itu merebahkan dirinya di atas sofa, seraya memandang layar ponsel. Apalagi yang biasa dia lakukan saat ini? Sakura sudah kelelahan dan ingin segera tidur, sedangkan dirinya sama sekali belum mengantuk. Lagipula, saat ini terlalu awal untuk mereka tidur. Tapi, jika memang itu yang diinginkan Sakura, Dirga juga tidak bisa menghalanginya.


Beberapa menit pandangannya masih terarah pada layar ponsel, secara mendadak ia terkejut hingga membuat ponsel itu jatuh tepat di wajahnya. Dia terkejut lantaran Sakura yang datang secara tiba-tiba.


"Kenapa tidur di sana? Kan ada kamar," tanya Sakura seraya mengalihkan wajahnya.


Tempat setelah kalimat Sakura itu terucap, Dirga bergegas menegakkan tubuhnya dan menghadap wanita itu dengan raut wajah terkejut. Dia sampai mengerjap beberapa kali, merasa jika dia salah mendengar. Namun, dari gerakkan tangan Sakura, sepertinya pendengarannya memang tidak bermasalah.


Sekali lagi, senyumannya kembali merekah. Kali ini, senyuman itu bertahan cukup lama sampai dia benar-benar tenggelam di dalam kamar Sakura. Keduanya masih berdiri di balik pintu, dan mendadak kebingungan menghampiri mereka. Dirga bertanya dimana dia harus tidur, lantaran kasur milik Sakura tidak begitu besar—walaupun cukup untuk dua orang.


"Biasanya, gue di sini," kata Sakura yang lebih dulu menaiki tempat tidurnya dengan wajah malu.

__ADS_1


"Berarti gue di sebelahnya," balas Dirga yang sama malunya.


Di atas kasur itu, dua orang tersebut hanya memandang langit-langit kamar tanpa obrolan apapun. Iya, hal itu dikarenakan Dirga yang tidak mau mengganggu Sakura. Toh, kata Sakura, dia sudah mengantuk. Memang lebih baik jika membiarkan wanita itu untuk mengistirahatkan dirinya sendiri.


Akan tetapi, ketika Dirga mencoba untuk menoleh ke sebelahnya, justru dia melihat wanita itu yang masih membuka kedua matanya, seakan belum mengantuk. "Kenapa nggak tidur?" tanya Dirga pada akhirnya.


"Belum ngantuk," jawab Sakura.


"Tapi, tadi lo bilang udah ngantuk," katanya dan melihat ekspresi wajah Sakura yang terkejut. "Ah, tapi lupain aja. Gue jadi ada temennya kalau emang lo belum mau tidur," tambahnya.


Keduanya kembali terdiam, Sakura masih setia menatap langit-langit kamarnya. Berbaring di sebelah Dirga seperti ini, membuat wanita itu berpikir kembali untuk menahan diri untuk tidak bercerita tentang pertemuannya dengan Riana. Apalagi setelah mendengar kalimat Dirga yang membuatnya merasa seperti dipedulikan.


"Dirga," panggil Sakura.


"Kalau semisal gue cerita sesuatu lagi, lo mau dengerin, nggak?" tanyanya.


"Tanpa lo minta, gue pasti dengerin,"


Sakura menyatukan kedua tangannya di atas selimut, dengan sedikit keberaniannya, pada akhirnya wanita itu membuka suara tentang pertemuan yang bersama dengan Riana tadi siang. Sakura pikir, Dirga pasti akan merasa dikhianati ketika tahu jika dia dan Riana telah bertemu dan membicarakan tentang barang bukti. Jujur saja, Sakura sendiri khawatir jika hal tersebut akan mempengaruhi hubungannya yang bisa membuat mereka menjauh. Sakura belum siap.


Pun wanita itu bergegas mengambil futsalnya yang berada di atas nakas, lantas membuka pesannya bersama dengan Riana tadi. Wanita itu segera menunjukkan gambar yang dikirimkan oleh Riana, yang mana itu merupakan pakaian terakhir yang dipakai oleh Ryan saat kejadian itu.


"Tadi siang, gue ketemu sama Riana. Katanya, dia punya bukti waktu kejadian itu. Dan itu yang dia kirim," kata Sakura.


Dalam hati Dirga, dia sudah mendung hal ini. Akan tetapi, memang dirinya belum melihat foto yang sempat dikirim oleh Riana tadi. Beruntung, karena Sakura agar yang menunjukkan foto tersebut padanya. Dirga sendiri hanya bersikap sekolah dia tidak mengetahui apa-apa sebelum wanita itu bercerita.

__ADS_1


"Apa aja kata dia?" tanya Dirga.


"Ya, dia cuma mau gabung sama kita. Dan bukti ini buat jadi jaminan supaya dia gabung sama kita," jawab Dirga.


Laki-laki itu menyerahkan kembali ponsel Sakura, dirinya terdiam seraya berpikir keras. Kedua alisnya tertekuk bersamaan, seakan menandakan jika dirinya benar-benar mencoba untuk membaca cara bermain Riana. Bukan apa-apa, tapi yang dibutuhkan mereka berdua memang hanya barang bukti itu, dan setelahnya mereka akan lebih mudah mengurusnya. Tetapi, jika membiarkan Riana gabung bersama dengan mereka berdua, Dirga khawatir dengan gadis tengil itu yang sulit untuk ditebak.


"Terus, dia minta apa?" tanya Dirga lagi.


"Bukan dia, sih. Tapi, gue minta supaya dia bawa barang bukti itu ke tempat yang tadi buat pertemuan kita berdua," kata Sakura.


Dirga mengubah posisinya menjadi menyamping, begitu pula dengan Sakura, sehingga membuat mereka saling berhadapan. Dirga menatap lengkap kedua manik wanita di hadapannya itu, salah satu tangannya membelai kepala Sakura, menyalurkan penuh afeksi sampai membuat Sakura merasa tenang.


"Nggak apa-apa, lo lakuin aja yang lo minta itu. Setelah itu bilang ke dia, kalau kita bakal pikirin lagi. Supaya bisa ngulur waktu buat mikir," tutur Dirga.


Sakura sampai menganggukan kepalanya beberapa kali setelah mendengar penuturan itu. Rasanya, dia menjadi tenang setelah mengatakan yang sebenarnya pada Dirga. Sebab masalah ini mereka berdua yang menyelesaikannya. Lantas dia tersenyum ketika Dirga masih mengusap kepalanya. Keputusan untuk bercerita memang sudah benar.


Disaat mereka mulai mengesampingkan masalah tersebut, secara tiba-tiba Dirga melebarkan kedua tangannya, seakan memberikan jalur untuk Sakura mendekat. Entah kenapa, sebuah senyuman lahir begitu saja bersamaan dengan tubuhnya yang mendekat ke arah laki-laki itu, bersembunyi di balik dada bidangnya.


"Nggak nyesel gue minta nginep di sini," ucap Dirga yang terdengar jelas.


"Nggak nyesel juga, gue minta lo buat masuk ke kamar ini," balas Sakura.


"Emang, gue boleh dapet lebih?"


Sakura menatap wajah Dirga yang berada diatas kepalanya, dia masih memasang senyuman saat mendengar pertanyaan tersebut. Bahkan, tanpa ragu wanita itu memberikan ciuman pada Dirga.

__ADS_1


__ADS_2