Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Bertahan Sebentar


__ADS_3

Ryan pergi meninggalkan tempatnya berdiri, menghindari resiko yang akan didapatnya jika Dirga dan Sakura menyadari keberadaannya di sini. Dengan manik yang terlihat begitu tajam, dia melihat ke sekitarnya, diam-diam Ryan mengepal kedua tangan sebelum menyambar kunci mobilnya guna pergi meninggalkan tempat.


Laki-laki itu membawa laju mobilnya begitu cepat, sesekali terlihat meremat roda setir dalam pegangannya. Terlihat seperti ada amarah yang tengah dia tahan dalam perjalanannya. Dia sama sekali tak bisa bereaksi apapun, usai mendengar semua percakapan Sakura dan Dirga. Pasalnya, dia bisa bahaya jika memang mereka berdua memiliki rencana dibalik percakapan tadi.


"Bisa gawat kalau gue ketahuan mereka," kata Ryan pada dirinya sendiri.


Laki-laki itu segera menambah kecepatannya, bergegas menuju lokasi yang saat ini menjadi tujuan paling penting baginya. Ryan akan meminta bantuan pada orang itu, mencegah Sakura dan Dirga bertindak lebih jauh terhadapnya.


Perjalanannya membutuhkan waktu lebih dari enam puluh menit, dan mobil tersebut berhenti pada sebuah lahan parkir yang begitu sepi. Langkah tegasnya membawa laki-laki itu memasuki sebuah ruangan dengan beberapa petugas yang sedang bertugas di sana. Lantas berjalan masuk melewati sebuah lorong yang cukup panjang. Sampai kembali memasuki sebuah ruangan.


"Kenapa dateng ke sini?" tanya laki-laki yang duduk dihadapannya.


"Saya mau minta bantuan," jawab Ryan. "Mereka punya rencana terhadap saya. Sesuatu yang bisa membahayakan kita," katanya lagi.


"Cuma lo yang dalam bahaya,"


...****************...


Di tempat di mana Dirga dan Sakura berbincang, laki-laki yang memiliki tubuh besar itu keluar dari ruangannya setelah dia menyadari jika pembicaraannya bersama Sakura cukup membahayakan. Wanita itu juga baru tersadar jika dia seharusnya tak bercerita di tempat ini.


Dirga keluar dari ruangannya dan melihat ke seluruh ruangan yang biasa Ryan datangi. Akan tetapi dia sama sekali tidak melihat persensi sepupunya itu. Jujur saja Dirga merasa cukup lega karena obrolan mereka dia rasa cukup aman untuk dibicarakan. Kendati kamu mengetahui kejadian sebenarnya, Dirga memberitahu pada Sakura untuk tidak mengkhawatirkan hal tersebut—karena Dirga emang tidak mengetahuinya.


"Ryan nggak ada di sini. Mobilnya juga nggak kelihatan," ucap Dirga.


Tercetak jelas raut wajah penuh kelegaan dari Sakura. Dia akan menyesal sepanjang waktu jika Ryan mendengar obrolan mereka. Wajahnya yang sempat pucat, kini kembali seperti semula. Wanita itu menyadarkan tubuhnya pada sandaran sofa, mengusap dada dengan hati yang mulai kembali tenang.


"Udah, kita berhentiin obrolan ini. Nggak mau kalau nanti tiba-tiba Ryan dateng dan denger semuanya," kata Dirga yang mengakhiri obrolan tersebut.

__ADS_1


Sakura mengangguk, dia menurun dengan perintah dari laki-laki di hadapannya. Namun, sakura masih belum memiliki niatan untuk bangkit dari tempatnya duduk. Dia masih mencoba untuk berpikir sejenak tentang dari ucapan Dirga tadi malam. Wanita itu ingin membicarakannya, tetapi ragu lantaran Dirga sendiri juga telah memerintahkan untuk berhenti. Pun hanya helaan nafas yang bisa dia berikan. Memilih untuk menahan kalimatnya sampai mereka bisa membahasnya kembali.


"Maaf ya, tadi malam malah acaranya nggak berjalan bagus. Ada aja gangguannya,"


Secara mendadak Dirga berucap begitu, yang mana membuat sakura sedikit terkejut. Pasalnya, tadi malam bukanlah kesalahannya karena tidak bisa membuat acara makan malam mereka menjadi indah. Toh, arwah perempuan yang selalu mengikuti Dirga lah yang sulit ditebak kedatangannya.


"Nggak apa-apa, bukan kesalahan lo, kok,"


Membahas itu, tidak tahu kenapa, Sakura saat ini justru menjadi sosok arwah perempuan tersebut. Pasalnya, sama sekali tidak melihat keberadaannya. Tubuhnya menegak, pandangannya sampai mengitari seluruh sudut ruangan Dirga, namun benar-benar tak terlihat apapun. Aneh sekali. Arwah itu akan muncul dan menghilang sesukanya. Ya, Sakura masih penasaran akan hal tersebut.


"Oh iya," suara Dirga memecahkan atensinya. Pun Sakura menoleh ke arah laki-laki tersebut. "Ini,," kata Dirga lagi.


Sakura memperhatikan sebuah kotak kecil yang diberikan kepadanya. Kedua alis Sakura sempat tertekuk lantaran kebingungan, dia membuka kotak tersebut dan menampilkan sebuah cincin yang cukup berkilau.


"Lo ngelamar gue?" tanya Sakura.


"Bukan. Itu yang lo minta waktu itu," kata Dirga.


"Ah.. maaf, gue nggak inget pernah minta ini," kata Sakura dengan sedikit rasa malunya.


Pun wanita tersebut melihat keseluruhan sisi cincin yang ada di tangannya saat ini. Dia mencoba untuk mengamatinya dengan begitu jelas, dengan harapan besar bisa menemukan sesuatu yang tak dia ketahui. Namun, yang ia lihat saat ini hanyalah angka yang tidak dia ketahui maknanya.


"Ini berarti cincin punya hantu itu, kan?" tanya Sakura memastikan, pun langsung dijawab dengan anggukkan kepala oleh Dirga.


"Gue simpen ya, sekalian gue pikirin kira-kira angka apa ini,"


"Simpen aja. Gue juga nggak butuh cincin itu, kok," balas Dirga.

__ADS_1


Sakura segera memasukkan cincin tersebut ke dalam tasnya. Belum saja benar-benar meletakkan dengan rapi, dia telah dikejutkan dengan kalimat Dirga lainnya. Dan itu sukses membuat Sakura tampak linglung.


"Suatu hari nanti, gue janji kasih yang lebih bagus dari itu,"


Sakura yang sedari tadi tak mengubah posisinya justru mengerjap beberapa kali dengan pandangan yang masih terarah pada isi tasnya. Dia menelan ludah sedikit kesulitan, namun tetap berusaha untuk tenang sebelum akhirnya mengangkat wajahnya kembali.


"Se-selesein dulu masalahnya. Jangan bahas yang aneh-aneh," kata Sakura.


Melihat reaksi Sakura, Dirga tertawa kecil, lantas menyangga kepalanya di atas meja dengan salah satu tangan. Tatapannya masih terarah pada wanita di hadapannya itu. Enggan untuk mengalihkan pandangannya.


"Apa, sih? Ngelihatin terus," kata Sakura yang perlahan merasa tersipu karena tatapan itu.


"Cuma ini yang bisa gue lakuin sekarang," balas Dirga.


"Mending di luar, kalau ada pengunjung dateng bisa lo layanin. Apalagi Ryan lagi keluar," timpal Sakura tak mau kalah.


"Mending di sini. Lagipula, ada banyak karyawan di sana,"


Sakura tak bisa membalasnya lagi, dia memilih untuk bangkit dan berniat untuk pergi dari ruangan Dirga. Sepertinya, Sakura tak bisa terlalu lama berada di sana. Ia tak mau jantungnya terus berpacu hingga membuatnya tak nyaman sendiri.


Hendak akan melangkah, secara mendadak Dirga menahan lengannya. Membuat Sakura menatap laki-laki itu dengan pertanyaannya. "Kenapa?"


Dirga hanya terdiam seraya menatapnya, dia juga memberikan senyuman tipis pada wanita tersebut sebelum akhirnya membuka suara. "Apa gue pernah bilang kalau gue suka sama lo?" tanyanya.


"Belum," ucapannya itu dia lontarkan tanpa ia sadari lantaran tatapan Dirga sukses membuatnya tenggelam. Pun dengan cepat pula Sakura menyadarkan dirinya. "Eh," dia terkejut sendiri dengan menutup mulutnya.


"Tunggu sebentar lagi. Gue bakal ngomong secara resmi di hadapan lo,"

__ADS_1


__ADS_2