
Terdengar suara bel pintu yang berbunyi, menandakan seseorang baru saja membuka pintu kaca tersebut. Seorang pembeli pertama yang menginjak toko kue milik Sakura yang dibuka sejak dua jam lalu. Dia menampilkan senyuman ramah guna menyambut pembeli tersebut, membiarkannya menikmati toko kue ini. Dalam hatinya, dia hanya berharap jika tempat ini memuaskan.
Wanita itu cukup memperhatikan dari kejauhan, dengan wajahnya yang masih terlihat begitu bahagia dan jantungnya yang berdebar. Dirinya hanya duduk di salah satu bangku, seraya beristirahat, namun baru Sakura sadari jika dia sama sekali belum mendapatkan kabar dari kekasihnya. Pun dia mengeluarkan ponsel, memeriksa pesan dan panggilan—barangkali Sakura melewatkannya. Hanya saja, tak ada satupun pesan maupun panggilan yang menyambar ponselnya.
"Apa dia sibuk, ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Ya, wanita itu sama sekali tidak meletakkan rasa curiga atau apapun itu. Pikirannya sangat positif terhadap Dirga yang tidak memberikan kabar padanya. Sakura mengembalikan ponselnya kembali ke dalam saku, kembali fokus pada pekerjaan ini tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya. Toh, dia merasa yakin jika Dirga pasti akan mengabarinya.
Diwaktu yang sama, Dirga masih berada di rumah sakit. Dia masuk ke kamar wanita yang menjadi korban itu lantaran dirinya ingin memeriksa keadaannya langsung. Ditambah, dia belum bisa menghubungi keluarga korban. Mana mungkin dia meninggalkan begitu saja, walaupun Dirga lah yang akan membayar semua biaya rumah sakit.
Laki-laki itu duduk di kursi, memandang wanita yang tak dia ketahui identitasnya itu masih tak sadarkan diri. Dirga sempat menghela nafasnya cukup panjang, dia tak akan berbohong jika dirinya merasa kacau hari ini. Maniknya juga mengamati perut wanita tersebut yang sama sekali tak dia perhatikan sama sekali sejak tadi. Memang, perutnya tampak sedikit besar, namun Dirga tidak tahu jika ada nyawa lain di dalamnya.
Baru ada sedikit kelegaan usai mengetahui keadaan wanita dan kandungannya. Dia hanya perlu menunggu sampai wanita itu tersadar. Tentu saja dia harus! Bagaimana dia bisa meminta maaf jika langsung pergi meninggalkan wanita itu sebelum tersadar?
Dirga hendak menunggu di luar kamar tersebut, namun salah satu tangannya ditahan oleh wanita tersebut. Sudah jelas Dirga terkejut, karena pada akhirnya wanita tersebut memberikan kelegaan lainnya untuk Dirga. Pun niatan awalnya itu dia batalkan, memilih untuk kembali duduk. Perlahan dengan jelas kedua manik wanita tersebut terbuka lebar, dan wanita itu juga melihat keberadaannya.
"Saya lega, mbaknya akhirnya sadar juga. Tunggu sebentar, biar saya panggil dokter," tutur laki-laki itu.
__ADS_1
Akan tetapi, hendak bangkit dari kursi, wanita itu kembali menahan Dirga. Laki-laki itu hanya bisa memasang raut wajah kebingungan saat meletakkan tubuhnya kembali. Dugaannya mengatakan, jika wanita tersebut ingin menyampaikan sesuatu padanya, Dirga memasang telinganya.
"Tolong menikah dengan saya,"
...****************...
Awal yang bagus untuk hari pertama toko kue dibuka. Bersama dengan beberapa karyawannya, Sakura membagikan berita baik ini pada mereka. Bagaimanapun juga, para karyawannya juga bekerja keras untuk toko kuenya ini.
"Sebentar lagi mungkin hujan deres," kata salah satu karyawannya.
"Oh iya?" Sakura penasaran, dia turut melihat perkiraan cuaca dari ponsel karyawannya itu. "Kalau begitu, kita jangan berharap terlalu tinggi buat hari ini. Kemungkinan toko bakalan sepi karena hujan," tuturnya pada karyawannya di sana.
Dirasa tak bisa menahan lebih lama lagi, akhirnya Sakura memutuskan untuk menghubungi laki-laki itu lebih dulu. Tidak mungkin Dirga akan bekerja selama berjam-jam tanpa beristirahat. Paling tidak, jika memang laki-laki itu masih sibuk, dia bisa menolak panggilannya. Tetapi, Dirga sama sekali tidak menjawab maupun menolak. Panggilannya tersambung, tapi Sakura tak tahu kemana keberadaan Dirga sekarang.
"Gue nggak punya nomer sekretarisnya," kesal Sakura yang disertai dengan decakan.
Wanita itu berdiri di belakang pintu, memandang keadaan jalanan di luar toko kuenya. Bahkan, pandangannya juga terarah pada langit yang semakin lama semakin dipenuhi oleh awan gelap. Dulu, hujan selalu membuat dirinya senang, akan tetapi untuk sekarang dia tak yakin bisa menyukai hujan sama seperti dulu. Mengingat semua hal buruk yang Dirga alami ketika hujan deras. Tentunya, Sakura tak mau ada hal buruk seperti masa lalu dan sulit yang sudah mereka lewati.
__ADS_1
Sampai akhirnya dia melihat cipratan pertama mengenai kaca tokonya, semakin lama kaca bersih itu penuh dengan tetesan lain. Sakura menghela nafasnya panjang, lantaran keadaan di luar toko juga tidak begitu terlihat karena curah hujan yang tinggi. Wanita itu kembali bergabung dengan para karyawannya, dia secara tiba-tiba terkejut ketika ponselnya bergetar. Dengan cepat memeriksa jika sang kekasih yang menghubungi.
"Akhirnya, dia ngehubungin gue," ucapnya sebelum menjawab panggilan tersebut. "Halo?"
"Ra, maaf baru ngabarin," kata Dirga.
"Nggak, nggak apa-apa. Tapi, dari tadi kemana aja? Kenapa susah dihubungin?" tanya Sakura.
"Sibuk, Ra. Oh ya, cuma mau ngasih tau aja, kalau sampai nanti malam nggak ada kabar, berarti aku lembur," kata Dirga.
Di sana Sakura bisa bernafas dengan lega, setidaknya dia telah mendengar kabar Dirga saat ini. Ya, walaupun setelah ini dia tak akan mendengar kabar laki-laki itu karena harus melembur. Walau Dirga tak melihatnya, wanita itu tetap menganggukkan kepalanya, memahami pekerjaan yang membuat kekasihnya itu ditelan kesibukan.
Hanya beberapa menit panggilan mereka berlangsung, pun Sakura kembali meletakkan ponselnya. Walah percakapannya ini tidak sebanding dengan dirinya yang harus menunggu berjam-jam lamanya, Sakura merasa sudah cukup. Mungkin memang hari ini dirinya tak bisa mengganggu kekasihnya dalam bekerja. Toh, kedatangannya tadi pagi sudah cukup membuat Sakura merasa sedikit bersalah, lantaran Dirga masih menyempatkan waktu ditengah-tengah kesibukannya.
"Padahal, belum malem. Tapi, gue udah mulai kesepian dari sekarang," gumamnya.
Wanita itu menarik nafas panjang, lantas membawa dirinya masuk ke dalam ruangan miliknya. Dia mengistirahatkan diri di sana sendirian. Dirinya merasa lelah, kendati tak melakukan banyak hal. Mungkin, seluruh tenaganya habis untuk menunggu kabar dari Dirga yang membuatnya risau sejak tadi.
__ADS_1
"Tapi, kenapa suara dia kayak lesu banget, ya? Sebanyak itukah kerjaannya? Andai gue bisa dateng ke sana," gumamnya tiada henti.
Wanita itu menyandarkan kepalanya pada kursi yang saat ini dia duduki. Merasakan dinginnya pendingin ruangan ini sembari menjernihkan kembali pikirannya. Namun, dia segera menegakkan tubuhnya dengan manik yang terbuka lebar. "Apa gue dateng aja ke sana? Sekalian gue bawain makan malem,"