Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Menyerah Sesaat


__ADS_3

"Waktu masih kuliah, dia punya pacar. Gue sama sekali nggak kenal dia waktu itu. Tapi, pacarnya sering nemuin gue," Dirga memulai ceritanya dimasa lalu. Dia menyatukan kedua tangannya dengan pandangan terarah pada lantai. "Gue juga nggak tau kalau perempuan itu pacarnya dia. Jadi, setiap dia nemuin gue, gue nggak pernah anggap dia gimana-gimana. Sewajarnya teman aja. Tapi, kadang ada momen dimana bikin gue senyaman itu ngobrol sama dia. Singkat cerita, gue nyatain perasaan gue ke cewek itu. Nggak lama, cowoknya dateng dan ngejajar gue. Detik itu juga ceweknya ngajak putus," tutur Dirga.


Sakura tak bisa menimpalinya dengan kalimat apapun. Dia tak menyangka dendam itu sampai sebesar ini, membuat kehidupan masa kini mereka sama-sama terganggu. Tapi, kenapa laki-laki itu melakukannya pada semua mantan Dirga? Sedangkan Dirga saja tidak menjadikan perempuan itu sebagai kekasihnya.


Wanita itu menarik nafasnya panjang, dia menatap Dirga dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Dirinya memeluk tubuh Dirga dari samping, memberikan sentuhan lembut terhadap laki-laki tersebut. Pasalnya, mengingat kejadian masa lalu bukanlah hal yang mudah, apalagi bukan hal baik. Pun Dirga sendiri sampai terkejut kala mendapatkan pelukan tersebut.


"Ya udah, nggak apa-apa. Itu 'kan masa lalu," tutur Sakura.


Dirga tersenyum mendengarnya, dia menempelkan kepalanya pada kepala Sakura. Akan tetapi, wanita itu langsung menjauhkan tubuh keduanya dengan alis yang tertekuk, serta bibir yang mengerucut.


"Kenapa?" tanya Dirga kebingungan.


"Ternyata, banyak juga perempuan yang lo suka," katanya.


Laki-laki itu sampai tak bisa bersuara, hanya mengerjap beberapa kali. Ia juga hanya mendengus sebelum memalingkan wajahnya ke lain arah. Salah satu sudut bibirnya terangkat mendengar kalimat wanita tersebut. Padahal, dia baru saja terbawa dengan suasana yang diciptakan oleh Sakura. Lantas salah satu tangannya terarah pada pucuk kepala Sakura, mengacak rambut wanita tersebut.


Mendapat perlakuan seperti itu membuat hati Sakura terasa menghangat secara mendadak. Perlahan dia juga tersenyum lembut, merasa begitu nyaman dengan sentuhan Dirga.


"Pesen makan, yuk. Gue laper," kata Sakura.

__ADS_1


Tanpa menunggu waktu lama, Dirga langsung menganggukkan kepalanya. Dengan segera wanita itu mengambil ponselnya guna memesan makanan. Keduanya akui, berpikir keras juga menggunakan banyak energi.


...****************...


Sakura memperhatikan Dirga dari perpotongan dinding, yang mana melihat laki-laki itu masih menatap layar ponsel dengan raut wajah yang tampak serius. Dirinya yakin seratus persen, jika Dirga masih mencari tahu lebih banyak lagi tentang laki-laki dimasa lalunya. Wanita itu hanya bisa diam dengan melipat bibirnya, tanpa bisa membantunya.


Tak ingin tertangkap Dirga karena terlalu lama memperhatikannya, Sakura memilih untuk masuk ke dalam dapur guna mengambil peralatan makan yang akan mereka gunakan nantinya. Sedangkan Dirga sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.


Apa yang dilakukan laki-laki itu sejak tadi? Hanya menatap layar ponsel seraya menunggu kabar terkini dari orang yang ia suruh untuk mencari informasi mengenai seseorang yang sering dikunjungi Ryan saat di penjara. Bersamaan dengan kedatangan kurir pengantar makanan. Dirga meninggalkan sejenak ponselnya, menerima pesanan mereka.


Kedua langkahnya telah berada di ambang pintu, menyaksikan Sakura yang berdiri dengan pandangan terarah pada layar ponse Dirga yang menyala. "Kenapa?" tanya laki-laki itu saat melihat perubahan raut wajah Sakura.


Buru-buru Dirga menghampiri guna melihatnya secara langsung. Dia sampai menekuk kedua alisnya, seakan tak yakin dengan informasi yang diberikan oleh orang suruhannya itu. Sungguh, perasaan dan kabar ditangannya sama sekali tidak berjalan bersamaan. Pun dia menatap Sakura dengan raut wajah linglung. Entahlah, dia tak tahu mau berbicara apa lagi. Bahkan terduduk dengan lemas. Jika begini, apa yang bisa mereka cari lagi?


Sakura duduk tepat di sebelah laki-laki itu. Dia merangkulnya, kembali memberi ketenangan pada Dirga untuk menyerah dengan hal tersebut. Atau mungkin bukan menyerah, melainkan memilih untuk membiarkan semua terungkap dengan sendirinya tanpa harus mereka memaksakan diri untuk mencari tahu.


"Nggak apa-apa. Kita pasti bakal tau siapa yang Ryan temuin di penjara," tutur Sakura.


Dirga mencoba untuk menarik nafasnya panjang, menenangkan pikirannya dan memilih untuk mendengarkan perkataan Sakura. Dia berusaha untuk tersenyum dan mengubah suasana di sana. Tidak seharusnya begini, bersama dengan Sakura hanya boleh membuat kenangan indah. Pun dia membuka bungkus makanan yang telah mereka pesan. Benar-benar melupakan kejadian hari ini.

__ADS_1


"Ya udah. Gue nggak akan mikir itu lagi," kata Dirga disertai dengan senyuman.


Mereka benar-benar telah melupakan hal ini, hanya fokus pada makanan yang sudah dipesan. Bahkan, Sakura juga meminta agar mereka berdua melepas ponsel dari genggaman.


Sisa waktu yang tersisa digunakan mereka untuk membicarakan banyak hal yang tidak berkaitan dengan masalah mereka sama sekali. Ya, ini salah satu cara mereka supaya bisa kembali mengisi tenaga.


"Dulu gue pengen banget punya adik perempuan. Supaya bisa ngerasain jadi kakak yang bisa ngelindungin adiknya. Tapi, setelah gue pikir, ada untungnya juga gue nggak punya adik atau saudara kandung. Perhatian nyokap sepenuhnya punya gue," kata Dirga yang menceritakan hal-hal tentangnya.


"Malah dulu, gue pengennya jadi anak tunggal. Supaya semua itu dikasih ke gue. Cuman, begitu adik gue lahir, justru gue yang pengen ngasih dia semua yang gue punya," balas Sakura.


"Kita berdua beda, ternyata," kata Dirga.


"Tapi, pada akhirnya gue bener-bener sendirian. Kehilangan nyokap, bokap, adik,"


"Nggak. Lo punya gue, punya ibu gue,"


Sakura tak bisa menyembunyikan senyumannya, seakan kalimat tersebut menjadi hiburan baginya. Wajahnya tak bisa menampilkan kebohongannya, benar-benar bersyukur dan bahagia secara bersamaan. Akan tetapi, dia merasakan getaran dari ponselnya. Wanita itu segera mengambil ponselnya dan memeriksa. Sebuah pesan dari Riana membuatnya terdiam, namun tetap harus menahan ekspresi sebelumnya, supaya Dirga tak curiga.


"Pesan dari siapa?" tanya Dirga.

__ADS_1


"Cuma dari operator,"


__ADS_2