
Tak ada yang ia pikirkan saat ini selain rasa bersalahnya. Sejak beberapa hari yang lalu hanya diliputi oleh rasa bersalahnya akibat keputusannya yang dia lakukan tanpa berbicara pada Dirga. Bahkan, keduanya sama sekali tak bertukar pesan. Entah karena Dirga ditelan kesibukan, atau memang rasa bersalahnya itu yang membuat Sakura berasumsi semacam itu.
Namun, wanita itu memilih untuk tidak menggunakan pikirannya untuk hal itu. Pasalnya, kekhawatirannya tersebut semakin membuatnya takut. Dia khawatir malah menghancurkan diri sendiri. Wanita itu juga memilih untuk mengurusi pekerjaannya yang saat ini harus di dahulukan. Kendati tak memberikan kabar, Sakura yakin jika Dirga bukan orang yang akan marah padanya dalam waktu yang lama.
Kini dia tengah memperhatikan dua orang pelajar yang terlihat sedang berdebat di dalam toko roti tersebut. Walau tak terdengar jelas, tapi Sakura menangkap isi pembicaraan mereka. Sampai salah satu dari mereka mendatangi Sakura.
"Permisi, kak. Apa roti ini ada yang isi daging? Kenapa semua tulisannya selai buah?" tanya Sakura.
Melihat jenis rotinya, Sakura menganggukkan kepala, membenarkan apa yang menjadi pertanyaan gadis di hadapannya itu. Akan tetapi, tepat setelah bertanya padanya, gadis itu kembali menghampiri temannya dengan raut wajah yang kesal. Dia merasa ditipu dengan temannya itu. Sakura tak berani ikut campur, dia hanya memperhatikan mereka yang akhirnya berpisah karena kecewa.
__ADS_1
Wanita tersebut hanya menggelengkan kepalanya, dia merasa tak tega dengan teman dari gadis tadi yang memasang raut wajah ketakutan. Sakura sampai menghela nafas panjang, lantaran dirinya juga merasa kasihan terhadap gadis yang bertanya padanya.
"Kenapa pertemanan nggak ada yang bisa saling jujur aja, ya?" herannya seraya menggelengkan kepala.
Sakura membawa tubuhnya untuk duduk dengan pikiran yang masih terbawa dengan peristiwa barusan. Kegiatannya mendadak terhenti, kepalanya terus berpikir lantaran dia merasa sesuatu yang sama terjadi padanya. Entahlah, Sakura belum menemukan hal tersebut. Dirinya hanya duduk dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
Semakin dia banyak berpikir, semakin Sakura tak menemukan jawabannya. Dia membuang nafasnya panjang, merasa dirinya tak mampu untuk banyak menggunakan pikiran yang terus mengusiknya. Wanita itu memijat kepalanya, menghilangkan rasa pening yang dirasakan sejak pikirannya terganggu.
"Rasanya, gue pengen cepet pulang," ucapnya dengan nada suara yang begitu lirih.
__ADS_1
Kala Sakura mencoba untuk menutup kedua matanya, disertai dengan kepala yang menempel pada dinding di belakang tubuhnya, wanita tersebut mencoba untuk beristirahat. Akan tetapi, waktu yang ingin dia gunakan untuk istirahat, justru terkecohkan ketika seorang membeli baru saja memasuki toko kue tersebut. Dirinya dengan sikap berada pada posisi melayani.
Pembeli tersebut masih bergerak memutar seluruh rak roti, yang mana sedang membaca setiap nama roti yang tertera di tiap raknya. Bukan seorang wanita tua, atau gadis muda seperti dia pelajar tadi, tetapi ini adalah seorang pria dewasa yang tampak rapi dengan setelan kasualnya. Sakura memang tidak meletakkan rasa curiga terhadap pembeli tersebut, hanya saja tatapan matanya tak bisa terlepas darinya. Mungkinkah karena jarang ada pembeli laki-laki di toko ini?
Wanita itu menghilangkan kepalanya lantaran tidak mau membuat pembeli tersebut merasa terganggu ataupun tidak nyaman karena tatapannya yang terus terarah padanya. Sejak tadi, Sakura juga belum melihat bentuk wajah dari laki-laki tersebut—hanya sekilas dari salah satu sisi wajah.
Sampai setelah beberapa menit pembeli tersebut mengelilingi rak, pada akhirnya dia berjalan dengan nampan yang berisi penuh dengan roti dan juga kue yang akan dia bayar. Entahlah, Sakura belum pernah melihat wajah itu sebelumnya. Tapi, dia seakan penasaran dengan sosok tersebut.
"Apa saya bisa membayar lebih dengan tambahan nomor telepon kamu?" tanya orang itu.
__ADS_1