
Di depan meja kerjanya, Dirga memegang kepalanya yang terasa pening. Dia berada di sana berjam-jam lamanya, lantaran pikiran laki-laki itu sangat kalut usai melewati hari berat ini. Apa yang dilakukannya sejak tadi hingga sekarang, masih belum hilang begitu saja. Bahkan, Dirga yakin tak akan semudah itu untuk dia musnahkan dari pikirannya. Pasalnya, dari semua kegiatannya hari ini, hanya di rumah sakit lah masalah yang membuat pikirannya berantakan. Bahkan, dia sama sekali tidak menyentuh pekerjaan.
Entah bagaimana orang tua dari korban yang secara tidak sengaja dia tabrak itu datang ke rumah sakit dan langsung meminta pertanggungjawaban Dirga. Seratus persen yakin, dia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun. Bertemu dengan wanita itu saja karena kejadian yang tidak dia inginkan. Dan sekarang Dirga sudah dicap sebagai laki-laki yang telah menghamili putri mereka.
Dia tak akan berbohong, jika pikirannya saat ini ingin mengumpat dan meluapkan seluruh emosinya. Posisinya saat ini berubah menjadi korban dengan tuduhan yang tidak benar, ditambah wanita itu sama sekali tidak menjelaskan yang sebenarnya. Bahkan, ikhsan telah berkata jujur jika dirinya telah memiliki kekasih, Dirga malah mendapatkan satu pukulan keras dari ayah wanita tersebut.
"Gimana caranya gue jelasin ke Sakura sama ibu? Apa bisa gue nutupin ini dari mereka?" tanyanya yang kebingungan.
Sekilas Dirga melihat pada jam yang ada di atas meja kerjanya. Laki-laki itu tidak menyadari jika saat ini sudah menunjukkan waktu sepuluh malam, dan dirinya masih berdiam di meja kerjanya—karena tidak menyelesaikan pekerjaan apapun. Dia hanya bisa menghela nafasnya, penuh dengan rasa tekanan.
"Besok, gue bakal minta dia ngelakuin tes DNA. Supaya gue terlepas dari semua ini," katanya.
Dia harus yakin untuk melakukan ini, memastikan jika Dirga bukanlah laki-laki yang mengambil wanita itu. Dia sama sekali tidak merasa melakukannya, jadi dia tidak akan membiarkan namanya jelek atas tuduhan yang tidak berdasar.
Di tengah apakah pikiran yang sedang mencoba untuk melawan tuduhan itu, Dirga terkejut ketika pintu ruangannya terbuka begitu saja. Yang membuatnya lebih terkejut adalah kedatangan sang kekasih tanpa sepengetahuan dirinya. Sakura juga tidak memberitahu terlebih dahulu jika ingin mendatangi kantornya. Dan hal itu sudah terlanjur terjadi, Dirga tidak dapat menghindarinya, dan lebih memilih untuk memalingkan wajahnya—bagaimana jika Sakura melihat bekas pukulan yang dia dapatkan?
Itu adalah ketakutannya, yang mana ketakutan itu menjadi kenyataan. Kekasihnya sudah terlanjur melihatnya, percuma usaha menghindarinya. Apalagi ketika dia melihat raut wajah khawatir Sakura.
"Dirga!! Wajah kamu kenapa?!"
__ADS_1
Sakura segera menangkup kedua pipi Dirga, melihat beberapa luka memar di wajah kekasihnya. Wanita itu sama sekali tidak bisa menutupi kekhawatirannya, lantaran Sakura sama sekali tidak berekspektasi semacam ini. Kedatangannya ke sini, hanya untuk membawakan bekal makanan laki-laki itu dan juga menemani Dirga sampai laki-laki itu selesai bekerja. Hanya saja, hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan Dirga.
"Katanya mau ngelembur, tapi kenapa muka malah babak belur?" tanya Sakura sangat khawatir.
"Nggak, ini beneran nggak apa-apa, kok," balas Dirga yang tidak ingin membuat kekasihnya itu khawatir.
Tapi percuma saja, mana mungkin sakura tidak akan khawatir melihat kekasihnya yang memiliki beberapa luka memar di wajahnya. Dan yang ada, menjadikan Dirga sulit untuk mencari alasan. Mau tidak mau, dia hanya menggunakan cara klasik untuk menghindari pertanyaan sakura lainnya.
"Ini tadi kenapa bola tenis. Sebelum ke sini, aku sempat main tenis sama temen-temen," alibinya.
Mendengar kalimat Dirga tersebut, Sakura hanya terdiam. Dia tidak yakin dengan apa yang dijelaskan oleh Dirga. Pasalnya, kekuatan lemparan bola tenis tidak akan sekeras itu untuk membuat wajahnya memar. Akan tetapi, Sakura hanya bisa mempercayainya saat ini, dia tidak bisa memaksa kekasihnya untuk bercerita. Toh, Sakura juga tidak tahu bagaimana suasana hati Dirga saat ini.
Pun keduanya juga sama-sama terdiam setelah memasuki mobil dan meninggalkan area perkantoran itu. Di pangkuan wanita tersebut, terdapat dua porsi makanan yang sengaja dia beli untuk Dirga dan juga dirinya makan malam bersama. Namun, malah mereka saat ini dalam perjalanan pulang.
"Mau makan dulu, nggak? Di dalam mobil juga nggak apa-apa. Biar aku suapin,"
Sekilas Dirga melihat ke arah makanan yang ditunjukkan oleh Sakura. Jika dia bisa berkata dengan jujur, Dirga sedang tidak ingin makan, dia tidak memiliki nafsu apapun sejak tadi. Hanya saja, dirinya tidak ingin membuat sang kekasih merasa usahanya sia-sia sudah membawakan makanan untuknya. Dengan setengah hati, dia menganggukkan kepalanya.
"Iya, boleh," katanya.
__ADS_1
Sakura akhirnya langsung mau menyiapkan makanan yang akan dimakan oleh kekasihnya itu. Dia langsung memberikan suapan demi suapan pada laki-laki tersebut seraya membiarkan kekasihnya mengendalikan mobil. Ini adalah makan malam paling sunyi yang pernah mereka lewati sejauh ini setelah menjalin hubungan. Kendati begitu, Sakura juga berusaha untuk tidak membuat situasi ini semakin terlihat buruk. Ya, dia anggap jika luka memar tersebut berasal dari pukulan bola tenis.
...****************...
Sesampainya di rumah Sakura, laki-laki itu hendak langsung meninggalkan rumah sang kekasih, akan tetapi dengan segera wanita itu menahannya. Dia meminta Dirga supaya masuk terlebih dahulu ke rumahnya.
"Sebentar aja," pinta wanita itu.
Hanya dengan satu hembusan nafas panjang, akhirnya dia nggak mau menuruti apa yang diminta oleh sang kekasih. Mereka berdua masuk bersama ke dalam rumah tersebut, dan Sakura meminta supaya laki-laki itu menunggunya sebentar sampai dia kembali lagi ke ruang tamu ini.
"Mau apa, sih?" bingungnya seorang diri.
Laki-laki itu menyadarkan tubuhnya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Dia merasa sedikit santai setelah memasuki rumah sang kekasih. Dan setelah dia menunggu beberapa saat, kedua telinganya menangkap suara derap langkah yang mendekat ke arahnya. Tentu saja, suara itu berasal dari Sakura. Di kedua tangan wanita itu, Sakura membawa kotak obat yang dia letakkan di atas pangkuannya—usai duduk di sebelah laki-laki itu.
"Luka itu perlu diobatin supaya cepet sembuh," kata wanita tersebut.
Dirga hanya memperhatikan setiap pergerakan tangan Sakura ketika mengambil obat luka. Dia memasang senyumannya selagi menunggu sang kekasih, lantas salah satu tangannya menyentuh kepala Sakura dan memberikan usapannya dengan lembut sebelum membuka suaranya.
"Aku udah punya obat paling ampuh. Bisa ngobatin luar-dalam," ucapnya yang langsung tertawa kecil.
__ADS_1
"Dasar perayu ulung,"