
Apa yang harus Dirga lakukan?
Dia melihat Sakura harus menderita sendirian karena Hanna. Tapi, bukankah Hanna sudah mengetahui hal ini sejak awal? Bahkan, Dirga secara terang-terangan mengatakannya jika dirinya menyukai Sakura, begitu juga sebaliknya. Namun, kenapa tiba-tiba Hanna justru menyerang Sakura?
Karena telah membantunya membalas dendam? Bahkan, Hanna melakukannya sendiri tanpa bantuan Dirga dan Sakura. Lalu, kenapa harus menunggu Ryan terbunuh baru dia akan menyingkirkan Sakura? Semua usaha yang dilakukan oleh Dirga dan Sakura hanya sia-sia mencari bukti kuat dan segala macam hal yang akan digunakan untuk melawan Ryan. Bahkan, rencana yang telah dipikirkan pun juga tak ada gunanya sama sekali.
Dirga masih belum tahu untuk melindungi Sakura. Pasalnya, dirinya tak memiliki kekuatan apapun untuk melawan Hanna. Bahkan, Sakura yang bisa melihat keberadaan arwah perempuan itu saja tampak sangat ketakutan. Lagi-lagi Dirga harus terjerat dalam urusan rumit. Dirinya belum bisa memastikan hidupnya akan menyenangkan.
"Dirga," panggil sang ibu.
Sang pemilik nama menolehkan kepalanya ke asal suara. Ibunya baru saja masuk ke dalam kamarnya yang ternyata tidak tertutup rapat. Wanita paruh baya itu menghampiri Dirga yang tengah duduk di pinggir jendela kamar, melihat ke arah luar jendela. Laki-laki itu mengubah posisi duduknya menghadap sang ibu. Tak ada ekspresi apapun yang terpasang pada wajah laki-laki itu, pasalnya persoalan yang sedang dihadapi ini tidak membuatnya tertarik untuk tersenyum.
Sang ibu menatap dirinya beberapa detik, Dirga tau apa yang terbesit di kepala ibunya. Dia juga sudah menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan Sakura saat ini. Lawan mereka berdua tidak berubah. Dan hal itu sampai membuat adanya sedikit rasa kecewa di dalam diri sang ibu. Bagaimana tidak? Sejak awal dia menceritakan Hanna pada ibunya, sang ibu sudah meletakkan harapan besar jika penderitaan Dirga akan berakhir sebentar lagi. Tapi ternyata, ini jauh di luar ekspektasi. Sudah jelas, Dirga merasa bersalah pada ibunya itu.
"Ibu, aku minta maaf karena udah bikin ibu kecewa," kata Dirga yang merasa sangat bersalah terhadap ibunya itu.
Sang ibu masih terdiam, lantas menggelengkan kepalanya seraya memegang kedua tangan putranya. "Ibu emang sedikit kecewa, tapi ibu juga tau ini bukan hal yang bisa kalian kendalikan," balas ibunya.
Iya, memang kalimat itu yang ingin dia dengar dari mulut ibunya. Dalam dada Dirga terasa begitu menyesakkan karena dia juga menghancurkan harapan ibunya. Ya, dia juga tahu jika sang ibu pasti berbohong dengan kalimatnya yang hanya sedikit kecewa. Itu adalah kata yang tidak bisa Dirga percaya begitu saja.
__ADS_1
...****************...
Sore ini Dirga membawa dirinya berkeliling kompak rumahnya. Laki-laki itu berjalan dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana pendeknya. Pandangannya sama sekali tidak fokus, dan dilihat dari jauh pun orang-orang pasti bisa menebak jika Dirga memiliki masalah. Selain itu, model juga tidak memiliki banyak teman yang bisa membantunya. Soalnya dikarenakan dirinya yang sudah bertahun-tahun menjauh dari banyak orang, lantaran dirinya yang tidak mau melukai orang lain.
Karena langkah dan pandangan yang tidak fokus, laki-laki itu sampai tidak sengaja menabrak beberapa orang yang sedang bergerombol. Untuk orang yang dia tabrak itu bukanlah sekumpulan orang-orang jahat, yang mana rumahnya ibu-ibu yang sedang mengawasi anak-anak mereka sedang bermain bersama.
"Bu, saya minta maaf," kata Dirga.
Mungkin karena wajahnya yang tampan, gerombolan wanita itu merasa tidak dirugikan sama sekali. Justru beberapa dari mereka malah memuji wajah Dirga. Hal ini bukan hal-hal yang biasa dia terima dari para wanita, lantaran dirinya yang selalu menghindari selama bertahun-tahun. Dan saat ini dia malah mendapatkan hal tersebut. Laki-laki itu hanya bisa tersenyum kaku, merasa malu dengan apa yang dia terima saat ini. Pun laki-laki itu berdeham singkat,
Dirga justru tidak bisa pergi karena para wanita itu yang tampak mengepungnya. Wah, dia tidak bisa banyak berinteraksi dengan mereka. Namun, Dirga juga tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya.
Sampai pada akhirnya, dia mendengar suara wanita lain yang menyapa gerombolan wanita tersebut. Betapa leganya dia ketika melihat Sakura yang datang ke sini untuk menolongnya. Jujur, Dirga tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
"Iya, Mbak Sakura. Sekalian nyuapin anak-anak," ucap salah satu dari mereka.
Dirga sama sekali tidak menyangka jika ada orang yang mengenal Sakura. Pasalnya, ini adalah daerah rumah Dirga, tetapi tetangganya justru mengenal Sakura dibanding dirinya. Kapan wanita itu berkenalan dengan para tetangganya? Dia sama sekali tidak pernah mengetahui hal ini. Pun Sakura juga tidak pernah menceritakannya.
Terjadi obrolan di antara Sakura dan para tetangganya, laki-laki itu hanya menanggapinya dengan jawaban seperlunya. Ya, di sebelah Sakura, Dirga hanya memperhatikan mereka yang berinteraksi cukup akrab. Dirga kagum dengan wanita itu.
__ADS_1
Obrolan mereka tidak berlangsung lama, sampai akhirnya wanita itu menggandeng lengannya. Iya, Sakura mengajaknya pergi dari sana. Tapi, yang membuat laki-laki itu penasaran adalah kedatangan Sakura untuk menemuinya saat ini. Bahkan, wanita itu sama sekali tidak memberikan kabar untuknya jika akan datang menemui dirinya. Obrolan mereka terjadi ketika mereka berdua berjalan menuju rumah Dirga.
"Lo sejak kapan kenal sama mereka?" tanya Dirga.
"Belum terlalu lama. Toh, kue kenal juga karena sering dateng ke sini," jawab Sakura.
Dirga hanya menganggukkan kepalanya setelah memahami apa yang dikatakan oleh wanita itu. Dan dengan cepat juga topik obrolan itu berakhir dan berganti dengan hal yang perlu Sakura bicarakan pada laki-laki itu. Iya, tentang Hanna.
"Sekarang gue yang tanya," Sakura menjeda kalimatnya dan menatap laki-laki di sebelahnya. "Apa yang terlintas di kepala lo waktu lihat ibu-ibu tadi?" tanya Sakura.
"Cuma ibu-ibu yang lagi ngumpul sama nyuapin anaknya," jawab Dirga.
"Pikiran lo terlalu sederhana," Sakura menarik nafasnya panjang, sebelum dia kembali berbicara. "Anak-anak itu pasti takut sama ibunya. Ibu-ibu itu juga pasti bakalan marah kalau anaknya ngelakuin kesalahan, dan bahkan mereka nggak akan segan untuk ngehukum anaknya," katanya lagi.
"Iya, terus?"
"Kenapa nggak kita ibaratin aja Hanna sebagai anak, dan dukun itu sebagai ibunya?" Sakura melihat ekspresi Dirga saat ini, yang mana membuat laki-laki itu terdiam dengan kepala yang sedikit dimiringkan. "Kita buat dukun itu ngancem Hanna untuk ngehukum dia, supaya Hanna bisa balik baik lagi. Dan hal ini juga butuh bantuan lo. Karena dia pasti mau nurut sama apa yang lo ucap," pungkas Sakura.
Dirga tanpa ragu menolaknya, karena dia sudah menerima ketika rencana Sakura yang menyuruhnya untuk berkencan dengan hantu perempuan itu.
__ADS_1
"Nggak! Kenapa harus pakai bantuan gue? Seakan-akan, kalau gue itu juga suka sama dia," kesal Dirga.
"Lo tinggal pilih, mau selamanya begini atau ngelakuin yang gue bilang tadi,"