Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Penyesalan


__ADS_3

"Kenapa dari tadi Sakura nggak jawab telepon gue, sih? Kemana dia?"


Dirga berdialog sendirian dengan rasa khawatirnya lantaran Sakura yang sulit untuk dihubungi. Padahal, dia menghubungi wanita itu ketika jam istirahat. Bahkan, ketika Dirga menghubungi di jam kerjanya pun Sakura terkadang menjawabnya. Sejak tadi laki-laki tersebut tak bisa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Sudah lebih dari dua puluh kali dirinya menghubungi Sakura, namun tetap tak mendapat balasan apapun darinya.


Pribadi itu keluar dari ruangan, memilih untuk berada di lobi dealer guna menyegarkan pikirannya—kendati belum terlepas dari rasa khawatirnya pada Sakura. Dia duduk dengan kedua kaki yang saling bertumpu, merasakan tiap hembusan angin yang menerobos wajahnya. Dengan mata terpejam, dia merasakan saku celananya yang bergetar. Salah satu tangannya merogoh benda tersebut, lantas disusul dengan kedua bola mata yang membola lantaran melihat nama Sakura tertera di ponselnya.


"Akhirnya, lo nelpon gue juga! Dari man—"


Kalimatnya terpotong begitu saja, dia mendengar suara ketukan dari panggilan tersebut. Tentunya hal itu membuat Dirga kebingungan, dan suara itu terus terdengar. Dia memeriksanya guna memastikan jika panggilannya benar tersambung pada Sakura.


"Ra," panggilnya dengan saura lirih. Namun, dia masih tak mendapat respon apapun dari wanita tersebut. Disanalah Dirga mencoba untuk mendengar suara ketukan itu. "Tiga ketukan pendek, tiga ketukan panjang, tiga ketukan pendek," gumamnya saat mendengarkannya dengan seksama.


Detik itu juga Dirga loncat dari tempat duduknya, dia terkejut dengan makna dari ketukan tersebut. Sakura sama sekali tidak bersuara, membuatnya tak tahu dimana keberadaan wanita itu. Dia sampai menjambak rambut sendiri, lantaran frustasi dengan situasi ini. Laki-laki itu bergerak mencari Ryan, meminta bantuan sepupunya itu untuk menemukan Sakura.


"Kemana Ryan?" tanya Dirga.


Para pegawai yang lain sama sekali tak bisa menjawab, lantaran mereka juga tak mengetahui keberadaan laki-laki itu. Hanya saling melempar tatapan tanpa memberikan jawaban. Dirga tak bisa menahan kesabarannya, dia mengambil kunci mobilnya dan mulai bergerak keluar dari dealer. Lantas mengirimkan pesan pada Sakura untuk meminta lokasi wanita itu saat ini.


Hanya selang beberapa menit sebelum akhirnya dia mendapat pesan yang berasal dari Sakura. Dengan segera laki-laki itu mendatangi lokasi tersebut. Dirga sama sekali tidak berpikir tentang tempat apa yang akan ia datangi, seluruh perasaannya hari ini hanya tertuju pada Sakura. Anehnya, kenapa ia pergi ke tempat tersebut tanpa memberitahunya? Memangnya dia lupa, jika bahaya pernah mengancamnya?


Mobilnya melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, hanya demi menuju lokasi keberadaan Sakura. Dia juga berkali-kali menghubungi Ryan, yang mana panggilan itu sama sekali tak dijawab. Dia geram, tangannya meremas roda setir.


"Kemana juga si Ryan?!"

__ADS_1


...****************...


"Gimana ini?!"


Sakura masih panik lantaran orang-orang di sekitar mobil masih belum pergi. Sedangkan Riana meletakkan jari telunjuknya, meminta Sakura untuk diam lantaran dirinya juga dalam situasi berbahaya. Hanya ini yang bisa membuat mereka mengulur waktu sampai Dirga datang.


Sungguh, saat ini Sakura sangat menyesal mengikuti perkataan Riana untuk ikut bersamanya tanpa memberitahu Dirga. Dia sadar, jika hal ini malah membuatnya masuk ke dalam situasi berbahaya. Atau memang sejak awal dia tak perlu menerima bantuan apapun dari gadis di sebelahnya itu.


"Ada Ryan!" kata Riana dengan suara lirih.


Gadis itu menurunkan kepala Sakura menggunakan salah satu tangannya, berusaha melindungi Sakura dari pandangan laki-laki itu—kendati dia juga yakin jika bisa saja terlihat. Dan parahnya, Ryan mencoba membuka pintu mobil tersebut. Memang tidak berhasil, lantaran semua pintu yang terkunci membuat kedua wanita tersebut aman di dalam sana. Hanya saja, mereka tidak benar-benar aman, saat mendengar perintah Ryan untuk memecahkan kaca mobilnya.


Tak bisa mengendalikan rasa panik saat salah satu dari pria bertubuh besar itu telah mengarahkan linggis pada kaca mobil Riana. Mereka sudah tak bisa melakukan apapun jika saja mobil ini sungguh dirusak.


Arwah perempuan itu membantunya.


Sakura hanya bisa membelalakkan kedua matanya, lantaran sangat terkejut dengan apa yang tertangkap kedua retinanya saat ini. Tentu saja dia juga bingung di waktu yang bersamaan. Tepat setelah para pria tubuh besar tersebut jatuh tidak berdaya, Sakura melihat mobil Dirga yang tiba tepat di belakang mobil ini.


"Itu Dirga," katanya pada Riana.


Hanya saja, ketika Dirga tiba di lokasi ini, Ryan telah hilang begitu saja. Entah ke mana perginya, resensi laki-laki itu sudah tidak tertangkap oleh kedua mata. Pun Riana segera membuka seluruh pintu mobilnya, mendapati Dirga yang memasang raut wajah kesal dan khawatir.


"Bisa-bisanya lo ajak Sakura ke sini!" kesal Dirga. Dia tak bisa menahan seluruh kekesalannya akibat perbuatan Riana terhadap Sakura. "Kalau mau ngelakuin hal yang bahaya, lakuin sendiri!!"

__ADS_1


"Yang dalam bahaya bukan cuma dia!" balas Riana.


Dirga abai, laki-laki itu berjalan ke arah Sakura guna membawa wanita tersebut pergi dari sana. Sedangkan Riana hanya terdiam di tempat dengan hembusan nafas kasar. Walau keadaan kaca mobilnya hampir pecah, Riana tetap membawa mobil ini pergi bersama Dirga dan Sakura yang berada di depannya—dengan mobil Dirga.


Di dalam mobil laki-laki itu, Sakura hanya diam dengan pandangan yang tertunduk. Ia tahu, Dirga pasti akan memarahinya. Mana Sakura tahu jika hal buruk semacam ini akan terjadi padanya untuk yang kedua kali. Wanita itu sama sekali tidak berani melihat ke arah laki-laki yang berada di sebelahnya.


"Kenapa nggak jawab panggilan gue?" tanya Dirga dengan nada rendahnya.


Sakura masih diam, dia masih takut untuk menjawab pertanyaan dari laki-laki tersebut. Namun, ketika salah satu tangan laki-laki itu mengusap pucuk kepalanya, Sakura merasa jika Dirga lebih memilih untuk mendengar jawaban jujur.


"Maaf, Riana yang minta gue untuk ngerasain semua ini dari lo. Gue pikir—"


"Bukan itu pertanyaan gue," sela Dirga.


Secara mendadak Sakura menjadi linglung dan gugup. Dia mengerjap beberapa kali, menyadari pertanyaan yang tadi dia dengar. "Oh, itu.. gue s-sama sekali nggak denger kalau lo nelpon," katanya disertai rasa gugup.


Dari ekor matanya, Dirga aku kan kepala tanpa menimpali kalimatnya lagi. Bahkan, tepat setelah jawabannya itu, Dirga sudah tidak kembali berbicara dan memilih untuk fokus terhadap jalanan. Jujur saja, hal ini membuat rasa bersalah Sakura semakin besar.


"Dirga, gue minta ma—"


"Nggak usah minta maaf. Bukan salah lo,"


"Tapi—"

__ADS_1


"Ssspp.."


__ADS_2