Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Tak Terungkap


__ADS_3

Hanna berada di rumah Dirga. Hantu perempuan itu tengah memperhatikan semua kegiatan yang dilakukan oleh laki-laki itu dengan senyumannya. Dia menggunakan kedua tangannya sebagai penyangga dagu. Walau Dirga tak dapat melihatnya, hantu perempuan itu cukup bahagia berada di kamar laki-laki itu. Sungguh, senyumannya tak bisa luntur melihat laki-laki tersebut. Dia merasa seperti saat masih hidup di dunia ini. Sayangnya, hal tersebut sudah tak bisa dia rasakan kembali. Setidaknya, dia mewujudkan hal-hal yang tidak terwujud sebelumnya.


Akan tetapi, ketika laki-laki itu hendak mandi, secara mendadak pergerakan laki-laki itu terhenti begitu saja. Bahkan, dia kembali menutup dadanya yang telah terpampang.


"Kalau lo nggak keluar dari sini, gue bakal mandi di rumah Sakura," kata Dirga.


Wah, seakan mengerti adanya Hanna di kamar mandi ini, membuat hantu perempuan itu sangat terkejut. Hanna berdecak kesal, sebab itu dia memilih untuk mengalah. Walau dia sendiri juga tahu, bahwa ada atau tidaknya dia di sini, Dirga juga tak akan lihat. Namun, dengan rasa kesalnya Hanna keluar dari sana, duduk di pinggiran ranjang Dirga—menunggu laki-laki itu keluar dari kamar mandi.


Sungguh bosan menunggu sendirian, hanya menatap sudut ruangan yang setiap hari selalu dilihatnya. Tetapi, tidak menandakan jika dia akan pergi meninggalkannya dengan mudah. Bahkan, Hanna sendiri menyadarinya jika suatu hari dia juga akan meninggalkan rumah dan dunia ini—termasuk laki-laki yang telah dia sukai selama bertahun-tahun. Selama yang dia bisa, Hanna akan selalu berada di tempat ini.


Sampai lima belas menit kemudian, akhirnya Dirga keluar hanya dengan celana pendek yang menutup tubuh bawahnya. Bukan pemandangan baru, Hanna pernah lihat tubuh polos Dirga sebelum laki-laki itu mengetahui keberadaannya. Dan saat ini, hantu perempuan itu melihat laki-laki tersebut yang sedang me memilih pakaiannya.


"Dealer atau rumah Sakura," kata Hanna—seakan mengetahui kemana tujuan Dirga setelah ini.


Kedua mata Hanna masih memperhatikan bagaimana Dirga tampak menyiapkan dirinya sebelum akhirnya keluar dari kamarnya dengan penampilan terbaiknya. Kaos hitam yang dipadukan dengan celana jeans senada serta jaket hitamnya, berjalan keluar dengan membawa kunci mobil, menuruni satu persatu tangga rumahnya guna menghampiri sang ibu.


"Ibu, aku keluar dulu," ucap Dirga yang berpamitan pada wanita paruh baya tersebut.

__ADS_1


"Hati-hati," ucap sang ibu.


Dengan anggukkan kepala, laki-laki itu berjalan keluar rumahnya. Sekilas melihat ke arah langit yang cukup gelap, menandakan hujan akan turun. Namun, hal itu tidak membuatnya membatalkan niat untuk bertemu dengan seseorang—walau hingga saat ini dia masih tidak menyukai hujan. Pun akhirnya mobil itu tetap melaju, meninggalkan pelataran rumahnya.


Melihat waktu saat ini, dia akan menuju tempat kerjanya terlebih dahulu. Walau memiliki urusan pribadi, Dirga tetap harus menunjukkan dirinya sebagai pemilik yang baik untuk datang ke sana. Toh, dia juga harus menjadi contoh yang baik untuk pegawainya.


Sekitar tiga puluh menit berlalu, akhirnya Dirga tiba di tempat kerjanya. Akan tetapi, kedua alisnya langsung tertekuk saat melihat kekacauan yang terjadi di sana. Dengan cepat laki-laki itu keluar dari mobilnya, berlari guna menghampiri salah satu pegawai yang juga berdiri menatap tempat tersebut.


"Kenapa ini?! Kenapa banyak kaca mobil yang pecah?!" tanyanya dengan raut wajah yang begitu marah.


Dirga berjalan masuk, melihat seluruh mobil dengan kaca yang pecah dan berceceran di lantai. Tak hanya mobil, Dirga juga berlari ke dalam ruangannya, yang mana telah berantakan tidak karuan. Sungguh, Dirga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa pelakunya. Kedua tangannya terkepal kuat di kedua sisi tubuh.


Maniknya bergerak ke segala arah, mencari sesuatu yang sangat dia harapkan tertinggal di tempat ini. Akan tetapi, pelakunya terlalu pintar, sampai Dirga tak melihat adanya bekas sidik jari. Lantas pribadi itu bergegas membuka ponsel, dimana dia teringat kamera pengawas di ruangan ini terhubung pada ponselnya. Anehnya, Dirga sama sekali tidak mengenal siapa sosok dibalik topeng hitam tersebut.


"Walau gue nggak tau siapa yang ada dibalik topeng itu, tapi gue tau dia orang kiriman lo, Ryan," katanya dengan penuh amarah.


Laki-laki itu berjalan keluar dari ruangannya, meminta para pegawai untuk membersihkan segala kekacauan dan segera memperbaiki kerusakan pada mobil yang menjadi korbannya. Sedangkan Dirga kembali masuk ke dalam mobil dan melajukannya ke suatu tempat dimana dia bisa menemukan Ryan.

__ADS_1


Di sebelahnya, Hanna tak tahu harus bagaimana untuk berinteraksi dengan Dirga. Hantu perempuan itu juga panik tidak karuan lantaran ada sesuatu yang harus dia katakan pada Dirga. Akan tetapi, usahanya menyentuh laki-laki sama sekali tidak membuahkan hasil apapun. Ditambah Dirga hanya meletakkan seluruh fokusnya pada jalanan.


"Gimana ini?!" Hanna kebingungan juga.


Hingga akhirnya Dirga tiba di rumah yang biasanya Ryan tempati akhir-akhir ini. Hanya saja, pribadi itu kebingungan lantaran rumah Ryan justru tidak dijaga oleh siapapun—tidak seperti biasanya. Dan tanpa ragu Dirga memasuki rumah tersebut. Tidak ada yang aneh, karena masih terdapat banyak furnitur dan barang-barang milik Ryan yang berharga—mustahil untuk ditinggal. Tapi, Dirga juga tidak mendapati siapapun di dalam rumah ini. Bahkan, laki-laki itu sudah bergerak ke seluruh arah.


Salah satu tangannya mencoba untuk merasakan seluruh ruangan di rumah ini. Entah kenapa, dia merasa jika rumah ini telah ditinggalkan lebih dari satu hari—lantaran dia merasa udaranya yang pengap, serta beberapa furnitur yang terasa dingin.


"Kemana mereka semua?" tanya Dirga pada diri sendiri.


"Dirga!! Dirga!!" itu adalah usaha Hanna untuk memanggil laki-laki itu. Akan tetapi, usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil apapun. Dirga masih tidak bisa merasakan keberadaannya di sini. Hanna bingung, karena cincin yang dia gunakan tidak berfungsi untuk membuatnya menampakkan diri di hadapan laki-laki itu. "Ryan nggak di sini!! Dia pasti udah sama Sakura!!" teriaknya.


Hanna meras frustasi sendirian, dia tidak tahu harus bagaimana memanggil laki-laki itu dan memberi tahu apa yang dia ketahui. Hanya saja, sulit untuk melakukannya, karena tak ada yang bisa dia lakukan. Hanna mencoba untuk menyentuh segala benda di sana yang bisa dia sentuh—hantu itu tak menyangka, jika di tempat ini kekuatannya terasa begitu lemah.


Hingga hantu perempuan itu menemukan sebuah cermin yang berdiri di sudut ruangan. Dengan fokus dan usahanya yang besar, Hanna mencoba untuk menjatuhkannya. Dan ya, usaha itu berhasil, membuat Dirga berlari ke sumber suara. Selanjutnya, hanya kertas dan pulpen yang dia butuhkan untuk memberi tahu laki-laki itu. Hanna meletakkan kembali fokus dan seluruh usahanya. Namun, sempat terkecoh saat dia melihat adanya selembar kertas putih yang berada di bawah kotak yang berisi foto Sakura. Dengan segera Hanna menjatuhkan foto itu membuat Dirga tersadar mengambil kotak dan kertas di sana.


"Sakura ada di tangan gue" itulah kalimat yang tertulis.

__ADS_1


__ADS_2