
Dengan raut wajah yang tampak begitu serius, Sakura berjalan menyusuri jalanan sepi. Dia menuju sebuah mobil sedan yang terparkir di jarak beberapa meter di depannya. Wanita itu bersiap untuk membawa dirinya bertemu dengan Riana yang mengajaknya untuk melakukan sesuatu yang tidak dijelaskan oleh gadis itu. Ditambah dia tidak boleh memberitahu Dirga tentang pertemuan ini. Entahlah, Sakura sendiri juga tidak mengetahui tujuan dari yang bersifat tertutup ini.
Wanita itu baru saja memasuki pintu sebelah kiri. Di sana sudah terdapat Riana dengan sikap angkuh—seperti biasa. Sakura menoleh ke arah gadis itu mudah menanyakan secara langsung apa tujuan mereka bertemu hari ini. Sakura benci jika harus berbasa-basi terlebih dahulu.
"Cepet, kenapa lo ngajak gue ke sini?" tanya Sakura.
Tanpa menjawabnya dengan perkataan, Riana justru menggunakan dagu untuk menunjukkan sesuatu yang berada di depan mata mereka. Akan tetapi, yang saat ini Sakura lihat hanyalah sebuah mobil berwarna abu-abu yang termakhir cukup jauh dari mobil Riana. Wanita itu sampai menekuk kedua alisnya, lantaran kebingungan dengan jawaban Riana ini.
Walau Sakura sudah yakin jika dia tidak salah lihat objek di depan mata, tapi wanita yang masih bertanya-tanya. Ada apa dengan mobil yang terparkir di depan sana? Dan siapa pemilik dari mobil itu? Apa ada hubungannya dengan masalah yang sedang dia hadapi?
Tidak tahu berapa kali harus bertanya untuk mendapat jawaban, Sakura memilih untuk menutup mulutnya dan melihat apa tujuan mereka mengawasi mobil tersebut. Cukup lama berada di sini, tak ada gerakan yang terlihat begitu mencurigakan. Sakura juga hampir menyerah dan enggan untuk dipermainkan seperti ini. Tapi, ketika dirinya memutuskan untuk berhenti, tiba-tiba Riana menahan pergerakan tangannya supaya dirinya tidak keluar dari mobil.
"Gue nggak suka dibercandain begini. Lo udah sepakat mau bantu gue sama Dirga," kata Sakura dengan nada suara yang berat.
"Lo keluar sekarang, bakalan nyesel nggak lihat ini," kata Riana.
Dengan kalimat tersebut, Sakura sukses membuat dirinya mengurungkan niatan untuk pergi dari sana. Ya, wanita itu kembali melanjutkan mengamati mobil tersebut. Kendati dia masih belum mengetahui apa yang sebenarnya akan terjadi kedepannya.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya, hanya selang beberapa menit, dia melihat Ryan yang memasuki mobil abu-abu tersebut sebelum melaju meninggalkan lokasi. Sakura segera menoleh ke arah Riana dengan wajah yang terkejut. Memang pilihannya untuk tetap di sini adalah keputusan yang bagus, karena dirinya bisa melihat sendiri ke mana Ryan akan pergi.
"Cepet ikutin!" kata Sakura yang terlihat tidak begitu sabar.
Tentu saja, Riana juga segera menancapkan gas mobilnya guna mengikuti dari jarak aman mobil sang kakak. Gadis itu sempat menoleh ke arah sakura yang sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari mobil Ryan. Riana mendengus singkat, sebelum menggelengkan kepalanya. Jika saja Sakura tadi tidak mendengarkan ucapannya untuk tetap berada di mobil, dia tak akan melihat dengan tatapan bulat itu.
Sakura sama sekali tidak mengetahui tujuan yang akan ditempuh Ryan saat ini. Fokusnya hanya tertuju pada mobil yang sedang melaju di depan mereka. Dirinya tidak ingin kehilangan satu detik saja. Bahkan, beberapa kali tangannya menempuh lengan Riana agar menambah kecepatan supaya mereka berdua tidak kehilangan jejak.
"Lo tenang aja, kita berdua nggak akan kehilangan jejaknya," kata Riana yang terlihat begitu santai—berkebalikan dengan Sakura.
Karena pemandangan yang terlalu fokus dengan mobil Ryan, kita itu sama sekali tidak menyadari jika sejak tadi ponselnya bergetar. Terus menyala tanpa balasan dari Sakura.
"Yang bener, lo sama sekali nggak tahu daerah ini?" tanya Sakura yang mulai ragu.
"Lo sendiri juga dari tadi lihat gue cuma ngikutin mobil dia. Bahkan, kalau gue tau lokasi ini, nggak mungkin gue sempet kebingungan waktu mobil dia ngilang dari pandangan," balas Riana.
Sakura menoleh ke arah gadis di sebelahnya itu, dia mencoba mengamati raut wajah yang terpasang di sana. Jujur saja, dirinya sama-sama rindu kasih yang mereka kunjungi saat ini. Bisa dikatakan, Sakura masih cukup trauma dengan kejadian yang menimpanya saat itu. Tapi, sejak tadi Riana juga terlihat menjaga jarak dengan mobil Ryan. Mungkin memang dirinya bisa mempercayai gadis itu untuk mengikuti kemana Ryan pergi.
__ADS_1
Lantas setelah berjalan dengan waktu yang sangat lama, akhirnya mereka berdua menyaksikan secara langsung mobil tersebut berhenti di sebuah rumah yang cukup bagus. Kedua wanita itu menoleh ke segala arah, yang mana tidak terdapat banyak rumah warga di sana. Entahlah, mereka tidak tahu tempat apa yang didatangi oleh Ryan itu.
"Ayo, kita turun," ajak Riana.
"Jangan nyari masalah!" cegah Sakura memegangi pergelangan tangan Riana.
"Tapi, kita dateng ke sini juga udah jadi masalah," balas Riana.
"Ya, tapi jangan aneh-aneh. Bahaya kalau kita—" ucapan Sakura terpotong saat Riana menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Gadis di sebelahnya itu memberi tanda untuk diam lantaran melihat dua orang laki-laki yang memiliki tubuh besar sedang berjalan di sekitar mobil. Jujur saja, Sakura sangat takut akan hal tersebut. Bahkan, orang-orang berbadan besar itu mengintip melalui jendela kaca mobil tersebut. Demi apapun, jantung Sakura benar-benar ingin meledak, lantaran keadaan ini bukan keadaan yang dia inginkan.
Dalam batinnya, dia hanya bisa memanggil nama Dirga. Walau dia tahu sama sekali tidak akan berguna, berharap rasa takutnya juga menghilang. Kedua matanya juga hanya bisa bekerja dengan sekujur tubuh yang mulai merasakan getaran ketakutan. Telapak tangan Riana aku juga masih belum terlepas dari mulutnya, membantu Sakura untuk meredam suara yang akan mereka timbulkan dan menyebabkan kecurigaan terhadap dua orang yang sedang berada di mobil ini.
Dan yang lebih mendebarkan lagi, ketika dua orang laki-laki itu mengetuk jendela kaca mobil Rihanna beberapa kali. Berharap yang Sakura dan Riana berdua keluar dari mobil tersebut dan bertemu dengan mereka. Sakura sampai menggelengkan kepalanya begitu yakin lantaran mereka tidak ingin keluar dari sana. Semua pintu mobil pun juga sudah dipastikan terkunci dengan sempurna.
Keadaan hening tersebut semakin dihancurkan ketika ponsel sakura kembali bergetar. Menampilkan panggilan dari Dirga. Sekujur tubuhnya mulai merasa merinding ketika dia khawatir jika suara getaran ponsel yang akan terdengar sampai keluar mobil. Yang mana, menjadikan kecurigaan dua orang laki-laki itu semakin kuat. Dengan cepat dan gemetar, Sakura mematikan panggilan tersebut.
__ADS_1
"Keluar,"