
"Gantian bawa!"
Wajah kesal Sakura terpampang jelas ketika dia menghubungi Dirga dengan suara tegas. Wanita itu menatap pakaian Ryan yang tergeletak di atas meja ruang tamu. Sungguh, Sakura tak mau membawa benda mengerikan itu dalam waktu yang lama. Hidupnya seperti tak tenang karena benda tersebut.
Akan tetapi, Dirga malah menolaknya, padahal Sakura telah membawa benda tersebut sejak hari pertama dia mendapatkannya. Laki-laki itu selalu mengatakan dirinya masih berada di dealer, yang mana mengkhawatirkan jika Ryan akan melihat pakaiannya ada di tangan mereka berdua.
Setelah beberapa menit menghubungi Dirga, panggilan mereka berdua terputus dengan sendirinya. Sakura hanya bisa membuang nafasnya panjang, pasalnya dia sendiri harus mencari cara supaya pakaian Ryan bisa dibawa oleh Dirga. Dia sampai melipat kedua tangannya di depan dada, salah satu jarinya memegang dagu ketika otaknya sedang bekerja keras. Hanya selang beberapa menit sebelum akhirnya dia menjentikkan jari usai mendapatkan sebuah ide.
Tanpa ragu, wanita itu beranjak dari sofa ruang tamu dan bergegas menuju kamarnya untuk bersiap-siap sebelum pergi ke rumah Dirga. Itu adalah satu-satunya cara supaya baju milik Ryan itu berada di tangan Dirga. Tak apalah, sedikit menggunakan cara curang, supaya Dirga tahu, bahwa Sakura serius dengan ucapannya sendiri yang enggan membawa barang bukti itu terlalu lama.
Dan ini dia sudah berada di dalam taksi yang dia pesan beberapa menit lalu. Wajahnya tersenyum lebar ketika dia berhasil menemukan cara. "Kalau Dirga nggak ada, sekalian aja taruh di kamarnya," katanya pada diri sendiri.
Waktu yang tertera saat ini menunjukkan jika laki-laki itu tentunya belum pulang dari tempat kerjanya. Ini adalah kesempatan besar yang belum tentu bisa dia dapatkan di esok hari. Dia bahkan sengaja tidak membalas pesan dari laki-laki itu yang sejak tadi dia dapatkan hingga saat ini. Biarlah, salah siapa telah membuat Sakura kesal.
Dibalik rasa semangatnya untuk membawa benda ini ke rumah Dirga, secara tiba-tiba dia kembali terdiam. Ya, yang ada di pikirannya saat ini adalah wanita paruh baya yang merupakan ibunda Dirga. Sejujurnya, ada sedikit rasa khawatir jika wanita tersebut melihat barang bukti yang dia bawa. Tapi, mungkin tak apa jika dia menceritakan yang sebenarnya pada wanita tersebut. Toh, ibunda Dirga juga sudah terlanjur mengetahui semua masalah yang dihadapi Sakura serta Dirga.
Jika pada akhirnya taksi tersebut berhenti di depan pagar rumah Dirga. Wanita itu segera turun dan bergegas menuju pintu utama dari rumah tersebut. Dia mengetuk beberapa kali, menunggu sang pemilik rumah membuka pintu.
"Sore, tante," sapa Sakura lebih awal ketika ibunda Dirga yang membuka pintu tersebut.
__ADS_1
"Sore," balas ibunda Dirga seraya saling menempelkan kedua pipi sebagai bentuk sambutan. "Tumben sore-sore dateng ke sini. Ada apa?" tanya ibunda Dirga bersamaan dengan mengajak masuk wanita itu untuk duduk di ruang tamu.
"Maaf ya, tante, kalau kedatangan saya ke sini sedikit mengganggu. Tapi, saya cuma mau Dirga bawa barang ini," kata Sakura seraya menunjukkan pakaian Ryan yang ada di dalam tas.
"Baju siapa?" tanya ibunda Dirga.
"Itu baju Ryan yang terakhir kali dia pakai waktu kejadian di masa lalu," jawab Sakura.
Wanita paruh baya tersebut tak bisa berkata apapun, dia juga terkejut ketika Sakura telah berhasil mendapatkan barang yang selama ini mereka butuhkan. Akan tetapi, detik berikutnya sebuah senyuman tersemat di wajah keriputnya, seakan menandakan adanya cahaya terang yang menerangi.
Melihat hal tersebut juga membuat hati Sakura menghangat. Pasalnya, mereka mulai merasa jika sebentar lagi semua akan usai. Rasa khawatir sang ibu juga akan sirna sebentar lagi. Ibunda Dirga menganggukkan kepalanya, seakan akan menerima apa yang diminta oleh Sakura sekarang.
"Sakura tenang aja, baju ini biar tante yang amanin," timpal ibunda Dirga.
"Yah, lo curang ternyata,"
Itu adalah suara Dirga yang secara tiba-tiba muncul dari balik pintu. Sakura dan ibunda Dirga menoleh ke asal suara, dua wanita itu tersenyum ketika melihat presensi Dirga yang datang dengan wajah tergesa-gesa.
"Gue udah ngerasa, kalau lo bakal ngelakuin cara ini. Ditambah, semua pesan gue sama sekali nggak ada yang lo bales," kata Dirga seraya menghampiri kedua wanita tersebut.
__ADS_1
Laki-laki itu mengambil baju milik Ryan dari tangan ibunya. Dia meletakkannya kembali ke atas paha Sakura. Dirga masih belum mau membawa benda tersebut. Apalagi Sakura juga mengerti, jika Dirga ini yang paling sering bertemu dengan Ryan. Kemungkinan besar barang buktinya akan mudah dilihat laki-laki itu.
"Gue juga nggak mau lama-lama bawa barang itu. Gue takut," kata Sakura.
"Emang dasar nyusahin," kata Dirga.
"Gue nyusahin?!" kesal Sakura.
Dirga langsung tersenyum terpaksa, dia membungkukkan badannya, mensejajarkan wajah mereka berdua sebelum berujar. "Bukan, sayang. Bajunya Ryan yang nyusahin," kata laki-laki itu seraya mengambil baju Ryan dari atas kaki Sakura.
Ibunda Dirga tidak bisa menahan senyumannya setelah melihat cara putranya menggoda Sakura. Entah kenapa, hatinya semakin terasa bersemangat ketika melihat hubungan dua insan di hadapannya itu semakin jauh dan lengket. Ada hari lain yang dia tunggu, merasa ingin cepat memutar waktu, supaya hari itu bisa segera tiba. Tanpa ingin mengganggu, wanita paruh baya tersebut segera meninggalkan ruang tamu dan membiarkan Dirga bersama dengan Sakura. Setidaknya, Dirga sudah berhasil melepaskan diri dari ibunya—tidak bergantung lagi pada sang ibu.
Sakura hanya berdecak ketika mendengar kalimat Dirga barusan. Dia sampai memutar kedua bola matanya jengah. Dia ini masih belum menjadi kekasih Dirga, tapi laki-laki itu selalu bersikap dan berkata-kata manis, yang mana membuat rasa takutnya semakin bertambah. Bagaimana tidak? Dirga sendiri yang mengatakan jika dirinya harus menunggu, lantaran laki-laki itu khawatir jika suatu hari nanti bukan mereka akan terganggu karena permasalahan yang belum selesai. Entahlah, berapa kali Sakura harus memikirkan hal ini. Wanita itu juga ingin segera melepaskan pikiran tersebut dari kepalanya.
"Loh, ibu kemana?" heran Dirga.
"Kok gue nggak lihat?" heran Sakura.
Mereka berdua sama sekali tidak ada yang menyadari kepergian ibunda Dirga. Akan tetapi, hal tersebut membuat Dirga tersenyum sebelum kembali menoleh ke arah Sakura. Dia sadar, ibunya pasti tidak ingin mengganggu dirinya yang sedang bersama dengan wanita yang dia sukai itu. Dalam batinnya, Dirga sangat berterima kasih pada sang ibu yang peka terhadap situasi. Lantas laki-laki tersebut menangkup dua pipi Sakura akhirnya dia memberikan sebuah kecupan pada bibir wanita tersebut.
__ADS_1
"Ibu emang sayang kita berdua," pungkasnya dengan senyuman penuh rasa puas.