
Sakura benar-benar mendatangi rumah Dirga. Bukan untuk bertemu dengan laki-laki itu, melainkan bertemu dengan ibunda Dirga. Wanita itu membawakan beberapa makanan yang memang dengan sengaja dia beli untuk wanita paruh baya tersebut. Pasalnya, setelah mendengar kalimat Dirga saat itu, dia menyadari jika sudah jarang bertemu dengan ibunda Dirga. Dan hari ini, disaat ia memiliki waktu, Sakura datang ke sana tanpa sepengetahuan Dirga.
Wanita itu baru saja turun dari taksi dengan membawa banyak tas plastik yang berisikan sesuatu yang akan dia berikan pada ibunda Dirga. Sakura berjalan menuju pintu utama dari rumah putih yang berada di hadapannya ini. Beberapa kali memberikan tanda keberadaannya.
Hingga akhirnya, wanita itu mendengar suara langkah dari dalam, mendekati pintu rumah tersebut. Sakura memasang senyuman lembutnya, Saya menunggu orang di balik pintu tersebut membukakan pintu. Akan tetapi, tepat setelah pintu itu terbuka, Sakura hanya bisa terdiam di tempat seraya menatap resensi di hadapannya itu.
"Siapa, ya?" tanya wanita yang berada di hadapannya.
"Bukannya harusnya gue yang tanya begitu?" tanyanya dalam hati. Tatapannya belum terputus dari wanita yang baru saja membukakan pintu untuknya itu. Namun, langsung tersadar ketika dia mendapatkan lomba yang tangan dari sosok tersebut. "Saya Sakura. Temennya Dirga," katanya.
"Dirga punya temen? Kok dia nggak cerita ya?" gumamnya sendiri. Pribadi itu tersenyum, sebelum akhirnya membukakan pintu lebih lebar lagi dan mempersilakan Sakura untuk memasuki rumah itu. "Duduk dulu. Dirga nggak ada, jadi biar gue panggil nyokapnya aja," katanya lagi.
Satu kali anggukkan serta senyuman adalah bentuk jawaban yang dia berikan. Sampai pribadi itu telah menghilang dari pandangannya, senyuman Sakura mendadak hilang seketika. Pandangan wanita itu juga terarah pada barang-barang yang saat ini dibawa olehnya. Entahlah, apa dia harus segera pergi dari rumah ini setelah memberikan barang-barang tersebut, atau tetap tinggal untuk waktu beberapa jam.
Dia akan jujur apa yang membuatnya berubah pikiran secara mendadak. Iya, wanita yang tadi dia lihat membuatnya banyak berpikir. Siapa dia? Sedang apa di rumah ini? Sakura tak pernah mengenal wanita tersebut, pun Dirga juga tidak pernah bercerita.
"Emangnya siapa gue? Dia juga nggak bakalan cerita," gumamnya yang merasa dia harus sadar akan dirinya sendiri.
Terdengar suara nafas yang terbuang begitu saja banyak beberapa kali. Pun hal itu juga menandakan suasana hatinya saat ini. Akan tetapi, dari ekor matanya dia melihat ibunda Dirga yang telah berjalan ke arahnya dengan senyuman khas seorang ibu. Detik itu juga, Sakura mengubah air mukanya.
"Tante," sapa Sakura lebih dulu.
"Sakura. Udah lama nggak main ke sini,"
Sakura tersenyum, dia juga melakukan kepalanya untuk menimpali kalimat tersebut. Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, dirinya segera memberikan barang yang sengaja dibawa ke sini. "Tante, ini buat tante. Tadi aku lagi belanja, terus inget tante," katanya.
Dia bisa melihat raut wajah bahagia yang tercetak jelas. Semuanya diterima dengan baik oleh wanita paruh baya itu. Dan ketika memperhatikannya, Sakura sama sekali tidak bisa mengatakan jika dia ingin segera pergi dari sana. Mungkin karena ada sedikit rasa takut untuk mengatakan hal tersebut.
"Ayo ke dapur. Kita lagi masak," ajak ibunda Dirga.
__ADS_1
"Kita? Apa perempuan tadi juga ikut masak?"
Pertanyaan itu hanya bisa tersimpan di dalam batinnya. Dia sendiri juga tak punya keberanian untuk menolak ajakan wanita paruh baya tersebut. Dengan senyuman canggungnya, Sakura mengikuti kemauan ibunda Dirga.
Sesampainya di dapur, semua barang yang dia bawa tadi langsung diletakkan di atas meja. Ibunda Dirga membawanya mendekat ke arah wanita yang tadi dia lihat di depan rumah.
"Sakura, dia Riana," ucap ibunda Dirga.
Merasa namanya disebut, gadis bernama Riana itu segera melepaskan alat masak yang ada di tangannya. Dia berjalan mendekat ke arah sakura dan ibunda Dirga guna berjabat tangan sebagai bentuk menyambut kedatangan Sakura.
"Gue Riana," kata Riana.
Konversasi itu belum berjalan lama, akan tetapi ibunda Dirga langsung meninggalkan dua wanita tersebut lantaran masakan yang masih berada di atas kompor menyala itu harus diperhatikan. Wanita tersebut juga membiarkan Sakura dan Riana lanjutkan obrolan mereka.
"Ini kedatangan pertama gue setelah sekian tahun nggak pernah dateng ke sini. Makanya, gue bantu-bantu masak," ucap Riana.
Sakura perhatikan, wanita yang ada di hadapan yang ini memang aktif saat berbicara. Bahkan, sesuatu yang tidak dia tanya pun langsung diceritakan. Apalagi cerita yang membuatnya terkejut.
Tangan yang tadinya sedang memotong sayuran, mendadak terhenti begitu saja. Sungguh, Sakura hanya berharap jika dia salah mendengar. Akan tetapi, kalimat itu membuatnya hampir kehilangan fokus. Apalagi Riana tak terlihat sedang bercanda ketika mengatakan, semakin membuatnya merasa yakin.
"Tapi, kenapa dia cerita semua mantannya udah meninggal karena kecelakaan? Apa mungkin perempuan ini mantannya sebelum dia ketemu hantu itu?"
Lagi dan lagi, Sakura hanya bertanya di dalam batinnya. Karena memang tidak memiliki banyak keberanian, Sakura hanya membalas dengan senyuman tipis. Seakan, dia baik-baik saja dengan kalimat tersebut.
Disaat mereka bertiga masih menenggelamkan diri di dapur, secara mendadak Sakura melihat kedatangan Dirga yang terlihat habis berolahraga. Langkahnya juga secara tiba-tiba berhenti beberapa meter usaha yang melihat Sakura dan Riana berdiri bersebelahan.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Dirga.
Tak ada yang tahu ke mana tatapan Dirga tertuju. Namun, Sakura sedikit terkejut akan pertanyaan tersebut. Dia dengan gugupnya menjawab pertanyaan itu.
__ADS_1
"Gu-gue ke sini—"
"Bertahun-tahun nggak pernah kelihatan. Masih tau caranya bertamu?" tanya Dirga yang ternyata ke arah Riana.
"Lo nggak suka gue ada di sini?" tanya Riana.
"Emang, gue pernah suka? Sok-sok ngebaikin nyokap,"
Wah, Sakura melihat sendiri bagaimana obrolan antara Dirga dan Riana itu berlangsung. Keduanya berdebat, tak ingin merasa kalah satu sama lain. Dia hanya diam dalam kebingungannya, tak tahu harus bersikap bagaimana terhadap dua orang di hadapannya. Pun ibunda Dirga hanya tertawa lirih dari jauh.
Saat dua orang tersebut terdiam, Dirga secara tiba-tiba melihat ke arahnya. Membuat kedua alis Sakura terangkat bersamaan.
"Kapan lo dateng?"
Kali ini Sakura yakin jika pertanyaan itu memang dilontarkan untuknya. "Baru aja, kok," jawab Sakura.
"Ikut gue," kata Dirga.
"Kemana?"
"Udah ikut aja, biar masakannya diselesein sama Riana,"
Dirga segera menarik pergelangan tangan wanita tersebut menjauh dari area dapur. Dia mengajak Sakura halaman rumah. Sakura masih terdiam, tidak tahu harus berkata apa—karena suasana hatinya saat ini sedang tidak bagus.
"Kenapa nggak bilang kalau mau dateng?" tanya Dirga.
"Karena gue mau ketemu nyokap lo," jawab Sakura seraya mengalihkan pandangannya.
"Itu kenapa nggak mau lihat gue?" tanya Dirga lagi. Hanya saja, Sakura sama sekali tak menjawabnya, dia melipat kedua tangan di depan dada. "Kenapa, sih? Cemburu sama Riana?"
__ADS_1
Sakura masih diam diposisinya, yang mana membuat Dirga semakin bersemangat untuk menggoda.
"Gue tanya sekali lagi. Cemburu sama Riana, hm?"