
Sakura berdiri di depan cermin, dia menatap dirinya sendiri. Maniknya mendapati sesuatu di lehernya, yang mana membuat Sakura sedikit dimiringkan guna melihat dengan jelas. Ada luka yang sama sekali tak dia sadari setelah insiden tadi. Sakura juga baru tahu jika luka tersebut mengeluarkan darah. Dengan seorang wanita itu membersihkannya dengan air, dia sampai merintih kesakitan akibat rasa perihnya.
Dia keluar dari kamar mandi dengan pakaian atasnya yang tampak begitu basah. Sakura berniat untuk berpamitan pada ibunda Dirga, lantaran dia rasa sudah terlalu lama berada di rumah ini. Apalagi situasinya hari ini sangat tidak bagus, dan Dirga sendiri juga sudah tidak terlihat. Percuma jika Sakura di sini, yang ada membuat situasi semakin canggung.
"Tante, aku pamit dulu, ya," kata Sakura pada ibunda Dirga.
Wanita paruh baya itu menyadari pakaian Sakura yang tampak basah. Terlebih luka yang semakin terlihat jelas pada leher wanita itu, membuat ibunda Dirga tampak mengkhawatirkan Sakura. Sampai-sampai Sakura dilarang untuk pergi sebelum lukanya terobati. Pun Sakura sendiri juga tidak bisa berbuat banyak, seperti apa yang dikatakan oleh wanita paruh baya itu.
Dan ketika dia sedang menunggu ibunda Dirga tengah mengambil kotak obat, secara tiba-tiba arwah perempuan itu kembali muncul di hadapannya. Mereka berdua sama-sama melempar tatapan yang cukup tajam, namun kata menahan diri untuk tidak membuat masalah lagi.
"Aku bisa buat luka itu lebih banyak lagi," kata Hanna. Bahkan, gaya dari hantu perempuan yang terlihat seperti manusia biasa—kedua tangan yang terlipat di depan dada.
"Kayaknya lo lupa sama apa yang diomongin Dirga," balas Sakura tak mau kalah.
Memang, setelah Sakura mengatakan hal itu, Hanna hanya terdiam tanpa berniat untuk menimpali kalimat tersebut. Ucapan Dirga tadi memaksa mereka berdua untuk tidak saling menyakiti. Padahal, beberapa jam yang lalu, Sakura dan Hanna masih terlihat baik-baik saja, bahkan Sakura juga melemparkan pujian pada arwah perempuan itu karena penampilan yang berbeda dari biasanya.
Mereka masih betah untuk menatap dengan tatapan tajam, sama-sama merutuk satu sama lain. Bahkan, hal itu terjadi cukup lama akhirnya ibunda Dirga kembali dengan membawa kotak obat untuk luka Sakura.
"Sini, biar tante obatin dulu," kata wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Sungguh, Sakura merasa menang karena mendapatkan perhatian yang tak bisa Hanna dapatkan. Bahkan, wanita itu memasang wajah sombongnya untuk memamerkan hal ini. Sakura juga melihat jelas bagaimana kesalnya Hanna tanpa bisa melakukan apapun, dan hanya menahannya demi Dirga.
Beberapa menit setelahnya, Dirga muncul menuruni tiap anak tangga. Laki-laki itu masih mengenakan setelan yang sama seperti saat kencan tadi. Namun, Sakura tak berani untuk melihatnya, dia memilih untuk menurunkan pandangannya. Bahkan, sampai wanita yang sedang mengobatinya ini menyadarinya.
"Sakura biar aku anter pulang," kata Dirga pada sang ibu.
Wanita paruh baya itu menolehkan kepalanya, menganggukkan kepalanya disertai senyuman lembut. Tepat setelah ibunda Dirga mengobati lukanya, laki-laki itu mengulurkan tangan guna menggandeng tangan Sakura. Pun Sakura tak bisa menolaknya, dia menerima uluran tangan tersebut. Lantas keduanya berjalan keluar dari rumah.
Dirga sama sekali tidak bersuara, yang mana semakin membuat Sakura tak berani untuk membuka obrolan. Sekalipun di dalam mobil, Dirga dan Sakura juga hanya diam hingga mobil tersebut meninggalkan pelataran rumah. Ini adalah situasi yang sangat tidak biasa—bahkan, tidak pernah sebelumnya. Tapi, setidaknya Dirga masih menunjukkan perhatiannya.
"Lo belum makan, 'kan? Ayo, kita cari makan dulu," ajak Dirga.
Keduanya turun dengan Dirga yang memimpin, lantas mencari tempat yang membuat keduanya nyaman untuk menyantap makanan. Sungguh, keadaan justru lebih terasa canggung dibandingkan saat di rumah Dirga tadi. Entah berapa kali Sakura menelan ludahnya sendiri, berharap bisa mengurangi rasa canggungnya.
Ketika mereka menunggu pesanan datang pun, Dirga hanya fokus pada ponselnya. Pilihan terakhir Sakura juga berada pada ponselnya, toh Dirga juga masih tak mau berbicara padanya. Namun, pandangan wanita itu juga tidak bisa teralihkan saat melihat kehadiran Hanna yang berada di antara mereka berdua—bahkan, duduk tepat di sebelah Dirga.
"Dirga, makasih hari ini udah diajak pergi, dikasih nasihat-nasihat yang belum pernah aku dapetin," kata Hanna.
Hanya saja, Dirga sama sekali tidak menimpali kalimat Hanna. Pandangannya masih terus fokus ke layar ponsel. Dari sini, Sakura rasa Dirga sudah tidak bisa melihat Hanna lagi. Efek cincinnya berakhir? Entahlah, namun Sakura merasa sedikit senang, karena Hanna diabaikan. Tapi tetep saja, Sakura tak bisa memasang rasa senangnya di hadapan Dirga. Hanya bersikap layaknya dia juga tidak melihat keberadaan Hanna.
__ADS_1
"Dirga? Kamu nggak bisa denger aku? Aku di sini, lho," kata Hanna yang masih berusaha memanggil laki-laki itu. Hanya saja, sama sekali tidak membuahkan hasil apapun.
Pandangan laki-laki itu teralihkan setelah pelayan tiba dengan membawa pesanannya. Dirga sendiri juga masih memasang wajah yang datar, sekalipun ketika dia menyerahkan makanan yang akan dimakan oleh Sakura. Keduanya juga telah memulai makan siang mereka dengan tenang. Dan Hanna juga tetap tak pergi dari sana, bahkan memberikan senyumannya ketika Dirga memasukkan suapan demi suapan.
"Nggak sia-sia suka sama kamu bertahun-tahun," kata Hanna yang masih terus berceloteh.
Detik itu juga, Sakura tersedak makanannya usai mendengar kalimat tersebut. Hidungnya terasa begitu sakit, dan membuatnya menghentikan makannya sejenak. Dirga mengulurkan selembar tisu dan minuman ke arah wanita itu.
"Kalau makan nggak usah banyak mikir," tutur Dirga.
Sakura hanya menganggukkan kepalanya seraya menerima lembaran tisu tersebut. Sebenarnya, dalam hati Sakura dia sedang tertawa karena kalimat Hanna yang masih terus berceloteh, walau Dirga tidak dapat melihat dan mendengarnya. Sebab itu, Sakura enggan memperhatikan semua tingkah Hanna di sebelah Dirga, dia hanya akan melepas tawanya.
"Nggak usah sok-sok nggak ngelihat aku. Kamu kayak gitu karena denger semua ucapanku. Tapi, emang kenyataannya begitu," kata Hanna lagi—hanya Hanna yang sedari tadi berceloteh. Memang dasar hantu.
Lantas kegiatan makan mereka kembali dilanjutkan. Sakura sudah bisa mengendalikan dirinya untuk mengabaikan keberadaan Hanna. Namun, tak lama setelahnya dia cukup lega saat Dirga mengajaknya berbicara. Walau juga membuatnya gugup.
"Gue ngajak ke sini juga bukan tanpa alasan," jeda laki-laki itu, dia mengangkat wajahnya guna menatap Sakura yang berada di hadapannya itu. "Dan gue rasa, ini juga udah terlalu lama gue nahan ini," katanya lagi.
"Emangnya ada apa?" tanya Sakura gugup.
__ADS_1
"Gue mau ngeresmiin hubungan kita," kata Dirga. Kalimat itu sukses membuat Sakura terkejut, bahkan tangannya seperti tersetrum, yang mana membuat alat makannya terlepas dari tangan. "Lo mau jadi pacar gue?"