Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Yang Mungkin Harus Dilakukan


__ADS_3

Sebuah taksi baru saja berhenti di pelataran dealer, yang mana penumpang di dalamnya bukanlah seseorang yang datang untuk membeli, melainkan pemilik dari tempat tersebut. Bagian pelipisnya telah tertutup dengan perban, serta kakinya yang tidak mampu berjalan dengan baik. Pribadi itu membawa diri melewati banyak mobil yang terpajang sebelum menenggelamkan diri di ruangannya. Beberapa karyawan yang ingin membantunya saja sampai ia tolak, lantaran Dirga sedang tak mau diganggu.


Rasanya bisa bernafas begitu bebas saat Dirga bisa meletakkan bantalan duduknya pada kursi. Sekilas melihat tubuhnya yang terluka parah. Sampai tak lama setelahnya, dia mendengar pintu ruangannya diketuk sebelum terbuka dan menampilkan presensi Ryan di ambang pintu.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Ryan yang ingin melihat kondisi Dirga.


Tanpa suara, laki-laki itu menganggukkan kepalanya. Bahkan, dia sama sekali tidak berkomentar saat Ryan duduk di hadapannya. Ya, layaknya hubungan mereka yang dulu. Namun, tetap saja Dirga masih enggan menatap manik sepupunya tersebut. Dalam hatinya, dia harus menahan diri untuk bisa memeriksa bekas luka di punggung Ryan. Memang sih, dia sadar jika hal itu akan sangat sulit, lantaran ia yakin Ryan juga telah curiga terhadapnya.


"Kepala, kaki. Kenapa sama itu semua?" tanya Ryan lagi.


"Luka biasa. Bukan apa-apa juga," jawab Dirga.


Ryan mendengus kecil, sedikit tertawa karena jawaban Dirga. Mereka terus mengobrol obrolan ringan yang mana mencairkan hubungan diantara keduanya. Bahkan, Ryan sampai menawarkan diri untuk membuatkan minuman pada sepupunya itu. Tentu saja, Dirga sendiri tak menolak barang sedikitpun.


Tepat setelah Ryan keluar dari ruangannya, Dirga terdiam dengan wajah datarnya. Dia bertingkah sangat hati-hati, tidak ingin sepupunya itu mencari celah untuk mengambil semua informasi.


Tangan kirinya hendak mengambil ponsel yang berada di atas meja. Namun, kedua mata Dirga sekilas melihat cincin yang berada di tangannya. Sudah lama dia tak mencoba untuk melepaskannya kembali. Pun Dirga membatalkan diri untuk memegang ponselnya, lebih meletakkan atensi pada cincin tersebut.


Baru akan mencoba untuk melepaskan cincin tersebut, dia terkejut saat ponselnya berdering. Rupanya, Sakura yang menghubungi pagi ini. Tanpa mengulur waktu, Dirga segera menjawab panggilan tersebut.


"Masih ada, kok. Tapi, gue lupa dimana naruhnya," kata Dirga usai menjawab pertanyaan Sakura. "Gue sendiri juga lupa mau bilang soal cin—" ucapannya terpotong saat pintu ruangannya terbuka dan menampilkan Ryan yang membawa dua minuman.

__ADS_1


"Lanjutin ngomongnya. Kenapa berhenti?" tanya Sakura dari balik panggilan.


"Cinta, maksud gue," pungkas Dirga yang langsung mematikan panggilan mereka.


"Lo lagi jatuh cinta? Sama siapa? Perempuan itu, ya?" tanya Ryan bersamaan dengan meletakkan nampan berisi dua gelas tersebut.


...****************...


"Apaan coba Dirga tu,"


Sakura memandang layar ponselnya yang telah terputus dari panggilan Dirga. Wajahnya tertekuk kesal, lantaran Dirga berbicara diluar topik mereka. Saat akan meletakkan ponselnya, Sakura tersadar dengan pembicaraan terakhirnya bersama Dirga. Iya, dia baru saja ingat kata yang dikatakan laki-laki itu.


"Tapi, maksudnya apa?"


Disaat waktu luangnya, Sakura berpikiran untuk mengurangi pekerjaan yang selama ini dia lakukan. Ya, karena pekerjaannya yang banyak, membuat wanita itu selalu bertemu dengan Dirga malam hari. Dia khawatir jika kejadian seperti kemarin akan terjadi kembali. Setidaknya, di siang hari jauh lebih aman untuk melihat daerah di sekitar sana.


Tadinya, dia hanya berpikiran tentang bayaran yang akan dia terima. Namun, mengingat tenaganya juga tidak sebanyak yang dia pikir, Sakura memang harus mengurangi pekerjaannya. Toh, dia hanya hidup sendirian.


Atau mungkin karena Dirga? Disela-sela pikirannya untuk mengurangi pekerjaan, presensi Dirga juga hadir dalam pikirannya. Hanya saja, Sakura tidak mau mengakui akan hal itu. Ya, dia meyakinkan diri jika mengurangi pekerjaannya adalah karena dia benar-benar lelah untuk melakukan banyak pekerjaan yang berbeda bidangnya.


Senyumannya merekah, dia tersipu karena pikirannya sendiri. Akan tetapi, hal tersebut hanya sebentar saat dirinya terkejut akan kehadiran tamu tak diundang. Bahkan, tak akan ada yang bisa melihat keberadaan tamu tersebut. Iya, arwah perempuan itu mendatanginya di sini.

__ADS_1


"Kenapa dateng ke sini?" tanya Sakura.


Sakura sampai menoleh ke segala arah demi melihat pegawai lainnya di minimarket ini. Dia harap, tak akan ada yang melihatnya saat berbicara dengan sosok tak kasat mata itu.


"Bantu Dirga untuk lihat bekas luka Ryan,"


Wah, Sakura kontan terdiam di tempat ketika ia mendengar untuk pertama kalinya sosok itu berbicara padanya. Tapi, dia masih belum tahu, apa yang harus dia lakukan untuk membantu Dirga.


"Gimana caranya?" tanya Sakura lagi dengan suara yang begitu lirih.


"Temui dia,"


Hanya jawaban semacam itu yang diberikan pada Sakura. Dimana jawaban itu juga masih belum jelas untuk membuatnya memeriksa bekas luka tersebut. Apa yang harus Sakura lakukan atau katakan saat bertemu dengan Ryan? Berbeda cerita jika Dirga yang meminta Ryan untuk membuka pakaiannya. Itu lebih masuk akal daripada dirinya.


Entahlah, Sakura belum mau menyetujui permintaan arwah tadi. Dia belum memikirkan hal apa yang akan dilakukannya untuk melihat bekas luka tersebut. Iya, dia sendiri juga tahu, jika arwah perempuan tersebut ingin memberitahu kebenarannya jika Ryan adalah pelaku yang mereka cari. Sakura sendiri tak akan menampik hal yang telah terpampang jelas itu. Hanya saja, bekas luka itu bisa saja berubah, dan membuat Ryan mengelak perihal kejadian dimasa lalu.


"Gue sama sekali nggak kenal Ryan. Kalau secara mendadak gue ngajak dia ketemu, itu sama sekali hal yang nggak masuk akal. Justru, niatan gue bakal kelihatan di mata dia," katanya pada diri sendiri.


Pun masih memutar otaknya, Sakura memilih untuk menahannya untuk sementara waktu ini sampai dia bertemu dengan Dirga. Dirinya juga harus membicarakan hal ini pada Dirga, yang mana Dirga jauh lebih mengetahui tentang Ryan.


Padahal, ini masih pagi hari, tapi kedatangan arwah perempuan itu membuat suasana hatinya mendadak berubah. Lagi-lagi pikirannya harus terarah pada dendam wanita itu. Perkara Dirga yang menyetujui untuk membalaskan dendamnya, arwah itu justru seperti menekan mereka supaya permasalahan ini segera terungkap. Baginya, arwah yang sudah meninggal itu masih merepotkan untuk manusia sepertinya, yang mampu berinteraksi dengan sosok tersebut.

__ADS_1


Secara mendadak, sebuah pikiran melintas di kepalanya. Yang mana membuat Sakura terdiam dan berpikir dalam. "Apa maksud dia, gue harus ngelakuin hal yang sama kayak semua mantan pacar Dirga?"


__ADS_2