
"Ibu!!"
Dirga dan Sakura bergegas lari menuju kamar ibunda Dirga. Keduanya sama-sama berdebar, terlebih Dirga yang begitu mengkhawatirkan ibunya. Terbukti dari kekuatan laki-laki itu saat berusaha membuka pintu kamar sang ibu yang mendadak terkunci—padahal, sebelumnya Sakura sama sekali tak menguncinya. Dirga sampai menggedor-gedor pintu berwarna putih tersebut, meneriakkan sang ibu yang mana tak mendengar suara apapun dari dalam.
Sakura sendiri juga tak tinggal diam, maniknya bergerak cepat guna mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membuka pintu kamar. Namun, tak ada benda yang bisa membantu mereka. Sampai akhirnya, pribadi itu berjalan keluar, ditengah-tengah hujan deras memecahkan jendela kamar ibunda Dirga.
"Dirga!!! Lewat sini!!" teriak Sakura.
Tanpa menunggu Dirga, dirinya masuk lebih dulu, melihat wanita paruh baya tersebut telah melayang di atas ranjang kasurnya. Sakura berlari, menarik tangan ibunda Dirga agar tidak semakin menjauh dari ranjang. Hanya saja kekuatannya itu tak cukup kuat, justru membuatnya ikut melayang—kendati dirinya juga telah berusaha menarik sekuat tenaga supaya kakinya kembali menapak pada lantai.
Hingga tak lama setelahnya, dia merasakan pinggangnya dipeluk erat oleh Dirga. Tubuh laki-laki itu juga telah menambah beban yang melingkar di perutnya, membuat kedua wanita tersebut bisa kembali turun. Sakura sampai tergeletak di atas lantai, dengan keringat yang penuh di sekujur tubuhnya. Bangkit dari sana guna menghampiri ibunda Dirga. Dia sangat tak tega, ketika wajah pucat tercetak jelas di sana.
Selagi membiarkan Dirga memeluk sang ibu, Sakura keluar dari kamar tersebut melalui jendela yang ia pecahkan. Maniknya mengedar ke seluruh sudut halaman rumah Dirga, mencari sosok yang membuat keributan malam ini. "Dia pergi," kata Sakura.
"Ibu takut, Dirga,"
Itu adalah suara ketakutan ibunda Dirga, yang juga membuat Sakura tak kuasa mendengarnya. Dia membelakangi ibu dan anak tersebut, menahan rasa sedihnya hingga membuat setetes air matanya jatuh ke pipi. Sakura mengatur nafasnya, berusaha bersikap tenang supaya tak membuat kedua presensi di belakangnya ikut panik. Hanya dia yang bisa melihat sosok arwah itu. Meski takut pun, dia tak boleh menunjukkannya.
"Gue nggak bisa ngebiarin ibu sendirian," kata Dirga.
Sakura menganggukkan kepalanya, dia menyetujui perkataan Dirga tanpa ragu. Memang tak seharusnya mereka meninggalkan seorang ibu seorang diri dikata keadaan yang mereka hadapi semakin bahaya. Pun keduanya sama-sama mencari solusi terbaik untuk melindungi ibunda Dirga dari serangan tersebut. Namun, sementara ini, Sakura membawa ibunda Dirga menuju ruang tamu, membiarkan laki-laki itu membersihkan sisa-sisa pecahan seorang diri.
__ADS_1
Tangan Sakura digenggam begitu kuat oleh ibunda Dirga. Dia bisa merasakan tangan dingin yang disertai dengan gemetar hebat. Dirinya saling menumpuk tangan guna menghangatkan tangan wanita paruh baya itu. Wajahnya tersenyum, berharap jika hati ibunda Dirga bisa tenang lantaran sudah ada dirinya dan Dirga yang akan melindunginya.
"Tante, nggak usah takut lagi, ya. Saya sama Dirga janji bakal ngelindungin tante," tutur Sakura.
...****************...
Lima jam lebih listrik di rumah Dirga tak kunjung menyala. Tak ada hal yang bisa mereka lakukan selain berkumpul di ruang tamu, dengan pandangan yang juga selalu waspada ke segala arah. Bahkan, tak ada rasa kantuk diantara ketiga orang tersebut. Seakan-akan malam ini adalah malam panjang yang akan mereka lalui untuk berjaga. Walaupun Sakura telah menyuruh wanita paruh baya tersebut untuk tidur, namun ibunda Dirga terus menolaknya. Sakura juga tidak ingin memaksakannya, sebab itu dia membiarkan ibunda Dirga berjaga bersamanya dan juga Dirga.
Kedua anak muda itu juga tak bisa membahas hal-hal yang berkaitan untuk saat ini. Pasalnya, mereka tak bisa membiarkan seorang wanita lemah akan terkejut kembali karena roh jahat itu.
"Lo sama ibu tidur aja, biar gue yang jagain,"
Sakura menarik kedua sudut bibirnya. "Makasih," dia menjeda kalimatnya, membawa pandangannya pada laki-laki itu. "Tapi, yang bisa lihat arwah itu cuma gue," tambahnya.
Dirga menepuk kedua pahanya, berjalan keluar di teras rumah. Pandangannya mengedar pada seluruh rumah tetangganya. Dengan listrik yang padam, seluruh tempat terlihat begitu menyeramkan. Tak ada satupun rumah yang terdapat setitik cahaya. Laki-laki itu berjalan masuk kembali, melihat dia wanita yang duduk di ruang tamu—masih setia dengan posisinya.
"Di luar bener-bener gelap," ucap laki-laki itu.
"Apa sebelumnya pernah padam selama ini?" tanya Sakura.
"Belum pernah. Ini yang paling lama,"
__ADS_1
Keadaan kembali hening, perempuan itu mencoba untuk memeriksa ponselnya. Yang mana, jaringan ponselnya sama sekali tak terganggu. Bahkan, Sakura juga meminta Dirga dan ibunya untuk melakukan hal yang sama. Dan tak ada satupun jaringan ponsel mereka yang rusak. Entahlah, Sakura rasa ini ada yang aneh. Lantas dirinya menyuruh Dirga untuk menjaga ibunya, dirinya akan bergantian berjalan keluar guna memeriksa keadaan di sana.
Memang benar, keadaan di luar rumah Dirga sangat gelap, sampai-sampai sulit untuk melihat satupun objek di depan mata. Pun membuat Sakura menggunakan lampu ponselnya untuk memastikan keadaan di luar sana.
"Dirga, tolong hubungin salah satu tetangga lo, apa di rumahnya listrik udah bisa dinyalain," kata Sakura.
Sakura masih melihat situasi di luar rumah Dirga, dirinya juga masih menunggu kabar dari laki-laki itu di dalam. Sampai akhirnya dia mendengar suara dari Dirga yang memberikan jawaban aneh.
"Katanya, rumah ini gelap dari tadi. Kirain mereka gue sama nyokap lagi pergi," kata Dirga.
Sakura yang tengah berdiri itu mulai merasakan tubuhnya merinding bukan main. Dia merasakan sesuatu di belakang tubuhnya. Dengan manik yang berkali-kali berkedip, Sakura memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Belum saja menoleh sempurna, Sakura terkejut saat arwah perempuan itu mencekik lehernya kembali, mengangkat tubuhnya ke atas menempel pada salah satu dinding rumah Dirga.
Keributan pun terjadi, Dirga menarik ibunya untuk tetap berada di belakang tubuh. Mereka mendadak bisa melihat sosok yang sebelumnya hanya bisa dilihat oleh Sakura. Seluruh tubuh Sakura sama sekali tak bisa digerakkan, dia berusaha untuk melepaskan diri. Namun, kekuatannya tak mampu membantunya. Kepalanya menoleh, melihat Dirga dan ibunya secara bergantian dengan raut yang kesakitan. Seakan meminta maaf jika dirinya tak mampu untuk bertahan lebih lama.
"Sakura!!" teriak ibunda Dirga.
Dirga menahan ibunya untuk tidak mendekat ke arah Sakura yang bisa membahayakan ibunya juga. Laki-laki itu berpikir sejenak, mendapatkan langkah pertamanya guna mendekat ke arah Sakura dan arwah perempuan itu. Sikapnya melembut, mencoba untuk merayu arwah tersebut dengan perlahan.
"Kalau kita ada salah, tolong maafin kita," Dirga menelan salivanya, berjalan semakin dekat ke arah Sakura. "Kita nggak tahu siapa lo, tapi kita sedikit-banyak udah tahu tentang masa lalu lo. Lo sendiri juga tahu, gue sama Sakura udah banyak nemuin fakta tentang kematian lo, dan gue masih butuh bantuan dia buat nemuin bukti lebih banyak lagi. Jadi, tolong jelasin dia," katanya lagi. Hanya saja, arwah itu masih tak melepaskan Sakura, membuat Sakura semakin tersiksa di atas sana. "Kita bantu lo buat balas dendam!" pungkasnya dengan suara lantang.
Detik itu juga, Sakura terlepas. Kontan membuat Dirga menangkap wanita itu agar tidak terjatuh ke lantai. Sakura pingsan di tangannya. Dirga masih melihat arwah perempuan itu yang masih melayang di sana. Dia berteriak hingga memekakkan telinganya dan juga sang ibu. Sekitar beberapa detik setelahnya, arwah itu menghilang bersamaan dengan suara tetangga mereka yang memanggil nama ibunda Dirga berkali-kali.
__ADS_1
"Sakura, bangun,"
Dirga berusaha membangunkan Sakura yang telah di bawa ke atas sofa. Pribadi itu menepuk-nepuk pelan pipi Sakura agar bisa meresponnya. Wajahnya menampilkan guratan penuh kekhawatiran. "Gue mohon. Tolong bangun, Sakura,"