Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Pengakuan Mengejutkan


__ADS_3

Suara gedoran kaca dari wanita tersebut menjadikan kebimbangan dalam diri Dirga dan Sakura. Keduanya ragu untuk menerima wanita tersebut masuk ke dalam mobil. Pasalnya, mereka tak tahu, apakah ucapan wanita itu sungguhan atau hanya jebakan untuk mereka berdua. Sungguh, mereka berdua butuh waktu lama untuk berpikir.


"Dirga, coba cek luka yang ada di wajahnya. Asli atau buatan," kata Sakura.


Hanya dengan satu anggukkan kepala, Dirga memeriksanya dari balik kaca. Sejujurnya, sulit juga untuk melihatnya dari dalam, lantaran keadaan jalanan yang juga begitu gelap. Pun dengan lampu mobil juga tidak mampu memperjelas penglihatan.


"Nggak kelihatan jelas, Ra," kata Dirga.


Ditengah-tengah kebingungannya, mendadak mereka mendengar suara berat dari laki-laki yang memanggil dengan kasar pada perempuan yang meminta pertolongan itu. Lantas tanpa pikir panjang, Sakura segera menyuruh wanita tersebut masuk ke kursi belakang. Dirinya juga menyuruh Dirga untuk segera menginjak pedal gasnya.


Sakura masih bungkam, membiarkan wanita itu mengatur nafas dan menenangkan dirinya sendiri. Terdengar dari deru nafas yang sangat tidak beraturan, menyadarkannya jika wanita tersebut benar-benar dalam bahaya. Andai dia mengabaikan sedikit lagi, Sakura akan merasa sangat menyesal. Bahkan, berkali-kali ia menoleh ke belakang guna melihat secara langsung keadaan wanita tersebut.


Bukan hanya keadaan, tetapi penampilannya juga ia amati. Entah bagaimana dia menarik kesimpulannya, tetapi dia rasa jika wanita yang ia temui itu adalah korban pelecehan. Sakura begitu merasa kasihan pada wanita tersebut. Hatinya juga mendadak kacau ketika melihat seorang perempuan dalam keadaan seperti ini. Namun, dia merasakan saat tangannya digenggam Dirga. Dengan cepat pula Sakura melepaskan genggaman tersebut, mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


Sampai akhirnya mereka menempuh waktu yang lama untuk mencari lokasi yang ramai. Di dekat minimarket mobil Dirga berhenti, ia membiarkan jaketnya dipakai oleh wanita itu. Tentu saja, karena pakaian yang tampak berantakan tidak pantas dilihat seorang laki-laki yang tak dikenal. Dirga hanya duduk di kap mobil seraya melipat kedua tangannya. Di dalam sana, Sakura tengah mengurus wanita tersebut.


Tak lama, Sakura keluar guna menghampirinya. Ia turut duduk di sebelah Dirga usai memberikan makanan dan minuman untuk wanita tersebut. Dengan posisi yang sama, keheningan berada ditengah-tengah mereka. Dirga sampai menoleh guna memeriksa air muka dari Sakura.


"Gimana sama keadaannya?" tanya Dirga.


"Yang pasti nggak seburuk tadi,"


Dirga hanya menganggukkan kepalanya, tak ada pertanyaan ataupun kalimat lain untuk membahas perihal wanita tersebut. Dia memilih untuk diam daripada salah berbicara. Hanya saja, Sakura kembali membuka suaranya, mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Bener, sesuai dugaan gue kalau dia korban pelecehan," katanya.


"Udah lo tanyain apa yang terjadi sama dia?"


Sakura mengangguk sebelum membuka mulutnya. "Tempat itu banyak perempuan yang dilecehin, dan setelahnya dia bilang tempat itu nggak ngejamin nyawa bakal selamat," tuturnya.


Mendengar penuturan itu, Dirga melepas lipatan tangannya. Wajahnya benar-benar menampilkan guratan penuh keterkejutan. Ya, itu berarti seluruh mantannya dilecehkan di tempat tersebut dan dibunuh oleh orang yang berada di sana.


"Berarti Ryan juga ada di tempat itu," katanya.


Sakura sampai menghela nafasnya panjang, lantaran Dirga tak bisa mengatur emosinya lagi. Membuat wanita itu harus menenangkan Dirga untuk tenang, dan melakukan semuanya tanpa menggunakan emosi.


"Udah. Jangan asal tuduh lagi. Kita belum tau siapa pelakunya. Dia sendiri juga belum mau jawab," kata Sakura yang kembali melipat kedua tangannya.


Dirga kembali diam, melihat Sakura yang juga sudah terdiam dan menatap jalanan dengan tatapan yang begitu sayu. Dia membawa Sakura masuk ke dalam rangkulannya, menenangkan wanita itu dari apa yang ia lihat.


Entah kenapa, mendengar kalimat Dirga cukup membuat perasaan Sakura lebih baik dari sebelumnya. Dia tak menyangka, jika masalah yang sedang mereka hadapi ternyata serumit ini. Banyak misteri yang sulit untuk dipecahkan.


...****************...


"Mau kita bawa kemana perempuan itu?"


Ya, kini pertanyaan itu kembali membuat keduanya bingung. Pasalnya, baik Dirga maupun Sakura tak mengerti dimana tempat tinggal wanita tersebut. Di samping itu, perempuan tersebut tak mau membuka mulutnya, yang mana sulit untuk memutuskannya. Ditambah malam semakin larut, menunjukkan hampir sebelas malam.

__ADS_1


Sakura menggigit bibir bawahnya, kehabisan ide untuk persoalan ini. Pasalnya, Sakura juga tak berani membawa perempuan itu ke rumahnya. Apalagi dia juga sempat mendapat kiriman aneh yang menggambarkan tentang lokasi itu. Apalagi Dirga, mustahil dia membawa pulang wanita ke rumahnya. Bisa-bisa ibunya akan marah, lantaran membawa masuk masalah baru ke rumah mereka.


"Kita serahin ke kantor polisi aja, gimana?"


Pertanyaan Dirga itu membuat Sakura sangat terkejut. Sejak tadi Sakura menghindari ide semacam itu di kepalanya, tapi Dirga justru begitu santai mengatakannya. Entahlah, Sakura sendiri tak yakin jika perempuan tersebut akan mau dibawa ke sana. Sekalipun, di kantor polisi dia akan mendapatkan perlindungan lebih.


"Yang bener aja, dia sendiri belum tentu mau dibawa ke sana," balas Sakura.


Pun keduanya sama-sama buntu, hanya terdiam seraya mencari solusi terbaik. Hingga akhirnya, mereka mendengar suara pintu mobil terbuka, menampilkan wanita tersebut yang menghampiri Sakura dan Dirga dengan wajah begitu lesu. Keduanya tak menyangka, jika perempuan tersebut malah berterimakasih dan cukup diantar sampai di tempat ini, yang mana mereka sudah berada di sini selama tiga jam lamanya.


Sakura sendiri juga sudah mencegah agar wanita tersebut tidak pergi begitu saja. Namun, presensinya memaksa untuk tetap pergi. Tak ada pilihan lain untuk keduanya, selain membiarkan pilihan wanita tersebut.


"Gimana dengan jaketmu?" tanya wanita itu.


"Ambil aja," jawab Dirga.


"Terima kasih, karena kalian sudah membawa aku pergi dari tempat itu. Seenggaknya, aku nggak sakit karena disiksa lagi," tutur wanita tersebut.


"Kita berdua juga makasih sama kamu, informasi yang kamu kasih sangat-sangat bermanfaat buat kita. Hati-hati dan sampai ketemu lagi," ucap Sakura.


Dengan satu kali tundukkan kepala, akhirnya mereka berpisah dengan wanita tersebut. Dirga dan Sakura berjalan masuk ke dalam mobil. Baru saja membuka pintu mobil, wanita tersebut tertabrak sebuah mobil SUV hitam, yang mana pelaku tidak bertanggung jawab. Sakura hendak berlari menghampiri perempuan tersebut, tetapi dia juga melihat Dirga yang terlihat sesak. Membuat Sakura mendahulukan Dirga untuk masuk ke dalam mobil—korban tabrak lari itu telah diurus oleh orang-orang sekitar.


Sakura berusaha menenangkan Dirga yang terlihat sesak dan juga kehilangan fokusnya. Tangannya sama sekali tak terlepas dari genggaman. Dia membantu Dirga untuk mengatur nafasnya, berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya.

__ADS_1


"Jang..an pergi,"


"Gue nggak pergi, nggak usah khawatir. Ayo, atur nafas lo dulu," ucap Sakura


__ADS_2