Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Dengan Bantuan


__ADS_3

Riana terus memikirkannya, tak jarang juga dia berdesis panjang lantaran kepalanya yang hanya terisi dengan rencana Dirga. Memang pada dasarnya dia sendiri yang langsung menyetujui rencana tersebut. Akan tetapi, setelah memikirkannya lebih dalam, secara mendadak Riana cukup ragu. Bahkan, dia mengkhawatirkan dirinya sendiri, lantaran bersama Dirga itu cukup berbahaya, dimana Hanna sendiri juga tahu tentang kelebihannya ini.


Dia tidak takut selama itu bersama Sakura, namun berbeda jika bersama Dirga. Jangankan keselamatannya akan terjamin, Dirga saja tidak bisa melihat dan memahami pergerakan Hanna. Bagaimana bisa Riana percaya jika rencana Dirga akan berhasil seutuhnya?


Memikirkan hal ini di sepanjang jalan membuat Riana memutar laju mobilnya menuju suatu tempat. Gadis itu akan datang ke rumah Sakura guna membicarakan hal ini. Dia belum sempat membicarakan rencana Dirga sejak beberapa hari lalu, kendati dia juga tahu bahwa ada Sakura di kafe tersebut. Sekalian, Riana ingin tahu bagaimana agar nyawanya tidak terancam karena sudah menyetujui permintaan Dirga.


Hingga akhirnya mobil itu berhenti di pelataran rumah Sakura, melihat wanita tersebut yang sedang berada di teras rumah. Seakan tahu dengan kedatangannya, Sakura melambaikan tangannya sejak Riana masih berada di dalam mobil. Dia meminta Riana untuk segera masuk ke dalam rumah. Entahlah, Riana sendiri juga hanya menurut dengan lambaian tangan itu. Dia bergegas menghampiri Sakura dan bersama menuju ruang tamu.


"Wah, apaan ini?"


Itu adalah pertanyaan yang keluar dari mulut Riana begitu dirinya menginjak lantai ruang tamu. Terdapat sebuah kotak hitam di atas meja. Gadis itu sama sekali tidak mengetahui apapun dengan benda yang dimiliki Sakura. Pun pandangannya sama sekali tak terputus dari kotak tersebut, seraya menunggu Sakura untuk menjelaskannya.


"Itu jimat yang sama kayak yang gue pakai sekarang," Sakura menjeda kalimatnya, dia mengambil benda tersebut sebelum diserahkan ke Riana. "Tapi, lebih baik ini gue kasih ke lo, karena lo bakal bantuin Dirga," katanya lagi sembari menyerahkan pada Riana.


Gadis itu tidak bisa berbicara apapun, dia menerimanya dengan manik yang berbinar. Bukan apa-apa, tapi memang sejak awal dia ingin meminta bantuan Sakura, dan tidak menyangka jika Sakura sendiri yang memberikannya ini. Wajahnya tersenyum ke arah Sakura, terdapat raut wajah penuh kelegaan ketika dirinya bisa mendapatkan pertolongan dari Sakura.


"Tujuan gue ke sini emang mau minta tolong sama lo, dan ternyata lo peka," ucap Riana bersamaan dengan mengalungkan jimat tersebut.

__ADS_1


Sakura tampak menghembuskan nafasnya cukup panjang. Walau sudah memberikan bantuan pada gadis itu, bukan berarti dia benar-benar merasa lega. Dia tidak tahu bagaimana Hanna nantinya, dan seberapa kuat arwah perempuan itu akan melawan. Dirinya hanya ingin Riana bisa membantu Dirga tanpa adanya insiden apapun ketika melaksanakannya.


"Sebenarnya, cara Dirga yang minta buat lo mancing Hanna itu lumayan bahaya," kata Sakura usai melihat Riana memakai kalung tersebut. Pun membuat Riana menoleh ke arah Sakura dengan tatapan hampa dan ragu. "Selama ini, lo itu cuma bisa ngelihat dia. Interaksi sama dia pun lo belum pernah. Gue khawatir lo kenapa-kenapa. Dirga juga terlalu ceroboh buat ngomong itu terang-terangan," tuturnya.


"Terus gimana? Apa gue nggak bakal selamat, walaupun udah pakai kalung ini?" tanya Riana dengan rasa khawatirnya.


"Kalung itu emang buat ngelindungin lo, tapi bukan berarti ngalahin Hanna. Kita berdua nggak tau, bakal kayak apa Hanna nantinya," jelas Sakura.


Memang sih, Riana bisa memahami hal itu. Bahkan, bukan hanya dirinya yang takut, dia juga bisa tahu bahwa Sakura takut dan mengkhawatirkan hal ini sepanjang hari. Tapi, bagaimana lagi? Semua ini juga sudah terlanjur terjadi. Bahkan, jika mereka berdua terus berjalan berjauhan dengan Dirga, tidak menjamin jika mereka bisa menyelesaikan masalah ini.


"Nggak apa-apa. Kita coba aja dulu. Lo juga bisa ngawasin dari jauh. Tinggal kasih tau gue, apa yang harus dan nggak boleh gue lakuin selama gue bantuin Dirga," kata Riana.


...****************...


"Lo dimana? Gue udah di depan," kata Riana.


Hanya selang beberapa detik sebelum akhirnya panggilan itu terputus. Riana menunggu sepupunya dari dalam mobil, memantau laki-laki tersebut sampai keluar. Hari ini, dia tidak bersama Sakura, memang Riana sendiri yang memintanya untuk tidak ikut. Pasalnya, hari ini mereka hanya akan mencari keberadaan dukun tersebut. Dan Riana juga tidak memiliki rencana apapun selain menemani Dirga. Dia akan masa bodoh dengan hantu yang berada di sebelah Dirga itu. Toh, dia akan terkejut jika sudah bertemu dengan dukun itu.

__ADS_1


Dan akhirnya Riana melihat perawakan Dirga yang keluar. Tentu saja, hantu itu masih terus bersama dengan Dirga. Riana memperhatikan benang merah yang terikat pada masing-masing jari mereka. Dirinya sampai menggelengkan kepalanya, lantaran tak menyangka akan melihat penampakan yang seperti ini dalam hidupnya. Pun dia juga merasa penasaran, apa Dirga merasakan jika adanya benang merah yang terikat? Pasalnya, dari sudut pandangnya, benang tersebut tampak begitu nyata.


Sampai Dirga memasuki mobilnya, Riana sama sekali tidak berbicara apapun. Iya, dia bungkam lantaran harus menahan diri untuk tidak berbicara lebih dulu. Bagaimana jika nantinya dia salah berbicara? Walau mulutnya terasa gatal untuk memaki hantu tersebut.


"Kita ke mall itu lagi," kata Dirga.


Riana menganggukkan kepalanya, menuruti arahan dari sepupunya itu. Menggunakan mobilnya, mereka melaju menuju pusat perbelanjaan yang menjadi satu-satunya tempat yang mereka ketahui lokasi dukun itu. Diam-diam Riana juga melihat ke arah kaca spion, melihat Hanna berada tepat di belakang Dirga. Cukup mengerikan sebenarnya, tetapi Riana harus menahannya, lantaran hanya dengan cara ini mereka bisa menyelesaikannya secara perlahan.


Di sebelahnya, Dirga menyadari jika Diana beberapa kali melihat ke arah belakang, dia tahu jika Hanna pasti berada di sini. Akan tetapi, Dirga tak akan menanyakannya. Diabjuga tahu, jika hal itu bisa membuat Riana tak nyaman. Dirga tak mau membuat sepupunya berada dalam masalah. Pun pandangannya dia alihkan ke depan, bersikap seolah tak ada yang dia sadari sejak tadi.


"Kalau hari ini dia nggak di sana, gimana?" tanya Riana pada akhirnya setelah belasan menit terdiam.


"Lo tanyain salah satu dari mereka," jawab Dirga tanpa mengalihkan pandangannya.


"Maksudnya?"


"Hantu-hantu yang dikejar,"

__ADS_1


Riana sampai tidak bisa berkata-kata setelah mendengar jawaban Dirga itu. Apa semudah itu untuk bertanya pada roh jahat lainnya yang dikejar oleh dukun tersebut? Tak heran Dirga mengajaknya. Kalau gitu, kenapa tidak ajak Sakura saja sekalian? Bahkan, Sakura lebih hebat daripada dirinya. Dan bukannya Dirga sendiri yang berkata sudah tak peduli jika Hanna akan mendengar rencananya? Itu berarti, keberadaan Sakura bukan masalah bagi laki-laki tersebut. Bedanya, Dirga tak akan menyuruh Sakura.


__ADS_2