Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Ditebak


__ADS_3

Pikiran yang tidak fokus itu cukup mengganggu pekerjaannya. Sakura sampai kebingungan melihat pembeli yang mendadak meludak, banyak yang mengantri di depan toko kue. Wanita berusia tiga puluh tahun itu sampai meminta bantuan temannya untuk melayani pembeli yang telah mengantri cukup lama. Bahkan, pemilik toko tersebut juga sampai turun tangan. Jarang sekali situasi semacam ini, namun juga membuat semangatnya membara.


Suara gaduh juga terdengar dari beberapa pembeli yang tidak sabar untuk mengantri. Dan di sanalah sesuatu terjadi, dimana Dirga secara tiba-tiba datang guna mengalihkan semua perhatian para pembeli dengan caranya sendiri. Mungkin karena penampilannya yang begitu keren, kebanyakan wanita yang membeli di toko ini terlihat seperti orang yang telah dihipnotis akan suara bariton tersebut.


Sakura hanya bisa menggelengkan kepalanya lantaran dia tak menyangka dengan kedatangan laki-laki itu yang sukses membuat situasi menjadi kondusif. Dengan begitu, Sakura bisa melayani mereka dengan tenang. Ya, walaupun yang sedang dilayani juga meletakkan atensinya pada Dirga.


"Siapa dia? Udah ganteng, terus mau bantuin kita juga," tanya teman Sakura yang merupakan pegawai baru.


"Dia laki-laki ganteng yang mau bantuin kita," jawab Sakura sekenanya. Dia malas jika harus menjelaskannya, terlalu panjang.


Selagi Sakura dan pegawai lainnya bekerja, Dirga mengajak para wanita di sana untuk berbicara santai. Justru terlihat seperti sedang memandu para pengunjung. Sakura hanya bisa tertawa ketika semua wanita di sana lebih memilih untuk berfoto daripada mendengarkan apa yang dikatakan Dirga. Ya, saat ini yang kewalahan adalah Dirga sendiri.


Hal ini terjadi sampai setengah dari pengunjung telah dilayani, pun Sakura sampai bergantian dengan pegawai lainnya lantaran begitu lelahnya. Karena merasa kasihan juga dengan Dirga, wanita itu menarik Dirga untuk beristirahat. Iya, dia kasihan dengan laki-laki itu.


"Capek, ya?" tanya Sakura.


"Banget," jawab Dirga.

__ADS_1


Sakura menutup mulutnya guna menahan tawa agar tidak terlihat oleh Dirga. Salah satu tangan Sakura juga menepuk-nepuk salah satu bahu Dirga guna menyalurkan sedikit energinya. Lantas dia memberikan beberapa bungkus permen pada Dirga supaya laki-laki di sebelahnya itu tidak lemas.


"Makasih, karena udah bantu gue tadi," kata Sakura.


Tentu saja dia harus berterima kasih pada laki-laki itu yang sudah membantunya. Paling tidak, Sakura tidak kemarahan karena para pembeli yang tidak bisa bersikap tenang lantaran ingin terburu-buru dengan antrean panjang tersebut. Apalagi Dirga sampai banyak berkeringat.


"Nggak apa-apa. Kalau keadaan kayak tadi ke ulang lagi, panggil gue aja. Gue mau bantu," kata Dirga.


Detik itu juga Sakura langsung berdecak dan memutar kedua bola matanya jengah. Kalimat Dirga barusan membuat perutnya terasa mual. Wanita itu sama sekali tidak yakin dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Dirga. Memangnya dia lupa jika sebelumnya dia sendiri yang menjauhi para pelanggan yang datang ke toko ini? Sekarang saja, terlihat belagu untuk menghadapi para wanita.


"Mau bantu apa tebar pesona?" tanya Sakura.


Sakura menatap laki-laki itu dengan kedua alis yang tertekuk, kan dia tidak terima dengan maksud Dirga itu. Yang benar saja, bahkan kata 'cemburu' tidak ada di kepalanya sejak tadi. Lantas wanita itu hanya menggelengkan kepalanya disertai dengan tawa remeh. Iya, memang ekspresi itu wajar diberikan pada Dirga.


Keduanya sama-sama terdiam ketika candaan mereka berakhir. Namun, diamnya Sakura juga tidak berarti pikirannya kosong. Wanita itu teringat dengan kejadian beberapa hari lalu ketika dia bertemu dengan Ryan di sekitar pemakaman. Hingga saat ini, dia masih belum memberitahu pada Dirga. Jujur saja, sakura juga penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Ryan saat itu. Entah kenapa, dia ingin bertanya.


Masih mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya, Sakura menoleh ke arah Dirga yang masih mengunyah permen yang dia berikan tadi. Sejenak Sakura mengulum bibirnya, lantas memanggil laki-laki itu sampai dibalas dengan dehaman singkat.

__ADS_1


"Gue penasaran sama sesuatu waktu habis dari pemakaman," katanya sebagai pembuka obrolan mereka. Terlihat Dirga yang juga menanti pertanyaan berikutnya. "Kan mantan-mantan lo itu meninggal karena kecelakaan, tapi kenapa lo cuma dateng ke makam Nadia? Sisanya dimakamin di mana?" tanya wanita itu.


Mendengar pertanyaan tersebut membuat Dirga menoleh dan menatap lekat ke arah Sakura. Wajahnya juga mendadak berubah serius, yang mana membuat Sakura sampai kesulitan menelan ludahnya sendiri.


"Kenapa tumben tanya itu?" tanya Dirga.


Entah kenapa, Sakura merasa jantungnya berdebar kuat. Tatapan Dirga juga terasa begitu dalam sampai menembus bola matanya. "Ya, karena gue penasaran aja," jawab Sakura.


Dirga mengalihkan pandangannya dari Sakura, laki-laki itu menarik nafasnya cukup panjang sebelum memberikan jawabannya pada wanita itu. "Karena Nadia yang punya hubungan paling lama diantara mereka semua,"


Mungkin jawaban itu bukan jawaban yang diinginkan oleh Sakura. Tapi, rasanya dia tak mau melanjutkan pertanyaannya, apalagi setelah melihat raut wajah Dirga yang berbeda dibandingkan tadi. Pun wanita itu hanya memilih untuk menganggukkan kepalanya dan menghentikan pertanyaan tersebut.


Usai pertanyaan itu berakhir, Sakura jika sudah tidak memiliki obrolan lagi bersama dengan laki-laki di sebelahnya itu. Membuat keadaan mereka benar-benar hening, dan hanya suara deru nafas yang dapat terdengar di masing-masing telinga.


"Yang paling penting sekarang ini, gue udah bisa ngelepas mereka semua. Yang mana, gue juga udah ngebantu mereka semua supaya lebih tenang di alam yang berbeda. Pelaku kejahatan yang buat mereka meninggal juga udah ketangkep,"


Pelaku kejahatan telah tertangkap.

__ADS_1


"Penjara?!" ucap Sakura dan Dirga bersamaan.


__ADS_2