Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Menjebak


__ADS_3

Selama satu bulan, Dirga sukses melewati harinya tanpa rasa takut. Pasalnya, kejadian yang terjadi di bulan lalu itu hampir membuatnya gila karena banyak hal yang membuatnya khawatir. Namun ternyata, semua itu bisa dia lalui, bahkan rasa khawatirnya telah menghilang. Pikirannya terasa begitu ringan, seakan hanya sebuah tisu yang melayang.


Dan hari ini, di hari libur yang cerah, kekasihnya akan datang ke rumah setelah beberapa bulan hampir tidak pernah datang mengunjungi ibunda Dirga—lantaran Sakura sibuk untuk mempersiapkan tokonya. Beruntung, wanita itu telah memiliki kesempatan untuk mendatangi ibunda Dirga. Tentu saja, Dirga sendiri juga telah menantikan kedatangan kekasihnya itu.


"Sakura udah jalan?" tanya sang ibu.


Sekilas Dirga melihat ke arah jam tangannya sebelum menjawab pertanyaan ibunya tersebut. "Seharusnya udah," Dirga mengangkat wajahnya disertai dengan senyuman tipis. "Kita tunggu aja," katanya lagi.


Sang ibu menganggukkan kepalanya beberapa kali, lantas berjalan ke arah ruang makan. Duduk sendirian di sana, memandang putranya yang berjalan kesana-kemari. Tak ada yang bisa dia tunjukkan selain senyuman khas seorang ibu. Ada kebahagiaan yang menghadiri sang ibu. Akan tetapi, masih ada pasokan kebahagiaan lainnya yang belum terbuka. Menunggu momen yang tepat untuk menunjukkan kebahagiaan lainnya.


Wanita paruh baya itu semakin menyukai kehidupan mereka saat ini. Bisa dikatakan, tak pernah ada kesedihan selama beberapa tahun ke belakang ini. Dia memiliki putra satu-satunya yang tak pernah melupakan ibunya, serta kekasih Dirga yang peduli terhadap Dirga maupun ibunya. Ini menjadi salah satu kebahagiaan terbaik dalam hidup ibunda Dirga. Terkadang, wanita tersebut merasa penasaran dengan kebahagiaan terbesar putranya itu.


Ditengah-tengah lamunannya yang membayangkan Dirga, wanita tersebut mendengar adanya suara mobil yang berhenti. Baik dirinya maupun Dirga, mereka berdua menghampiri ke sumber suara di sana dengan perasaan yang begitu senang. Hanya saja, seseorang yang keluar dari taksi tersebut bukanlah Sakura, mematahkan kebahagiaan mereka berdua secara mendadak.


Seorang wanita dengan perut yang lebih besar berjalan menghampiri Dirga dan juga ibunya yang berdiri di ambang pintu. Mereka berdua memasang raut wajah yang berbeda, pun dengan makna yang berbeda. Dibandingkan dengan sang ibu yang kebingungan, Dirga justru mengepalkan kedua tangannya diam-diam melihat wanita hamil itu. Dia tidak sempat menjelaskannya pada sang ibu, lantaran Dirga tengah menahan ledakan amarahnya.


"Siang, bu," sapa wanita itu dengan sangat sopan.


"Siang," balas ibunda Dirga dengan sedikit kecanggungan.


Dirga menarik pundak sang ibu agar berdiri di belakang tubuhnya, laki-laki itu sendiri yang akan menghadapi wanita di hadapan mereka ini. Pandangan tajamnya sama sekali tidak terputus dari wanita itu, menunjukkan rasa kebencian yang tak ada habisnya. Bagaimana bisa wanita itu tahu alamat rumahnya? Lalu, dengan beraninya datang dengan perut besar, seakan ingin menjatuhkan Dirga di depan ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Mau apa? Kita nggak punya urusan lagi. Gue udah bertanggung jawab atas apa yang gue lakuin," kata Dirga.


"Kamu belum tanggung jawab," balas wanita tersebut seraya memegang perutnya yang membesar.


Di belakang laki-laki tersebut, ibunya semakin menekuk kedua alis dengan perasaan bingung yang tak kunjung mendapatkan penjelasan. Wanita yang datang ke rumah mereka secara tiba-tiba ini membuat kebahagiaan yang sedari tadi dirasakan, menghilang begitu saja. Wanita paruh baya itu tak akan berbohong jika tidak bisa melepaskan pikiran negatif terhadap putranya—kendati dirinya yakin jika Dirga tidak melakukannya.


"Ibu, jangan percaya. Aku sama sekali nggak kenal perempuan ini," kata Dirga yang menjelaskan secara singkat terhadap ibunya.


Kepala sang ibu mendadak terasa pening sebelum mendapat penjelasan lebih. Dan diwaktu yang bersamaan, sebuah taksi lain berhenti di pelataran rumah Dirga, yang mana penumpang tersebut adalah Sakura. Suasana di sana terasa begitu mencekam, lantaran Sakura juga kebingungan usai melihat wanita hamil di depan rumah kekasihnya. Ditambah ibunda Dirga yang tampak tidak sehat.


Dengan berani Sakura menghampiri mereka semua—terutama wanita hamil itu. Sakura sama sekali tidak ragu menanyakannya langsung. Dia ingin mendengar penjelasan langsung dari wanita tersebut. Apa hubungan wanita tersebut dengan kekasihnya, Dirga?


"Maaf, anda siapa? Ada perlu apa?" tanya Sakura.


Hanya dalam hitungan detik, pandangan Sakura telah tertuju pada Dirga. Tatapan yang begitu tajam telah menusuk ke dalam retina laki-laki tersebut. Tanpa dijelaskan lebih, Sakura tahu kemana arah pembicaraan tersebut. Wanita itu hanya terdiam ketika menatap Liza yang hanya bisa menunduk seraya mengusap perutnya.


"Kalau begitu, kita semua masuk dulu," kata Sakura.


"Ra," panggil Dirga yang terkejut dengan perkataan kekasihnya itu.


"Lebih baik bahas di dalem, daripada ada tetangga yang denger. Kamu bakalan malu," timpal Sakura.

__ADS_1


Dia melangkah masuk, mengabaikan Dirga yang tidak bisa berbuat apa-apa, dan lebih memilih untuk membantu ibunda Dirga berjalan masuk ke dalam rumah. Keempatnya segera menempatkan diri pada sofa ruang tamu, yang mana pembicaraan ini akan sangat serius. Hanya dari cara Sakura duduk, Dirga sudah tidak berani untuk melawan kekasihnya itu.


"Sejak kapan kalian saling kenal?" tanya Sakura.


"Aku sama sekali nggak ken—" kalimat Dirga terpotong usai Sakura mendesis panjang. Pun membuat Dirga kembali terdiam.


"Dua tahun," jawab Liza.


Sakura terdiam sejemang, lantas menoleh ke arah wanita paruh baya yang terlihat masih syok. "Itu awal-awal aku sama Dirga pacaran, tante," tutur Sakura.


"Astaga, sayang. Aku nggak pernah kenal sama dia," Dirga masih berusaha untuk membela dirinya.


Kendati mendengar kalimat Dirga, Sakura tetap mengabaikan kekasihnya itu. Seluruh fokusnya dia arahkan pada wanita di hadapannya itu. Dirinya terlihat memiliki banyak pertanyaan yang ingin dilemparkan pada sosok wanita hamil tersebut.


"Berapa usia kandungannya?"


"Enam bulan,"


Masih terus diam, wanita itu menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sakura melipat kedua tangannya di depan dada, lantas menyandarkan tubuh pada sandaran sofa. Dia menggunakan gerakan tangannya untuk mempersilakan Dirga berkomunikasi dengan Liza. Akan tetapi, Dirga malah mengusir Liza dari rumahnya. Sakura sama sekali tidak berbuat apa-apa, dan hanya memilih untuk memperhatikan Dirga melakukan apa yang ingin laki-laki itu lakukan.


Lantas, usai berhasil mengusir Liza dari rumahnya, Dirga memutar tubuhnya dengan cepat. Dia menjelaskan pada Sakura jika bukan dirinya yang menjadi pelakunya. Namun, wanita tersebut sama sekali tidak memberikan respon yang berlebihan. Bahkan, dia sama sekali tak menatap manik Dirga, atensi seutuhnya teralihkan pada ibunda Dirga yang jelas terkejut dengan kabar ini.

__ADS_1


Wanita itu segera bangkit dari tempat duduknya, menuntun ibunda Dirga untuk beristirahat di dalam kamar. Sakura bisa merasakan apa yang dirasakan oleh ibunda Dirga saat ini, karena Sakura juga merasakan hal yang sama.


__ADS_2