Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Tawaran Baru


__ADS_3

Dengan keberaniannya, Sakura mengajak Riana untuk bertemu secara langsung. Dia hanya berpikir jika gadis itu tak akan mau berkata jujur jika berada di dekat Dirga. Apalagi Dirga begitu dekat dengan Ryan. Tentu saja, pertemuannya dengan Riana membuatnya berharap mendapatkan hasil yang baik. Setidaknya, dia tahu alasan dibalik Riana yang bersikeras ingin membantunya dan Dirga.


Wanita tersebut telah membawa dirinya menuju halte bus, bergegas menuju tempat yang telah diminta oleh gadis tersebut. Sedari tadi mulutnya hanya diam, namun pikirannya begitu penuh untuk menanyakan hal yang membuat dirinya tak betah ditelan penasaran. Entah apapun jawabannya nanti, Sakura rasa Riana tetap tak akan bisa ikut campur dalam urusannya bersama Dirga.


"Dasar bocah itu," gumamnya sendirian.


Sembari menunggu bus tiba, pandangannya terarah pada seberang jalanan. Hanya saja, tatapan wanita itu terus terpaku di sana, ketika melihat sosok wanita yang sangat tak asing baginya. Sakura berani mengatakan jika wanita di sana adalah sang ibu yang tengah menatapnya. Entahlah, Sakura tak yakin dengan penglihatannya saat ini. Dia sekilas memejamkan kedua matanya, mencoba melihat kembali ke arah tempat sang ibu tadi.


Memang benar, karena dirinya kurang beristirahat, Sakura hanya berimajinasi tentang keberadaan sang ibu. Pada kenyataannya, sosok tersebut menghilang dari seberang jalanan. Bersamaan dengan bus yang baru saja tiba, Sakura segera masuk ke dalam, mengabaikan bayangan tadi. Dia yakin jika itu akibat dirinya terlalu rindu sosok ibunya.


Presensi itu duduk dengan tasnya yang berada di atas paha. Lantas mengambil ponsel di dalamnya, membuka foto sang ibu yang terakhir dia miliki. Hanya memandang tanpa berkata apapun, dia takut jika akan menangis ketika mengatakan hal yang ingin dia ceritakan pada sang ibu.


"Andai aku bisa lihat Mama lagi," ucapnya dalam batin.


Tepat setelah kalimat itu dia ucapkan dalam hati, Sakura terkejut dengan bus yang secara mendadak berhenti. Hal tersebut menyebabkan seluruh penumpang di dalam sana seperti ditarik bersama.


"Kenapa ini?!"


"Ada apa?!"


Hanya kalimat-kalimat itu yang terdengar, seluruh penumpang sama terkejutnya dengan pengereman mendadak. Sakura sendiri menoleh guna melihat hal yang terjadi di depan sana. Namun, kedua maniknya hanya bisa membola saat menyaksikan secara langsung sesosok wanita membawa tas belanja.

__ADS_1


Tunggu, wajah wanita tersebut begitu mirip dengan sosok ibunya. Bahkan, seperti tak ada perbedaan apapun. Sama halnya, wanita itu juga menatap ke arahnya dengan senyuman lembut. Bahkan, duduk tepat di hadapan Sakura yang masih memegang ponsel dengan menampilkan foto ibunya. Dia sama sekali tak bisa berkata-kata dengan situasi seperti ini. Wajah wanita itu dengan ibunya terlalu mirip.


"Mama?" herannya dengan suara parau.


Tatapan yang begitu lekat, Sakura tak berkedip sama sekali ketika melihat wanita tersebut yang tengah tersenyum ke arahnya. Seakan dunia ini hanya diisi dia dan sang ibu. Jantungnya berdebar kuat ketika wajah senyum itu terarah untuknya.


"Jangan percaya siapapun, Sakura,"


Sedetik kemudian, dia terkejut ketika bus kembali berhenti di tempat tujuannya. Seakan baru saja terhipnotis, Sakura melihat wanita di hadapannya itu tersenyum lembut ke arahnya, layaknya mereka tak saling mengenal. Dengan segera wanita itu berjalan keluar dari bus. Tubuhnya masih berdiri di halte seraya melihat sosok wanita yang mirip dengan ibunya itu pergi.


Kedua kakinya telah keluar dari halte, namun baru beberapa meter melangkah, mendadak ia terhenti ketika mengingat hal yang dia alami di dalam bus. "Apa gue salah denger, ya?" bingungnya.


Dia menggeleng dengan cepat guna mengenyahkan pikiran itu. Lantas membawa langkahnya kembali menuju sebuah kafe yang mana akan menjadi tempatnya bertemu dengan Riana. Dari luar, Sakura telah melihat gadis tersebut telah menunggunya.


"Mau ngomong apa?" tanya Riana secara langsung tanpa basa-basi.


"Gue emang nggak mau basa-basi," jedanya, Sakura menegakkan tubuhnya sebelum kembali bersuara. "Mumpung nggak ada Dirga, lo bilang alasan lo mau bantu gue sama Dirga. Dan dari mana lo tau semua ciri-ciri dari arwah itu?" tanya Sakura.


Riana yang baru saja menyesap minumannya itu menyandarkan tubuhnya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Bukannya menjawab, gadis itu justru tertawa dalam waktu beberapa detik. Sakura kesal sekali dengan tawa itu, namun dia menahannya untuk tetap bersikap tenang. Lantas ia melihat dengan jelas ketika Riana mendekatkan tubuhnya.


"Yang bisa lihat hantu bukan cuma lo,"

__ADS_1


Sakura masih terdiam, namun tatapannya lebih lekat pada Riana. Jika memang itu penyebab Riana mengetahui sosok arwah tersebut, Sakura tak bisa menyalahkan Ryan yang mengirim gadis itu. Tapi, Sakura juga tak akan mau untuk mempercayainya dengan mudah. Dia mencoba untuk kembali mendengar alasan Riana lainnya.


"Gue tau, kalian lagi kesusahan cari pelakunya. Tapi, gue udah tau kalau pelakunya ada di kakak gue sendiri," kata Riana, kedua kaki gadis itu saking bertumpu, tanpa meletakkan rasa hormat terhadap Sakura yang lebih tua. "Nggak susah buat gue langsung nemuin hal itu. Dibanding kalian berdua, gue lebih tau gimana Ryan," imbuhnya.


Berbicara dengan Riana membuat Sakura berhati-hati untuk mengeluarkan tiap kalimatnya. Dia setia dengan bungkamnya, memutar otaknya dengan begitu keras untuk mengetahui hal lainnya. Akan tetapi, belum saja Sakura menimpali kalimat gadis itu, Riana justru kembali bersuara.


"Gimana kalau gue kasih bukti dulu? Dan gue rasa lo bisa langsung nerima bantuan gue tanpa pikir panjang lagi," tawar Riana.


"Bukti apa?" tanya Sakura.


Tangan Riana terarah ke belakang punggungnya dengan senyuman miring. "Ada bekas luka di punggungnya. Gue juga masih nyimpen baju terakhir yang dia pakai waktu kejadian itu," jawab Riana.


Di sana Sakura mulai bimbang, jika memang Riana memang benar mengatakannya, itu bisa mempermudahnya menangkap Ryan. Apalagi gadis di hadapannya itu memiliki bukti fisiknya. Sakura sampai mengulum bibirnya saking bimbangnya dengan penawaran tersebut.


Cukup lama Sakura berpikir untuk menerima atau tidak tawaran yang diberikan oleh Riana. Pasalnya, jika ia menolak, maka dia akan kesulitan dan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. Sedangkan bukti telah berada dekat dengannya.


"Jangan ngomong Dirga dulu. Karena ini urusannya cuma kita berdua," kata Riana lagi.


Dengan helaan nafas panjang, akhirnya Sakura menganggukkan kepalanya guna menerima tawaran tersebut. Tentu saja, Sakura memiliki syarat untuk hal itu.


"Bawa dulu buktinya. Kita ketemu lagi di tempat ini lusa," tandas Sakura yang langsung bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


Riana masih tersenyum miring ketika melihat Sakura pergi meninggalkannya seorang diri. Dia mengambil minumannya, menyesapnya sebelum berdialog sendiri.


"Lo bakal percaya gue seutuhnya,"


__ADS_2