
Setelah beberapa hari telah berlalu, Dirga dan Sakura kembali bertemu dengan perasaan yang jauh lebih baik. Keduanya bertemu usai jam kerja mereka berakhir. Kali ini tidak untuk membahas hal yang terjadi sebelumnya, hanya ingin bertemu untuk mengembalikan diri mereka seperti dulu lagi. Benar, ini adalah ide Sakura, yang mana wanita itu memikirkan Dirga ketika awal mengenalnya. Sakura hanya tak mau laki-laki itu kembali seperti Dirga yang dulu.
Wanita itu lebih dulu sampai ke tempat janjian mereka, namun Sakura langsung memasuki kamar mandi lantaran dia masih menggunakan seragam kerjanya. Dirga juga masih lama tiba ke sini, pun Sakura tak perlu terburu. Selama berganti pakaian, dia mendengar dua orang yang tengah membicarakan sesuatu. Bukan bermaksud untuk menguping, hanya saja suara kedua wanita itu terdengar jelas. Ah, mereka membicarakan berita beberapa hari lalu yang hingga kini masih dibahas.
Sakura hanya bisa terduduk seraya mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Akan tetapi, wanita itu tak menyangka jika orang-orang justru memberikan dukungan untuknya. Padahal, sebelumnya Sakura merasa ragu jika dirinya akan mendapat komentar buruk dari orang-orang yang mengetahui beritanya.
Disaat Sakura masih mendengarkan pembicaraan kedua perempuan itu, mendadak ponselnya berdering, yang mana sedikit membuatnya terkejut. Dia gelagapan, buru-buru menjawab panggilan Dirga. "Iya, tunggu bentar. Gue lagi di kamar mandi," kata Sakura yang langsung keluar dari sana.
Baru membuka pintu, pandangannya telah melihat ke arah cermin yang memperlihatkan dia perempuan tadi yang sedang menatapnya. Sakura sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum akhirnya menghalau pergi. Di depan pintu, Sakura menaikkan kedua alisnya dan melanjutkan langkahnya. Dia menemui Dirga yang telah memilih tempat untuk mereka duduk.
"Tau, nggak. Tadi, waktu di kamar mandi, ada orang yang ngomongin kejadian beberapa hari lalu," katanya seraya meletakkan diri di hadapan laki-laki itu.
"Siapa? Ngomongin apa?!"
Dirga terlihat sedikit kesal ketika ada yang membicarakan kejadian lalu. Namun, Sakura menenangkan laki-laki itu untuk tidak bertindak berlebihan. Sakura menarik nafasnya cukup panjang, dia memang berniat untuk menceritakan hal ini pada laki-laki itu.
"Cuma pengunjung yang kayaknya emang ngikutin kasus itu," dia menjeda kalimatnya, kedua maniknya sedikit menyipit sebelum kembali berbicara. "Tapi, anehnya mereka ngasih dukungan ke gue karena gue yang diculik Ryan," katanya lagi.
__ADS_1
Dirga menyandarkan tubuhnya, dia juga melipat kedua tangan sebelum menimpali kalimat Sakura. "Gue kemarin dateng ke kantor polisi buat memperjelas aja. Karena Ryan juga udah meninggal, jadi nggak ada hubungannya sama balas dendam Hanna," jelasnya.
"Lo ngelindungin Hanna?" tanya Sakura.
"Gue ngelindungin lo," Dirga melepas lipatan tangannya. Kali ini, dia yang akan memperjelas ucapannya pada Sakura. "Kalau gue sebut kasus ini karena dendam pribadi Hanna ke Ryan, udah jelas kasus ini bakal dihubungin sama makhluk halus. Tapi, gue bilang kalau kasus ini murni penculikan. Dan gue ngasih bukti ke polisi, kalau Ryan juga sempet ngancurin kaca mobil di dealer gue. Lo nggak akan ditanya-tanya soal hantu apapun itu," jelasnya lagi.
Sakura menutup mulutnya yang terbuka dengan salah satu telapak tangannya. Kedua maniknya juga membola, memberikan tatapan penuh rasa kagum dengan laki-laki di hadapannya itu. Perlakuan manis yang dilakukan tanpa sepengetahuan Sakura. Betapa beruntungnya dia bertemu laki-laki seperti Dirga.
"Tapi, kenapa di sana cuma disebutin tiga orang? Ada Riana juga," tanya Sakura.
"Riana juga di sana? Tapi, polisi kemarin cuma bilang tiga laki-laki. Kemana dia?"
"Kita ke sini bukan buat bahas ini. Sekali aja, kita ketemu tanpa mikir hal berat. Udah berbulan-bulan, lho, kita selalu mikir itu," kata Sakura.
Dirga tersenyum, lantas menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan wanita di hadapannya. Laki-laki itu menatap lekat Sakura yang tersenyum. Baru ia sadari, ini adalah pertama kalinya mereka merasa bebas karena sudah tak ada masalah lagi yang perlu mereka lakukan. Pun pribadi itu juga teringat akan sesuatu, salah satu tangannya terulur untuk mengambil sesuatu di saku jaketnya, tapi pandangannya langsung terarah pada jari manis tangan kirinya. Cincin itu masih berada di sana.
Membatalkan niatnya, atensi Dirga justru terarah pada cincin itu. Dia tak membicarakannya pada Sakura, pun dirinya mencoba untuk melepaskan cincin tersebut dari jarinya. Anehnya benda tersebut sama sekali tidak mau lepas dari jarinya. Apa yang salah? Dendam Hanna sudah terbalaskan.
__ADS_1
"Oh? Cincinnya masih belum lepas?" tanya Sakura.
Dirga mengangguk, dia masih berusaha melepaskan benda itu. Tapi masih tidak membuahkan hasil baik. Alih-alih berhasil dilepaskan, jarinya malah lecet dan kemerahan. Dia sampai merintih, merasakan perih pada jari manisnya.
"Jangan dipaksa, coba nanti kita cari sesuatu yang licin. Mungkin, karena udah kelamaan di sana," kata Sakura.
"Kayaknya. Berat badan gue juga sempet naik," kata Dirga yang menambahkan pendapat masuk akalnya.
Yang tadinya mereka ingin melupakan masalah itu, justru kembali terpikirkan karena cincin yang masih belum bisa terlepas dari tangan Dirga. Entahlah, menatapnya dari seberang, membuat Sakura sedikit khawatir. Dia takut jika cincin itu memang masih belum bisa dilepaskan sebelum mereka bertemu dengan Hanna. Itu berarti, mereka memang harus mencari keberadaan Hanna.
Dirga sendiri juga menyesali hal ini. Dia sudah ingin melakukan hal romantis pada Sakura, akan tetapi harus dibatalkan karena cincin itu. Bagiamana caranya melepaskan benda tersebut dari tangannya?
...****************...
Mereka sudah menghabiskan waktu berdua selama beberapa jam. Memang tidak banyak, itu karena Dirga harus mengurus mobil-mobil yang sempat hancur. Pun Sakura juga mendapatkan jam kerja lebih panjang, karena dia yang meminta hal itu pada atasannya. Dan saat ini, Dirga mengantarkan Sakura pulang ke rumahnya. Laki-laki itu juga tidak berniat untuk mampir, namun dia meminta pada wanita itu untuk menghubunginya.
Hanya selang beberapa menit, Dirga akhirnya pergi meninggalkan rumah Sakura. Wanita itu memperhatikan mobil Dirga sampai menghilang dari pandangannya. Lantas berjalan masuk ke dalam rumah. Saat selesai mengunci pintu rumahnya, wanita itu terkejut melihat Hanna yang tiba-tiba berada di belakang tubuhnya.
__ADS_1
"Hanna. Dari mana aja?" tanya Sakura yang cukup lega, akhirnya bertemu kembali dengan Hanna.
Namun, Hanna sama sekali tidak meresponnya. Hantu perempuan itu terus bergeming, dan enggan Sakura dekati. Dan yang membuat Sakura bertanya dalam hatinya adalah penampilan Hanna. Arwah perempuan itu kembali dengan penampilan Hanna yang pertama kali dia temui. Berlumuran darah.