
"Kemana aja, lo? Dua hari ini nggak kelihatan sama sekali,"
Itu adalah pertanyaan yang diajukan Ryan ketika melihat sepupunya yang baru saja tiba di ruangannya. Laki-laki itu duduk berhadapan dengan Dirga yang sedari tadi hanya terdiam dengan tatapan yang kurang fokus. Dan atas pertanyaan tersebut, Dirga hanya terdiam, tak terlihat ada minat untuk menjawab.
Ryan mengetuk kaca mejanya, menyadarkan Dirga dari lamunan yang tak berujung itu. Entah apa yang Dirga pikirkan, namun cukup membuat Ryan kebingungan. Pasalnya, saat mereka berhasil menyelamatkan Sakura, Dirga tampak begitu lega dan senang, akan tetapi setelah kejadian itu keduanya tak pernah bertemu kembali. Baru hari ini Ryan melihat sepupunya itu lagi, namun dengan air muka yang lebih menyedihkan dari terakhir yang ia lihat.
"Kenapa lagi, sih?" tanyanya dengan hembusan nafas serta tubuh yang bersandar. "Gue nggak heran kalau lo banyak diem begini, tapi dari penampilan lo yang aneh ini, nunjukin banget kalau ada sesuatu yang lo tutupin," kata Ryan.
Dirga turut bersandar, pandangannya sempat mengamati pakaian yang dia pakai. Memang, Dirga akui jika ia menggunakan pakaian yang berantakan tanpa ia sadar sejak tadi. Namun, dia sendiri juga enggan untuk mengubahnya. Toh, satu hari ini dia hanya akan berdiam diri di sini. Tak akan ada yang melihat penampilannya.
"Gue stres," ucap Dirga pada akhirnya.
"Kenapa?"
Dirga tak langsung menjawab, dia kembali melamun dengan kursi yang sengaja dia gerakkan. Pandangannya terarah pada sebuah pulpen di atas meja, tapi isi pikirannya terarah pada kejadian malam itu.
"Lo pernah dapet serangan dari hantu, nggak?" tanya Dirga.
"Nggak," jawab Ryan.
Tatapan laki-laki itu langsung terarah pada salah satu tangan Ryan. Dia masih melihat bekas luka cakar yang Ryan dapati minggu lalu. Hanya saja, Dirga masih mau belum membahasnya. Dia hanya menganggukkan kepalanya, sebelum melontarkan kalimat mengejutkan bagi Ryan.
"Nyokap gue diserang sama hantu yang pernah gue ceritain ke lo,"
Kalimat itu sukses membuat Ryan menegakkan tubuhnya dengan cepat. Kedua matanya membola, kedua tangannya berada di meja saking terkejutnya dengan perkataan sepupunya itu. "Hantu yang suka sama lo itu?" tanyanya dan langsung diangguki oleh Dirga.
__ADS_1
"Kok bisa? Sekarang gimana keadaan nyokap lo?" tanya Ryan dengan penuh kekhawatiran.
Sebelum menjawabnya, Dirga menarik nafasnya seraya mengakkan tubuh. "Sebenarnya bukan nyokap, tapi gue. Cuma, dia itu nyerang dengan cara mainin imajinasi gue. Nyokap diserang tepat di depan mata gue, sampai ada banyak darah di lantai. Bahkan, gue periksa nadi, udah nggak ada detaknya sama sekali," Dirga menjeda kalimatnya, dia sedikit menyipitkan matanya. "Anehnya, waktu gue bener-bener percaya kalau itu nyokap, tiba-tiba nyokap ada di belakang badan gue. Dan itu nyata," pungkasnya.
Ryan sampai tak bisa berkata-kata usai mendengar cerita Dirga. Pantas saja Dirga datang dengan raut wajah semacam itu. Namun, ia juga dengan tujuan hantu yang menyerang ibunda sepupunya itu.
"Kenapa hantu itu nyerang nyokap lo?"
"Karena dia mau balas dendam dengan bantuan gue," jawab Dirga.
Tepat setelah Dirga mengatakannya, Ryan semakin tak bisa berkata-kata. Dia menelan ludahnya saja kesulitan saat tatapan Dirga terarah padanya. Padahal, Dirga sendiri juga hanya menatapnya biasa, walaupun dalam benaknya tengah memperhatikan seluruh gerakan Ryan.
Semakin dia amati, Ryan justru semakin menghindari tatapannya. Ini memang membuat Dirga semakin yakin jika Ryan adalah pelakunya. Hanya saja, dia masih belum bisa membuat laki-laki itu mengaku dengan cepat. Ryan sendiri juga tak akan semudah itu untuk membuka mulutnya.
...****************...
Hari-hari bekerjanya saat ini tak menarik seperti dulu. Dia tahu, ini terjadi karena kejadian yang menimpanya. Bahkan, hingga detik ini Sakura masih tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Kendati ia telah banyak dihibur oleh Dirga, tetapi saat sendirian seperti ini, rasa takut dan bencinya kembali muncul.
"Kotor banget, gue," gumamnya disertai dengan senyuman miris.
Pandangannya terangkat, tepat di depan pintu toko, maniknya menangkap presensi Dirga berdiri tegap dengan kedua tangan yang berada di belakang tubuh. Sakura segera mengubah raut wajahnya. Dengan senyuman terpaksa, ia menyambut Dirga.
Laki-laki itu masuk ke dalam toko roti, berjalan mendekat ke arah meja kasir—tempat Sakura terduduk. Dirga langsung berjongkok di depan meja tersebut, sedikit membuat Sakura terkejut. Dan lebih terkejutnya lagi ketika Dirga meletakkan buket bunga tepat di atas meja. Jantung Sakura berdebar kuat.
"Lo nggak kotor. Lo cantik," kata laki-laki itu.
__ADS_1
Sakura tak bisa menahan senyumannya lagi. Dia benar-benar bahagia dengan lontaran kalimat itu. Setidaknya, hatinya terhibur. Pun ia mengambil buket bunga tersebut, melihat Dirga yang masih tersenyum kala melihatnya. Jujur saja, Sakura mencium aroma harum dari bunga pemberian Dirga itu. Dia akui, dia menyukainya.
Dirga sendiri masih membiarkan Sakura menikmati bunga pemberiannya. Bahkan, Dirga sama sekali tak bersuara ketika Sakura terus menatap bunga itu. Hanya sedikit candaan untuk membuat wanita di hadapannya terus tersenyum.
"Maaf ya, gue nggak bisa bawain bunga sakura. Udah gue cari sampai ke ujung kota tetep nggak ada," katanya melontarkan candaan.
Kontan membuat Sakura memukul lengan laki-laki itu. "Aneh banget, sih, lo. Di Jepang pun juga nggak ada sekarang. Belum musimnya," balas Sakura.
"Gue tau, lah,"
Keduanya tertawa bersama, lantas Sakura melihat Dirga yang akhirnya kembali berdiri, membuat wanita itu harus mendongak menatap laki-laki yang lebih tinggi darinya itu. Wajah Dirga juga mendadak berubah lebih serius dari biasanya. Mengundang Sakura untuk bertanya.
"Kenapa?" tanyanya dengan suara lembut.
"Gue semakin yakin, kalau Ryan pelaku utamanya," jawab Dirga.
"Alasannya?"
Beberapa detik laki-laki itu menatap wanita yang memasang ekspresi kebingungan. Lantas dia menarik nafasnya panjang sebelum menjelaskan apa yang membuatnya merasa yakin dengan perkataannya tadi.
"Gue cerita soal ibu yang diserang sama hantu perempuan itu. Dan ternyata sampai saat ini dia masih belum tahu kalau hantu perempuan itu adalah korban pelecehannya. Gue emang pernah cerita hantu perempuan itu ke Ryan, tapi dia cuma tau kalau hantu itu suka sama gue," Dirga kembali merendahkan tubuhnya guna mensejajarkan wajahnya pada wanita di depannya itu. "Tapi, setelah gue bilang kalau alasan dia nyerang ibu karena butuh bantuan buat balas dendam, Ryan langsung gelagapan ngehindarin tatapan gue," jelasnya.
"Gimana soal bekas luka di punggungnya?"
Dirga menyuruh wanita itu untuk tidak memikirkan hal itu. Karena Dirga akan mencari celah untuk memastikannya sendiri.
__ADS_1
"Gue pasti bakal lihat waktu dia berenang,"