Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Berharap Sadar


__ADS_3

Hari ini tidak seperti hari biasanya, yang mana udara sore ini cukup membuat air berubah menjadi es dengan cepat. Ditambah hujan deras yang telah membasahi bumi selama beberapa jam belakangan. Seorang laki-laki tengah berada di ruang tamu, terduduk dengan kaki yang bertumpu serta kedua tangan yang telipat di depan dada. Dia hanya mendengar suara jatuhnya hujan, serta aroma hujan yang masuk ke dalam indera penciumannya.


Karena libur, Dirga memilih untuk menghabiskan waktunya di rumah. Lagipula, dirinya ini harus pergi kemana? Entah sudah berapa lama Dirga tak bisa bertemu dengan Sakura. Wanita itu benar-benar melarangnya untuk menemuinya, ditambah tidak boleh menghubungi walau hanya sekedar mengirim pesan. Hal ini membuat Dirga lebih menderita, lantaran dia tidak sefrustasi ini ketika dia mengalaminya beberapa tahun belakang.


Dia memandang ke arah luar rumah dari pintu yang sengaja dibuka lebar. Melihat derasnya hujan saat ini, mengingatkannya akan kejadian dimana dia bertemu Sakura untuk pertama kalinya. Iya, ketika wanita itu masih menjadi pengantar kurir. Kontan Dirga mengangkat kedua alisnya lantaran dia baru teringat, jika ini adalah tepat satu tahun yang lalu ketika dia bertemu Sakura. Dan hari ini juga bertepatan dengan tanggal kematian mantan kekasihnya. Oh tidak, bagaimana ini? Selama setahun dia mengenal Sakura, mereka masih berada di lingkaran masalah ini.


"Untuk pertama kalinya gue lupa Nadia," katanya.


Laki-laki itu tersenyum, dia cukup lega karena tidak lagi memikirkan Nadia ditanggal kematiannya ini. Iya, semua pikirannya sudah teralihkan pada Sakura, disamping itu Dirga juga sudah tenang lantaran dirinya telah membuka penyebab kematian seluruh mantannya. Ya, walaupun belum sepenuhnya dia bisa membuang nafas panjang dan merasakan hatinya ringan. Masih ada satu masalah yang belum terselesaikan, yang mana masih membutuhkan waktu untuk membuat dirinya menderita lagi.


Disaat pikirannya masih terarah pada hak tersebut, secara tiba-tiba seorang wanita memasuki rumahnya tanpa mengetuk ataupun izin darinya. Dengan payung yang baru saja diletakkan di depan pintu, wanita itu masuk ke dalam rumah dengan begitu santai. Dirga sampai menegakkan punggungnya lantaran tak menduga jika akan kedatangan tamu.


"Ngapain dateng ke sini?" tanya Dirga.


"Kangen sama lo," jawabnya.


Laki-laki itu sampai tidak bisa bersuara lagi ketika memperhatikan sepupunya yang duduk tepat di sebelahnya—turut memperhatikan hujan di luar. Riana tersenyum tanpa alasan apapun, membuat Dirga ingin banyak bertanya padanya, akan tetapi dia harus berhati-hati untuk menanyakannya. Laki-laki itu tidak mau jika Hanna akan mendengarnya dan mengetahui semua ini hanyalah untuk mempermainkannya.

__ADS_1


Sedangkan Riana bertingkah begitu natural, seakan tak ada apapun yang sedang terjadi. Gadis itu tersenyum seraya memakan camilan yang berada di atas meja ruang tamu. Dia tak berbicara apapun, hanya diam tanpa membawa atensinya pada laki-laki di sebelahnya.


"Jangan bercanda, ngapain ke sini?" tanya Dirga lagi. Pasalnya, Riana perlu dipertegas supaya bersikap serius.


"Seriusan. Gue kangen," Riana menjeda kalimatnya, kembali memasukkan suapan kedua camilan tersebut. "Pengen lihat wajah orang bodoh yang bikin hidupnya sendiri makin rumit," katanya lagi.


"Nggak sopan. Ngomong yang bener!" kata Dirga yang semakin bersikap tegas.


Riana menepukkan kedua tangannya, menyingkirkan semua remahan dari camilan yang dia makan itu. Lantas tubuhnya sedikit dimiringkan ke arah Dirga. "Coba lo pikir baik-baik lagi. Kesalahan apa yang lo perbuat sampai bikin lo kayak gini lagi. Nutup diri dari banyak orang, menjauh dari semua perempuan karena takut bawa sial," pungkasnya.


Tepat setelah Riana mengatakannya, gadis itu justru bangkit dari duduknya. Sebelum benar-benar meninggalkan rumah itu, Riana kembali menghadap Dirga. "Sadarin hal itu. Dan setelahnya, lo seharusnya tau apa yang harus dilakuin," tandas gadis itu yang pergi meninggalkan Dirga. Dia berjalan menjauh di bawah payung miliknya.


"Gimana?" tanya Sakura tempat setelah Riana memasuki mobil.


"Ya udah coba ngomong sama dia. Kita tinggal berharap aja sih kalau dia sadar," jawab Riana.


Sakura hanya terdiam setelah mendengar penjelasan singkat dari gadis itu. Jujur saja, yang dia inginkan hanyalah kesadaran Dirga. Iya, kedatangan Riana untuk datang ke rumah laki-laki itu memang sudah direncanakan sebelumnya. Mereka berdua harus membuat Dirga mendatangi dukun itu untuk memohon sendiri. Karena dia bertanggung jawab atas ucapannya sendiri pada dukun tersebut. Toh, rencana Sakura jadi tidak berjalan karena buku tersebut sudah terlanjur melepas tangannya ketika berhasil mendapatkan Hanna.

__ADS_1


"Sebenarnya, agak ngeri juga waktu gue ngomong hal itu ke Dirga. Karena Hanna Mama mah ada di sekitar dia," kata Riana.


"Iya gue tau. Karena dia juga yang bikin gue nggak bisa ngomong sendiri ke Dirga. Padahal, gue harusnya ngomel lebih banyak ke dia," balas Sakura.


Di sebelahnya, Riana secara tiba-tiba tersenyum ketika mendengar kalimat yang baru saja dikatakan oleh Sakura. Gadis itu bisa membaca bagaimana perasaan Sakura saat ini. Bukan tentang perasaan kesalnya, tetapi perasaan asmara yang ditunjukkan pada Dirga.


"Emang bisa kebaca banget kalau lo itu udah jatuh cinta sama sepupu gue," ucap Riana.


Sakura mendadak terdiam ketika dia menyadari topik obrolan yang berubah secara tiba-tiba. Dia menatap ke arah Riana yang masih tersenyum menggoda. "B-bukan gitu. Kalau lo di posisi gue juga pasti kesel sama Dirga," timpal Sakura dengan bola mata yang bergerak acak.


Di sana Riana malah tertawa, seakan sakura terjebak karena ucapannya sendiri. Dia menyadarkan salah satu tangannya pada kaca mobil, lantaran mendadak merasa penasaran dengan kisah mereka berdua. Iya, dari awal pertemuan mereka yang hingga saat ini masih terhalang oleh hantu.


"Kalau kita ceritain semua yang lo tau tentang Dirga. Siapa tau, ada hal yang belum tau dari dia. Jadi, biar gue bantu kasih tau," kata Riana yang murah hati untuk memberikan banyak informasi tentang sepupunya itu.


Sebenarnya mendengar kalimat gadis itu membuat Sakura cukup tertarik. Hanya saja, dia sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang Dirga selain masalah yang selama ini mereka ada. Sebab itu dia hanya terdiam karena tidak bisa mengatakan apapun.


"Kenapa diem?" tanya Riana. Dia menatap Sakura yang mengalihkan pandangannya ke lain arah. "Jangan bilang kalau lo nggak tau apa-apa tentang Dirga?" tanya Riana lagi usai menebaknya. Namun, dia tidak menduga jika Sakura akan Menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Gue cuma ingat kalau hari ini tepat satu tahun setelah gue ketemu dia buat pertama kalinya," ucap Sakura.


"So sweet," ucap Riana dengan dengusan—dia mengatakannya dengan nada suara yang datar.


__ADS_2