
Hari telah berganti malam, waktu terus berlalu, tak membuat kegiatan Sakura dan Dirga terhenti begitu saja. Malam ini, keduanya justru tampak lebih serius dari sebelumnya. Apalagi dengan gambar Dirga yang telah dikerjakannya selama berjam-jam sudah mulai terlihat jelas kejadian yang berdasar dari bayangan yang Dirga dapati.
Sakura berdiri tepat di sebelah Dirga yang masih duduk dengan fokusnya. Wanita itu memperhatikan setiap detail yang Dirga gambar, mencoba untuk mencari sesuatu dari sana. Apapun itu yang dilihatnya, bisa saja menjadi bukti atau cara mencari pelaku tersebut. Dan ada satu bagian yang sejak tadi menarik perhatiannya.
"Coba, bagian luka ini lo inget lagi bentuknya,"
Dengan satu anggukkan kepalanya, Dirga menurut seluruh ucapan Sakura. Ini adalah keahlian Dirga, yang mana dia bisa mengingat jelas detail yang dia lihat. Keduanya seperti partner yang sempurna, saling membutuhkan satu sama lain. Karena keahlian yang dimiliki oleh Dirga itulah yang bisa membuat dirinya mudah untuk menentukan cara menemukan pelakunya.
Hingga akhirnya, gambar tersebut selesai di gambar. Masing-masing dari mereka mengeluarkan gelaan nafas penuh rasa lega. Pasalnya, usai berjam-jam fokus, keduanya berhasil menghasilkan gambar lain yang tak akan ditunjukkan pada siapapun—termasuk sepupu Dirga. Hanya ada tiga orang yang melihatnya.
Dirga melepas sarung tangannya lantaran seluruh telapak tangannya telah basah akan keringatnya. Namun, dia lupa jika ada Sakura di sini, pun terkejut saat mendengar suara wanita itu yang ketakutan saat berada di sebelahnya. Dirga sampai meminta maaf, lantaran melupakan hal ini. Akan tetapi, saat Dirga berniat untuk menutup tangannya kembali, Sakura menahannya. Wanita itu melihat ke arah arwah perempuan yang juga berada di sebelah Dirga. Dirinya tengah melihat reaksi dari arwah perempuan tersebut ketika melihat hasil lain dari gambar Dirga.
"Kayaknya, gambar lo yang sekarang lebih memuaskan buat dia," katanya dengan suara lirih.
Dirga menggeser hasil gambarnya ke tempat di mana arwah perempuan itu berada—kendati ia tak bisa melihatnya. Laki-laki itu menoleh ke arah Sakura, seakan menyuruh wanita itu untuk kembali melihat reaksi hantu tersebut. Sakura menganggukkan kepalanya beberapa kali, wajahnya juga mulai tersenyum, menandakan jika hantu itu senang dengan gambar tersebut. Bukan karena ingin melihat kenangan buruk tersebut, melainkan senang karena kejadian dari masa lalunya bisa terlihat jelas di hari ini.
Ya, melihat arwah tersebut yang puas, membuat Dirga dan Sakura juga ikut senang dan lega. Setidaknya, mereka semakin dekat dengan pelaku yang menjadikan arwah tersebut kehilangan nyawanya.
Disela-sela rasa bahagia itu, keduanya mendengar suara ketukan pintu. Bukan berasal dari kamar Dirga, melainkan dari lantai satu. Dirga dan Sakura saling bertukar pandang, sebelum akhirnya bergerak cepat merapikan seluruh kertas yang berserakan di atas meja. Entah siapapun yang datang, mereka sama-sama tidak ingin memperlihatkan gambar tersebut pada siapapun. Lantas keduanya segera keluar kamar guna memeriksa siapa tamu yang datang.
Berada di tengah-tengah tangga, Dirga dan Sakura sama-sama terhenti kala melihat Ryan yang secara mendadak datang bertamu. Ibunya sendiri yang menerima kedatangan sepupunya. Hendak memutar tubuhnya, Sakura menahan pergerakan laki-laki itu, menyuruh Dirga untuk menemuinya dan mencari tahu apa yang diinginkan oleh Ryan. Dirga saja sampai membuang nafasnya begitu kasar, lantaran dia melakukannya dengan terpaksa.
__ADS_1
"Mau apa lo?" tanya Dirga.
Di sebelahnya, sang ibu sampai menegur Dirga untuk bersikap baik pada sepupu sendiri. Namun, Dirga sama sekali tak mengindahkannya, sampai ibunya sendiri yang harus mempersilahkan Ryan untuk duduk di ruang tamu. Sejak tadi, Dirga hanya membuang muka, tak tertarik sedikitpun dengan keberadaan Ryan. Hanya dengan sang ibu, Ryan berbicara.
"Ryan ke sini itu cuma untuk mampir, tante. Udah lama juga nggak ngelihat tante," kata Ryan.
"Tante juga seneng bisa lihat kamu. Kabar ibu kamu gimana? Tante juga udah jarang komunikasi sama ibu kamu,"
"Gue nggak seneng, tuh," sela Dirga.
Ryan masih mencoba untuk abai, dia masih tersenyum untuk membuat sikap Dirga bisa kembali seperti dulu. Ya, walau dia tahu jika itu akan membutuhkan waktu yang lama. Lantas dirinya memasang senyuman lebar, bersabar menghadapi Dirga. Dan dengan ide dadakannya, Ryan bangkit dari tempat duduk bertingkah untuk mengakrabkan dirinya lagi dengan Dirga.
"Siapa yang nyuruh lo buat pergi ke sana?!!" Dirga kesal, mengerjar Ryan supaya tak memasuki kamarnya.
Namun, Ryan lebih cepat daripada dia. Hingga pintu tersebut terbuka, laki-laki itu terkejut dengan keberadaan seorang wanita di dalam sana. Dirinya menoleh cepat ke arah Dirga yang berada di belakangnya, menggoda sepupunya lantaran menyimpan seorang wanita di dalam kamar.
"Wah, ternyata lo udah bisa punya pacar lagi," kata Ryan. Tetapi, laki-laki itu kontan menekuk kedua alisnya, ketika memperhatikan raut wajah Sakura. "Bukannya dia kurir paket waktu itu, Ga?"
Sang pemilik kamar membawa dirinya masuk, menyuruh Ryan untuk pergi dan tidak ikut campur dalam urusannya. Dirinya membawa Ryan keluar dari kamarnya, hanya saja Sakura mendadak menahan tangan Dirga—menghentikan laki-laki itu. Tentu hal ini membuat Dirga kebingungan.
"Kenapa?"
__ADS_1
Hampir saja Sakura kelepasan untuk membahas tentang arwah perempuan itu. Dengan cepat dia menggelengkan kepala, melepaskan tangannya dari Dirga, serta membiarkan kedua laki-laki itu pergi meninggalkan kamar ini. Dan dia hanya memperhatikan kedua laki-laki itu yang pergi menjauh darinya. Sampai benar-benar hilang dari pandangannya, Sakura hanya bergumam.
"Kenapa arwah perempuan itu kelihatan marah?"
Wanita itu hanya bisa kembali menunggu Dirga di dalam kamar. Seraya berpikir apa yang sedang bercokol di kepalanya. Sampai beberapa menit menunggu, akhirnya Dirga kembali ke kamarnya guna menemui Sakura di sana.
"Kenapa?"
Sakura kembali menoleh ke sebelah Dirga, melihat arwah perempuan itu yang mulai lebih tenang dari sebelumnya. Lantas menatap Dirga untuk membicarakan hal tersebut padanya.
"Waktu Ryan ke sini, gue lihat hantu itu kayak marah banget. Bahkan, pandangan dia sama sekali nggak lepas dari Ryan. Apa mungkin dia takut kalau Ryan nemuin gambar itu lagi?"
"Bisa jadi, karena kita udah terlanjur nyanggupi untuk bantu dia balas dendam," katanya. Kedua tangan Dirga terlipat di depan dada sebelum kembali berbicara. "Dia nggak mau kalau ada barang hilang lainnya yang berkaitan sama masa lalunya dia,"
Keduanya sama-sama terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sakura rasa jika arwah perempuan yang selama ini selalu menempel dengan Dirga bukanlah sosok yang jahat. Dirinya hanya marah lantaran tak ada yang bisa membantunya, hingga akhirnya ketemu dengan dia dan Dirga. Saat Sakura ingin membicarakan ini pada laki-laki di sebelahnya, mendadak ia dikejutkan dengan Dirga yang berlari ke arah meja.
Terlihat laki-laki itu yang bergerak dengan terburu mengambil gambar yang mereka buat. Dirga mengamati dengan jelas luka yang terdapat pada punggung pelaku dalam gambar tersebut.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Sakura yang panik.
"Luka ini sama kayak yang gue lihat di punggung Ryan waktu itu," jawab Dirga.
__ADS_1