Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Dia Bersamamu


__ADS_3

Rambut setengah basah milik Dirga menandakan dirinya yang baru saja keluar dari kamar mandi, salah satu tangan tengah bergerak guna menghilangkan sisa-sisa bulir air pada rambutnya. Berdiri di depan pintu kamar mandi seperti ini membuat pikirannya melayang, bahkan mengingat wanita bernama Sakura yang ia temui beberapa hari lalu. Hingga detik ini, tak cukup waktu baginya menemukan alasan Sakura dapat mengetahui namanya tanpa petunjuk apapun. Gerakan tangannya juga melambat, kedua tungkainya bergerak menuju kursi yang biasa dia duduki kala melihat hujan turun. Kakinya saling memangku, segelas cokelat hangat juga menemani kesendiriannya saat ini. Dia masih sangat penasaran, kendati hal tersebut bukanlah bagian dari dirinya seperti biasanya.


"Cuaca hari ini sangat bagus, tidak ingin berjalan-jalan?"


Suara sang ibu mendadak masuk ke dalam indera pendengarannya, entah sejak kapan ibunya itu membuka pintu kamar. Dirga sama sekali tak menangkap suara deritan pintu. Pun ia melihat sang ibu yang berjalan mendekat ke arahnya, berdiri tepat di belakang kursi yang diduduki. Laki-laki itu merasakan hangatnya tangan sang ibu yang memegang kedua pundaknya, turut menatap ke arah luar jendela. Pribadi yang tengah menikmati waktunya itu hanya menggeleng beberapa kali guna menjawab pertanyaan sang ibu. "Aku harus ke dealer, bu. Ryan baru aja dapat mobil baru," jawabnya.


"Ryan beli mobil baru?"


Hanya tawa kecil yang keluar dari birainya sebelum memutar tubuh guna menghadap ke arah wajah ibunya. Dia memberikan penjelasan atas ucapannya tadi, dan sang ibu juga langsung memahaminya. Memang seperti itu pekerjaannya, mendapatkan mobil dengan harga murah, dan menjualnya dengan harga mahal. Untuk mendapat penghasilan lebih pun Dirga menyediakan jasa penyewaan, harga yang dipasang juga sesuai dengan jenis mobilnya. Semakin bagus mobil yang disewa, makan akan semakin tinggi juga harganya. Ini adalah pekerjaan yang dia tekuni setelah keluar dari pekerjaan lamanya. Lantas laki-laki itu berdiri seraya menatap wajah sang ibu, tersenyum tipis guna meminta pengertian sang ibu dan membuat janji pada wanita paruh baya itu untuk meluangkan waktu agar mereka bisa berjalan-jalan guna menghabiskan waktu berdua.


Setelah berhasil mendapatkan pengertian sang ibu, laki-laki itu memutar tubuh ibunya agar keluar dari kamarnya. Dia harus mengganti pakaiannya sebelum pergi ke dealer, dirinya bisa bernafas lega kala pintu kamar telah tertutup. Sejujurnya, dirinya juga tak tega untuk menolak permintaan sang ibu, tapi mengingat perlakuan ibunya padanya membuat Dirga tak ingin terlihat seperti anak laki-laki yang tidak bisa diandalkan. Dengan segera ia membawa diri untuk mengganti pakaiannya sebelum meraih kunci mobil yang berada di atas nakas. Pribadi itu melihat waktu pada arlojinya, bahkan langkahnya begitu cepat kala menuruni setiap anak tangga—seperti dikejar waktu. Bahkan, caranya berpamitan pada ibunya pun layaknya angin lewat tanpa berniat menghampiri sang ibu yang tengah berada di dapur.


Mobilnya telah meninggalkan garasi rumah, membawa laju kecepatan sedang pada jalanan yang terbilang cukup ramai. Dalam perjalanannya ini, tidak tahu ide dari mana, tetapi dia memiliki niatan untuk berhenti di minimarket tempat Sakura bekerja. Entahlah, pikiran dan tubuhnya selaras untuk membawanya ke sana. Hanya saja, Dirga tak memilih untuk masuk ke dalamnya dan berdiam diri di dalam mobil. Tubuhnya ia condongkan sembari memeluk roda setir guna menatap minimarket tersebut dari jarak kejauhan. Kedua netranya juga masih bergerak mencari sosok wanita selama beberapa menit, tapi tak menghasilkan apapun di sini. Tubuhnya bergerak memegang pintu mobil, namun terhenti secara mendadak kala menyadari seutuhnya apa yang sedang dia lakukan maupun harapkan. Kedua alisnya juga tertekuk kuat, dengan cepat ia membatalkan niatannya itu dan kembali melajukan mobilnya meninggalkan minimarket tersebut.


"Buat apa gue ngerasa penasaran? Bahkan, gue juga nggak minta dia supaya ngebales gue," gumamnya.


Dirga memang sedang berusaha untuk abai dan tak membuat rasa penasarannya semakin menggerogoti kepalanya sendiri. Lagipula hanya namanya saja yang diketahui Sakura, jadi dia pikir, hal itu bukanlah sesuatu yang harus ia pikir berkala. Aneh sekali memang dirinya itu, bertahun-tahun berusaha menghindari wanita saja bisa kalah hanya karena rasa penasaran lantaran seorang wanita baru yang mengetahui namanya dengan misterius.

__ADS_1


Sampai waktu berlalu, akhirnya mobil sedan itu berhenti pada tujuannya, Dirga turun dengan jaket yang dikibaskan guna merapikan penampilannya. Pandangannya menangkap beberapa pengunjung yang tengah bernegosiasi dengan Ryan, hanya senyuman tipis yang bisa dia berikan saat melangkah masuk ke dalam ruangannya. Di ruangannya itu, Dirga juga tak langsung duduk santai dengan kedua kaki yang berada di atas meja guna bersantai, dirinya mengambil salah satu kunci mobil untuk dibawa berjalan-jalan sebentar. Iya, mobil sedan hitam yang tidak memiliki banyak peminat. Mobil itu juga sudah kembali dalam keadaan baru, setelah Dirga segera memperbaikinya.


Dirinya tak membawa terlalu jauh mobil ini, pun juga dengan tidak memakan banyak waktu. Hanya sekitar sepuluh menit sampai akhirnya laki-laki itu kembali memasukkan mobil tersebut ke tempatnya. Baru saja membuka pintu, secara mendadak dirinya dikejutkan dengan keberadaan sepupunya yang berada di sebelah mobil, hampir saja Ryan mendapatkan umpatan dari Dirga sebelum laki-laki itu membungkam mulut Dirga dengan membawa berita. Hanya kerutan yang Dirga tunjukkan saat menanti apa yang dikatakan oleh Ryan.


"Cuaca hari ini bagus banget," kata Ryan.


"Lo bilang bawa berita!" kesal Dirga seraya memasukkan tangannya ke dalam saku.


"Maksud gue, berita cuaca hari ini,"


Dirga berdecak kesal, mendorong Ryan dengan sikunya lantaran kelewat kesal dengan candaan sepupunya itu, hanya membuang waktunya untuk hal yang tidak berguna. Dengan dada yang masih menggebu akibat sepupunya sendiri, Dirga memasuki ruangannya dengan sedikit kasar. Sampai-sampai suara debuman pintu itu cukup keras kala Dirga menutupnya. Namun tak keras dengan teriakannya yang terkejut melihat seorang wanita di ruangannya. Tamunya juga ikut terkejut karena suara Dirga.


Gerakan langkah Dirga cukup lambat untuk bisa membuatnya duduk di kursi, pandangannya juga tak terlepas dari Sakura yang secara tiba-tiba berada di ruangannya. Wanita itu akhirnya menjelaskan kedatangannya di sini dengan tujuan untuk membalas hutang budinya kala itu. Ada bingkisan yang sengaja dia bawa untuk Dirga. Tapi, bukan hal semacam ini yang dia bayangkan sejak tadi saat memiliki tujuan baik ini.


"Jangan natap gue. Lo bisa bikin lubang di tubuh gue," ucap wanita itu.


"Siapa yang ngizinin lo masuk ke ruangan gue?"

__ADS_1


"Gue sudah izin," dia memberikan jeda pada kalimatnya, pandangannya beralih kala berusaha mengingat sosok yang memberikannya izin untuk masuk ke sini. "Siapa nama orang tadi?" tanyanya pada diri sendiri dengan suara yang sangat lirih namun masih bisa didengar oleh Dirga.


"Ryan?"


"Iya, lo bener,"


Keduanya mendadak hening, dan untuk menghancurkan kecanggungan ini, Sakura menyerahkan bingkisan yang sengaja ia bawa sesuai janjinya yang ingin membayar hutang budi. Dirga menerima bingkisan tersebut juga dengan gerakan penuh keraguan. Apalagi saat melihat Sakura memasang senyuman yang menampilkan jajaran giginya. Dia merasa sangat aneh dengan tamunya ini. Ada kebingungan lain yang baru saja bercokol di kepalanya tentang Sakura. Darimana dia mengetahui jika Dirga bekerja di sini? Cukup lama Dirga bermain dengan pemikirannya sendiri tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Dirinya berdeham singkat ketika Sakura menjentikkan jari tepat di depan wajah Dirga. Salah satu tangannya menyingkirkan bingkisan pemberian wanita itu ke meja kerjanya, mungkin saat ini dia akan melemparkan beberapa pertanyaan yang membingungkannya belakangan ini, dan itu sangat mengganggunya.


"Oke, lo buat gue bertanya-tanya," jedanya, dia membasahi material kenyal tersebut sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Gue ingat dua pertemuan kita sebelum hari ini, tapi bisa nggak—"


"Dua pertemuan? Pertemuan kita sebelumnya sebanyak lima kali," Sakura menyela.


Semakin kentara guratan kebingungan di paras laki-laki itu. Sakura sendiri juga tidak sabar jika harus menunggu respon dari Dirga yang begitu lama. Tanpa membuang lebih banyak waktu, wanita itu membuka mulutnya untuk mengeluarkan semua penjelasannya. "Pertama, gue nganter paket ke rumah lo. Yang kedua, lo dateng ke minimarket tempat gue kerja. Ketiga, saat gue sama atasan gue dateng ke sini buat beli mobil van putih sebagai mobil pengantar kue dengan potongan harga dua puluh persen yang lo kasih. Keempat waktu gue mendadak nyegat lo karena perempuan itu. Dan yang kelima, waktu kita ketemu di pemakaman. Mungkin yang ketiga lo nggak inget," jelasnya yang begitu rinci. Tetapi, semua kalimat itu belum menjadi penjelasan akhirnya, lantaran ada satu hal lagi yang perlu di jelaskan pada Dirga. "Gue tau nama lo dari sana," pungkas Sakura seraya menunjuk papan nama yang berada di atas meja Dirga.


Tak ada kalimat apapun yang Dirga berikan guna menimpali semua penjelasan Sakura. Pribadi itu kelewat bingung dengan semua pekerjaan yang dilakukan wanita di hadapannya itu. Bukan satu, tetapi tiga pekerjaan dilakukan oleh seorang wanita. Ucapannya yang sempat terpotong tadi juga tak mampu ia lanjutkan, lantas Dirga hanya menyadarkan tubuhnya seraya menelisik lebih jauh dibalik manik karamel milik Sakura itu. Hanya saja, beberapa menit setelahnya Dirga justru mendengus singkat, seakan ada sesuatu yang diremehkan.


Perlahan laki-laki itu mulai memahami semua pertemuan mereka berdua, tapi untuk saat ini memang dirinya tak memiliki kalimat apapun untuk membalasnya. Dengan helaan nafas cukup berat, Dirga rasa memang sudah cukup mendengarnya, semua rasa penasarannya juga terbayarkan secara kontan dari sumbernya langsung. Lantas dia berniat untuk menyuruh Sakura untuk pergi meninggalkan ruangannya, namun tak sempat saat Sakura lagi-lagi menyelanya.

__ADS_1


"Ey, waktu perjalanan dari pemakaman, lo bilang kalau lo sial bagi perempuan, tapi tadi lo pergi sama perempuan,"


"Perempuan?"


__ADS_2