
Keluar dari toko, Sakura menenteng tas berisikan beberapa roti yang memang diberikan oleh atasannya untuk dua pegawai yang bekerja di tempat ini. Wanita itu keluar dengan pandangan yang terfokus pada beberapa roti di dalam kantung tersebut. Langkahnya tengah mendekat ke arah jalanan, hanya saja suara klakson panjang mengejutkannya. Beruntung apa yang dibawanya tidak menjadi tumbal.
Sakura melihat mobil milik Dirga yang parkir beberapa meter dari tempatnya berdiri saat ini. Dirinya sempat terdiam seraya berpikir untuk beberapa saat. Dia pikir jika Dirga sudah pergi meninggalkannya sejak laki-laki itu keluar dari toko, tapi ternyata dia malah menunggu sampai dirinya pulang. Tak ada pilihan lain selain dirinya menghampiri mobil tersebut.
Walau masih disertasi dengan sedikit rasa bersalah, Dirga masih mau menerima dirinya—bahkan sampai menunggu dirinya pulang bekerja. Sakura hanya bisa memasang senyuman tipis ketika tatapannya bertemu langsung dengan laki-laki itu.
"Bawa apa?" tanya Dirga yang langsung memulai obrolan.
"Oh, ini roti. Dibawain sama Bu Bos," jawab Sakura.
Dirga hanya menganggukkan kepalanya, lantas membawa mobilnya melaju meninggalkan tempat kerja Sakura. Dan selama mobil itu melaju, tak ada obrolan apapun yang mengisi keheningan. Sakura sampai menoleh beberapa kali ke arah laki-laki di sebelahnya, seakan memastikan waktu yang tepat untuk meminta maaf lebih dulu pada laki-laki itu.
__ADS_1
Dia pikir, saat ini adalah waktu yang tepat, lantaran keadaan mereka berdua juga telah sama tenangnya. Pun dengan dehaman singkat, akhirnya Sakura membuka mulutnya.
"Dirga," panggil wanita itu dengan suara yang begitu lembut, membuat sang pemilik nama menoleh singkat. "Maaf ya, kalau tadi siang kalimat gue keterlaluan," katanya lagi dengan kepala yang tertutup serta kedua tangan yang menyatu di atas pahanya.
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sakura hanya membuat laki-laki itu tersenyum tipis. Tangan kirinya terangkat kenapa nggak usah pucuk kepala wanita tersebut. "Kenapa masih dipikirin, sih. Gue juga sama sekali nggak sakit hati," tuturnya.
Sakura tak bisa menimpalinya lagi, dia masih terus bungkam dengan rasa bersalahnya. Memang, dia mendengar kalimat Dirga itu begitu tulus. Dan karena ketulusan itu yang semakin membuatnya tak enak terhadap laki-laki itu. Tapi, dia bersyukur lantaran Dirga juga tak memperpanjangnya.
"Gue mau nanya, deh. Tapi, tolong jangan tersinggung, ya," pintanya terlebih dahulu dan langsung mendapat anggukkan kepala dari Dirga. "Kita sering banget dateng ke makam Nadia, tapi kenapa lo nggak datengin semua makam mantan lo?" tanya Sakura.
"Sebenarnya, gue nggak tau dimana semua makam mantan gue lainnya. Karena keluarga mereka udah terlanjur benci sama gue," jawabnya. Laki-laki itu menoleh dan mencoba membaca air muka yang terpasang diwajah wanita itu. "Apa jawaban itu udah jawab rasa penasaran lo?" tanya Dirga.
__ADS_1
"Udah," jawab Sakura.
Hanya saja, tatapan wanita tersebut masih terlihat begitu sayu, seakan masih ada yang ingin dia bicarakan. Bukan soal mantan kekasih Dirga lagi, tapi hal lain yang ingin dia tahu kebenarannya.
"Tapi, Ryan waktu itu bilang kalau lo sebenarnya nyembunyiin letak makam mantan lo yang lain. Dan dia juga bilang kalau lokasinya sebenarnya sama kayak lokasi makamnya Nadia," tutur Sakura.
Dirga sampai menarik nafasnya panjang, menelaah setiap kata yang terucap oleh wanita tersebut. Dia menggelengkan kepalanya sebelum menajwabnya dengan ucapannya sendiri.
"Selama ini target kita adalah Ryan. Anggap aja, kalau dia lagi mempengaruhi lo supaya benci sama gue. Ya, sederhananya, itu cara dia nyerang kita," timpalnya.
Sakura menganggukkan kepalanya, pun pikirannya juga masih terbawa dihari dia bertemu dengan Ryan di pemakaman. Yang mana, laki-laki itu mengatakan baru saja dari makam Nadia. Karena memang hal itu tidak masuk akal. Secara makam Nadia dan makam keluarganya saja sangat dekat. Sakura sama sekali tak bertemu dengan laki-laki itu saat mengunjungi makam keluarganya.
__ADS_1