Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Pesan di Balik Foto


__ADS_3

Selama menyetir, Dirga diam dengan pandangan yang begitu kosong. Baru kali ini Sakura melihat sisi Dirga yang berbeda. Mungkin karena semua foto yang dilihatnya. Ada sedikit rasa penyesalan saat dirinya melapor pada ibunda Dirga, yang mana malah membuat laki-laki ini datang menemui dan melihatnya secara langsung.


Ingin sekali Sakura mengajaknya berbicara, hanya saja ia takut alih-alih membalas kalimatnya, ia justru akan semakin membuat suasana hati Dirga memburuk. Jadilah keduanya hanya terdiam saat Dirga akan mengantar Sakura ke tempat kerjanya. Berakhirlah dengan wanita itu yang hanya menatap jalanan di depan.


Saking lamanya terdiam, Sakura baru menyadari jika Dirga membawanya pergi ke suatu tempat. Dimana tempat tersebut bukanlah tempat kerjanya. Ini adalah tempat kerja Dirga. Dia menoleh cepat dengan air muka kebingungan. "Dirga, ini bukan tempat kerja gue," katanya dengan sedikit keraguan.


Dirga yang baru saja menyadarinya itu juga hanya terdiam, menatap dealer-nya dari dalam mobil. Kepalanya menoleh ke arah Sakura yang tampak menekuk wajahnya. Lantas laki-laki itu tertawa kecil, dia menyadari kesalahan yang dibuatnya. Kendati begitu, Dirga juga tak segera mengantar Sakura untuk pergi ke tempat kerjanya. Dirinya keluar dengan begitu santai, sampai-sampai Sakura menyusul dan menarik ujung pakaiannya.


"Dirga, anterin gue ke tempat kerja. Kenapa malah keluar?" tanyanya.


Tangan Dirga melepaskan tangan Sakura yang memegangi pakaiannya. Lantas dia meletakkan kunci mobil yang baru saja dia masukkan ke dalam saku celana pada tangan wanita itu yang ia genggam saat ini. "Bawa aja mobil gue," kata Dirga yang langsung meninggalkan Sakura di sana.


Sungguh, Sakura sampai tak bisa berkata-kata disaat tubuhnya hanya mematung di depan dealer dengan tangan yang menggenggam mobil milik Dirga. Dengan hembusan nafas panjang, Sakura memutar tubuhnya. Ia benar-benar akan membawa mobil Dirga ke tempat kerjanya hari ini. Toh, laki-laki itu yang menyuruhnya. Apalagi Sakura tak memiliki banyak waktu untuk mencari transportasi umum. Kedua tungkainya berjalan mendekat ke arah pintu, hanya saja dia terkejut saat kunci mobil itu kembali diambil oleh Dirga.


"Ayo, gue anter. Gue nggak mau mobil gue rusak,"


Wah, hampir saja Sakura merasa tersentuh dengan kebaikan Dirga yang berubah pikiran untuk mengantarnya. Tapi ternyata, dia justru lebih mengkhawatirkan mobilnya sendiri. Baiklah, memang pada dasarnya Sakura tidak boleh merasa menjadi seseorang yang dipentingkan oleh Dirga. Jangan berharap.


Dengan sedikit decakan kesal, Sakura kembali masuk ke mobil. Iya, Dirga benar-benar mengantarnya ke tempat kerja. Disaat Dirga meletakkan seluruh fokusnya pada jalanan, Sakura hanya melipat kedua tangan di depan dada dengan raut wajah yang masam. Sesekali memberikan lirikan menyalang pada Dirga karena sikap sok dinginnya itu. Sakura memutar bola matanya jengah ketika kalimat Dirga tadi kembali terngiang di telinga.

__ADS_1


"Gini-gini gue bisa nyetir mobil. Sekalipun kecepatan tinggi, mobil lo tetep bakalan mulus," sungut Sakura.


Wanita itu mengalihkan pandangannya keluar jendela, masih dengan perasaan kesal mendapat remehan itu dari Dirga. Dia tidak pernah menunjukkan keahlian menyetirnya di depan Dirga, jadi laki-laki itu belum tahu bagaimana caranya saat mengendarai mobil.


"Gue cuma nggak mau lo kayak semua mantan gue yang gue biarin mereka buat nyetir mobil sendirian,"


Kalimat Dirga itu sukses membuat Sakura terdiam, lipatan tangannya juga terlepas perlahan. Tubuhnya merasakan gelenyar aneh, menjalar sampai ke dadanya. Sakura tak bisa menimpali ucapan Dirga.


...****************...


Di depan kasir saat ini, Sakura hanya duduk sendirian dengan menyandarkan punggungnya ke dinding. Toko kue siang ini sedang kosong, tak ada satupun pengunjung yang datang. Wanita itu melamun sepanjang jam kerjanya, entah apa yang ada di kepalanya. Namun, ketika mengingat sesuatu, dirinya mengambil tas selempang yang ada di bawah meja.


Tanpa sepengetahuan Dirga, dia membawa seluruh foto yang dikirim oleh orang tak dikenal. Di balik salah satu foto, terdapat sebuah tulisan yang baru saja dia sadari. Kedua maniknya menyipit, membaca dengan seksama tulisan tersebut. Tulisan yang menyuruh dirinya untuk lepas tangan membantu Dirga mencari tahu pelakunya.


Ada sedikit rasa kesal ketika membaca kalimat itu. Tapi, Sakura tersadar, jika seseorang mengirim pesan tersebut, artinya ada orang lain yang selama ini memperhatikan semua hal yang dilakukannya bersama Dirga. Kedua alis Sakura tertekuk dengan kepala yang sedikit dimiringkan. Dia harus mengatakan hal ini pada Dirga. Maniknya terlihat begitu tajam ketika kepalanya tengah bekerja.


Hanya saja, mendadak Sakura terjingkrak saat seseorang menepuk pundaknya. Tepukan itu berasal dari atasannya. Sakura sampai mengelus dadanya sendiri, namun merasa lega diwaktu yang bersamaan.


"Ibu, ngagetin aja," katanya.

__ADS_1


"Kamu ini dari tadi cuma ngelamun. Apa sih yang dipikirin?" tanya sang atasan.


"Cuma masalah pribadi, kok, bu,"


Wanita berusia empat puluh tahunan itu menganggukkan kepalanya. Namun, melihat Sakura yang sendirian di ruangan ini, tak membuat pemilik toko tersebut berniat untuk meninggalkannya. Justru dengan adanya kesempatan ini, membuat pemilik toko tersebut senang untuk menggoda pegawainya.


"Berantem sama pemilik dealer itu?" tanyanya dengan nada suara yang sengaja dibuat-buat, serta kedua alis yang naik-turun bersamaan.


"Dirga maksud ibu?" tanya Sakura. Setelahnya dia sambung dengan kekehan ringan. "Nggaklah, bu. Kan waktu itu udah saya bilang, kalau dia nggak tertarik buat punya hubungan," kata Sakura lagi.


"Oh iya, yang kamu bilang dia nggak tertarik sama perempuan. Saya juga lupa,"


Entahlah, mendengar kalimat atasannya itu sukses membuat Sakura tertawa. Ia tahu jika atasannya itu salah memahami kalimatnya, namun ia juga tak bisa mengatakan yang sebenarnya. Bagaimanapun juga, semua yang ia tahu tentang Dirga adalah hal privasi laki-laki itu, yang mana juga harus dia jaga. Kalau-kalau akan ada orang yang salah paham saat mendengarnya. Begini saja, atasan Sakura sudah salah paham lebih dulu.


Usai beberapa menit berlalu, Sakura kembali seorang diri setelah sang atasan meninggalkannya lagi. Kedua sudut yang terangkat, langsung turun serempak. Pandangannya kembali terarah pada foto-foto yang ia sembunyikan dari atasannya. Mencari aman, buru-buru Sakura masukkan kembali semua foto tersebut. Hanya dengan imajinasi dan memori kepalanya, Sakura mengingat seluruh foto tersebut.


"Kenapa orang itu ngirim semua foto mantan Dirga ke gue?" batinnya.


Sakura terus melamun seraya pikirannya bekerja keras memikirkan foto-foto tersebut. Bahkan, dia sampai mencari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada semua mantan Dirga, hanya saja belum ada satupun kemungkinan tersebut yang masuk akal.

__ADS_1


Dia menggunakan tangannya sebagai penyangga kepala, maniknya bergerak acak ke segala arah. Beberapa menit dalam posisi seperti itu, mendadak kedua alisnya terangkat bersamaan dengan manik yang juga membesar.


"Apa mungkin sesuatu terjadi sama mereka sebelum kecelakaan?"


__ADS_2