
Sekilas melihat jam di pergelangan tangannya, Sakura bergegas keluar rumahnya. Dia telah ada janji dengan sosok yang akan menunjukkan bukti tersebut padanya. Kepalanya juga tengah mempersiapkan semuanya yang aman dia berikan pada Riana.
Wanita itu telah memberitahu Dirga sebelumnya jika hari ini akan kembali bertemu dengan Riana. Dia menolak kala Dirga menawarkan diri untuk mengantar. Toh, yang paling penting jika dirinya telah siap untuk menghadapi Riana nantinya.
Bersama dengan taksi, dia telah dalam perjalanan menuju lokasi kemarin yang menjadi tempat pertemuan pertama mereka. Di dalam taksi pun, Sakura tetap mengabari dan memastikan jika Riana membawa barang bukti tersebut. Dia tak mau kedatangannya hari ini akan sia-sia tanpa hasil yang telah dia rencanakan. Bukan hanya itu, Sakura tetap dipantau oleh Dirga dari kejauhan. Memang, pada dasarnya hari ini Dirga masih berada di tempatnya bekerja, namun tak berhenti mengirim pesan pada Sakura.
Hingga pada akhirnya taksi tersebut membawanya tepat di depan kafe itu. Sakura masih belum melihat adanya kendaraan dari gadis nakal itu, menandakan jika dirinya tiba lebih dulu. "Gue masuk duluan ajalah," gumamnya yang langsung memasuki kafe tersebut dan menempati tempat yang sama.
Manik wanita itu bergerak guna bekerja lebih keras. Entahlah, Sakura mendadak begitu serius terhadap Riana. Mungkin karena gadis itu begitu meyakinkan dengan bukti yang ada dan ia butuhkan.
"Nggak pernah gue ngerepotin diri sendiri kayak gini," gumamnya.
Pandangan Sakura turun pada layar ponselnya, lantaran Riana masih belum datang usai dirinya menunggu selama lebih dari dua puluh menit. Akan tetapi, setelah tiga puluh menit lamanya, dia terkejut dengan sesuatu yang dengan sengaja di lemparkan pada kursi di hadapan Sakura. Cara seperti itu membuat Sakura seperti ingin menghentikannya.
"Dasar anak nakal," ucapnya tepat di hadapan Riana.
Mengabaikan kalimat Sakura, Riana segera meletakkan diri pada kursi yang kosong. Ya, dengan penampilannya yang terlihat seperti gadis berangasan, dia memasang senyuman ke arah Sakura. Terlebih, dia terlihat seperti sedang menggoda Sakura dengan menaikkan salah satu alisnya.
Tentunya, Sakura abai dengan tingkah tersebut, wanita itu mengambil bukti yang dibawa oleh Riana. Memang, dari benda yang tengah dipegangnya ini terlihat sama persis dengan salah satu gambar Dirga yang hingga saat ini masih berada padanya. Bahkan, Sakura mengamati tiap serat kain pada baju tersebut. Dirinya sama sekali tak bisa berucap, lantaran apa yang ada ditangannya adalah bukti nyata dari kejadian masa lalu Ryan dan arwah perempuan itu.
__ADS_1
Sakura memasukkan pakaian tersebut ke dalam tas, dia mengangkat wajah dan menatap gadis di depannya. "Kenapa masih ada bercak darahnya?" tanya Sakura.
"Bau darah itu menyegarkan," jawab Riana.
Kontan Sakura menyipitkan kedua matanya, merasa jawaban Riana terlalu menjijikan untuknya. Selain itu, Sakura rasa Riana adalah gadis aneh. Bukan hanya dari penampilan, melainkan tingkahnya juga sama. Mendadak dia kembali ragu. Pun dengan satu hembusan nafas panjang, Sakura membalas ucapan Riana itu.
"Kalau sikap lo aneh begini, gue semakin yakin untuk nggak ngebutuhin bantuan lo. Gue cuma butuh orang waras," kata Sakura.
"Oke, sorry kalau gue kelewatan. Tapi, seenggaknya lo udah percaya, kan, gue punya buktinya?"
"Untuk sekarang, gue emang percaya sama lo. Tapi, nggak tau kedepannya," balas Sakura yang langsung bangkit dari tempat duduknya seraya mengambil bukti tersebut. Dia menatap ke arah Riana sebelum kembali berujar. "Yang gue butuhin sekarang cuma pergerakan Ryan. Bakalan lebih gampang kalau lo yang ngikutin dia. Setelah itu, kabarin gue,"
...****************...
Wanita itu bergegas menuju tempat bekerjanya. Dia menyimpan barang bukti itu bersama dengan barang-barang lainnya di dalam loker karyawan. Bahkan, Sakura juga menguncinya untuk mengamankan bukti tersebut. Dia harap, semua tak mendapat halangan apapun, dan dia juga bisa segera mendapat kabar dari Riana.
Dia duduk seorang diri dengan jantung yang berdebar cukup kencang. Pandangannya tak terlalu fokus terhadap lingkungan di sekitarnya. Iya, hal ini juga disebabkan oleh barang yang dibawanya. Rasanya tercampur jadi satu, saat dia harus menjaganya sampai bertemu dengan Dirga nantinya.
Ponsel yang berada di sebelahnya itu menyala, menandakan sebuah pesan yang baru saja memasuki gawai tersebut. Sempat mengira jika pesan tersebut berasal dari Riana, tapi justru Dirga lah yang mengirimkannya pesan. Itu balasan atas pesan sebelumnya—perihal Sakura memberi tahu Dirga tentang barang bukti yang telah berada di tangannya.
__ADS_1
"Bikin kaget aja," cicitnya.
Wanita itu tengah mengetik guna membalas pesan yang dikirimkan oleh Dirga. Akan tetapi, belum saja dia mengirimkan pesan tersebut, sebuah pesan lain masuk ke dalam ponselnya. Iya, pesan itu berasal dari Riana. Pada akhirnya, Sakura mengabaikan pesan Dirga dan beralih pada pesan yang baru saja dia dapatkan itu.
Kedua matanya bergerak dengan teliti membaca setiap tulisan yang tertera di sana. Sakura sedikit terkejut lantaran Riana memberikan banyak laporan tentang Ryan beberapa hari ke belakang. Bahkan, laki-laki itu juga datang ke banyak tempat, yang mana salah satu alamatnya menjadi perhatian Sakura.
"Oh? Bukannya lokasi itu.." Sakura tidak dapat melanjutkan kalimatnya sendiri, dia merokok salah satu saku celananya guna mengambil kertas lipatan yang dia temukan di dalam jaket Dirga. Sakura ingin memastikan sendiri jika alamat tersebut adalah alamat yang sama. "Ryan datang ke penjara? Siapa yang ada di sana?" tanya Sakura pada dirinya sendiri.
Ketika dirinya sedang berpikir, dia kembali dilanjutkan dengan adanya panggilan masuk yang berasal dari Dirga. Ah, Sakura baru mengingatnya jika pesan Dirga tidak dibalas, pasti laki-laki itu akan segera menghubunginya. Dia sampai berdecak tempat sebelum menjawab panggilan tersebut.
"Kenapa telepon? Sabar dong, pesannya juga baru mau dibales," kata Sakura.
"Kelamaan balesnya,"
Pandangan Sakura masih terfokus dengan lokasi yang tertera pada kertas lipatan tersebut. Dia sama sekali tidak memiliki informasi apapun tentang Ryan sebelumnya. Sebab itu, sakura merasa aneh dengan kedatangan Ryan ke penjara. Dan karena terlalu lama karena diam, Dirga sampai mengejutkan dirinya.
"Dirga, nanti kita ketemu langsung aja, ya. Tepat sehabis gue pulang kerja. Sekarang gue matiin dulu. Ada pelanggan dateng," kata Sakura.
Sebenarnya, tak sungguh-sungguh ada pelanggan, wanita itu hanya ingin sekarang menyelesaikan panggilannya supaya dia bisa mencoba untuk memikirkan pesan Riana dengan alamat yang ada di tangannya sekarang.
__ADS_1
"Siapa yang Ryan datengin di penjara? Buat apa juga dia dateng ke sana?" tanya Sakura pada dirinya sendiri.