
Kotak yang telah terbungkus dengan rapi berisikan sebuah roti yang diinginkan oleh salah satu pembelinya. Sakura hanya bisa menghela nafas dengan penuh rasa harap jika pembelinya tak akan kecewa dengan pesanan yang telah dibuat ini. Roti tersebut telah diletakkan di atas meja kasir selagi menunggu sang pembeli tersebut.
Sakura berjalan ke luar toko, menghirup udara segar di jalanan yang masih sepi. Iya, tokonya baru saja buka, dan masih belum banyak orang yang berlalu-lalang. Atau mungkin mereka sudah berangkat ke tempat tujuan mereka. Melihat langit yang biru cerah, membuat Sakura memanjatkan doa untuk hari ini. Lantas dia kembali membawa dirinya masuk guna menantikan kebaikan-kebaikan yang akan dia dapati hari ini.
"Pembelinya udah konfirmasi buat dateng ambil rotinya?" tanya Sakura.
Pegawainya itu hanya menggelengkan kepala dengan tatapan yang cukup redup. Sedangkan Sakura hanya terdiam, lantaran dia juga tidak tahu harus berkata apa. Namun, wanita itu tetap harus bersikap positif. "Ya udah, kita tunggu aja,"
"Kalau ternyata dia nggak datang, gimana, bu?" tanya pegawai tersebut.
"Ya udah, nggak apa-apa. Kita juga nggak rugi, kan? Kita taruh aja rotinya di rak. Siapa tau ada yang tertarik," jawabnya.
Wanita itu memasang senyumannya, berjalan meninggalkan meja kasir dan duduk di sebuah kursi yang menghadap langsung ke luar jendela. Tak ada yang menarik perhatiannya, hanya duduk tanpa alasan khusus. Hingga beberapa menit setelahnya, dia melihat seorang wanita yang masuk ke dalam tokonya, berjalan lurus ke arah meja kasir dan berhadapan dengan pegawainya. Sakura hanya terus memperhatikan dari kejauhan, dia melihat dengan jelas jika sosok itu adalah pembeli yang akan mengambil pesanan. Betapa leganya Sakura yang tersenyum lembut.
"Akhirnya roti itu diambil juga," gumamnya dari kejauhan.
Pun bukan hanya Sakura, tetapi pegawainya juga merasa sangat lega, karena dia tidak menerima pesanan palsu dari orang. Mereka semua bisa merasakan kelegaan yang sama, hanya dengan senyuman di setiap wajah.
...****************...
"Kasih ke dia!"
__ADS_1
Dirga terkejut ketika dia mendapat sodoran paper bag di depan tubuhnya ketika laki-laki itu baru saja keluar dari mobil. Dia hanya bisa menekuk kedua alisnya, enggan untuk menerima apa yang disodorkan padanya.
"Nggak! Gue nggak mau!"
Dirga berjalan pergi meninggalkan temannya yang saat ini membuntuti sampai keduanya berada di dalam lift. Keduanya bersebelahan, menatap diri mereka masing-masing dari pantulan baja di depan mereka. Teman di sebelahnya itu melirik sekilas ke arah Dirga yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya. Membuat laki-laki yang memiliki jabatan di bawah Dirga itu hanya bisa mendengus singkat.
"Tapi, ini kerjaan lo," kata temannya itu.
"Kerjaan gue cuma ada kaitannya sama kantor ini. Kalau nggak ada, ya bukan kerjaan gue," katanya tegas.
Tepat setelah dia mengucapkannya, Dirga keluar dari lift tersebut, membiarkan temannya yang menyusul. Kendati berada di lantai yang sama, keduanya memiliki ruangan yang berbeda. Mau tidak mau, laki-laki itu harus membawa paper bag tersebut masuk ke dalam ruangannya.
Laki-laki bernama Herman itu hanya bisa menghela nafasnya cukup panjang usai meletakkan paper bag yang diterimanya tadi. Yang benar saja, temannya itu harus mendapat kisah yang seperti itu. Herman merasa cukup kasihan pada teman sekaligus atasannya itu. Pandangannya juga masih terarah pada paper bag tersebut, dia bahkan tidak melihat apa isinya.
"Apa gue aja yang kasih ke mereka langsung? Daripada maksa Dirga juga nggak bakal mau orangnya," tanyanya pada diri sendiri.
Dia memang tahu apa yang dialami oleh Dirga, dan Herman juga tidak tahu siapa yang harus dia kasihani. Jelas Dirga adalah korban, namun wanita yang meminta tolong Dirga juga merupakan korban yang tertabrak Dirga—tanpa kesengajaan. Pun dengan satu tarikan nafas panjang dan berat, Herman akhirnya mengambil langkah untuk melakukannya sendiri. Dia tidak mau dihantui rasa bersalah terus-terusan.
Laki-laki tersebut mengambil paper bag tersebut dan berjalan keluar dari ruangannya. Tanpa sepengetahuan Dirga, laki-laki itu keluar sendirian menuju mobilnya. Lantas pergi meninggalkan kantor, bersama dengan paper bag tersebut, keduanya menuju rumah sakit. Herman sendiri yang akan menyelesaikannya.
Hingga memakan waktu tiga puluh menit, akhirnya Herman tiba di area parkir rumah sakit. Dengan segera Herman membawa dirinya keluar bersama dengan paper bag tersebut.
__ADS_1
...****************...
Diwaktu yang sama, Dirga duduk di ruangannya sendirian. Laki-laki itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, memandang mejanya yang kosong. Pikirannya terarah pada Herman yang terus-menerus menyuruhnya untuk menuju rumah sakit. Namun, secara bersamaan, Dirga merasa bersalah karena temannya terbebani dengan hal tersebut.
Dirga beranjak dari tempat duduknya, berjalan keluar ruangan menuju ruangan temannya itu. Untuk menghilangkan rasa bersalahnya, Dirga akan melakukan hal tersebut, namun dia akan meminta Herman untuk menemaninya. Hanya saja, dirinya tak menyangka jika temannya itu sudah tidak ada di ruangannya. Bahkan, Dirga juga tidak melihat paper bag itu, yang mana membuat Dirga beranggapan jika Herman pergi seorang diri ke rumah sakit.
"Herman, sialan!"
Buru-buru Dirga mengambil ponselnya dan menghubungi teman sekantornya itu. Dia tak tahu apa yang ada di pikiran Herman, sampai-sampai menyusahkan diri sendiri untuk datang ke rumah sakit itu. Padahal, dia sama sekali tidak memintanya. Ditambah, mereka yang ada di rumah sakit, tidak mengenal Herman sama sekali. Bukankah ini menyebabkan adanya masalah baru lagi?
Dirga terus menghubungi Herman yang mendadak sulit di hubungi. Namun, dia tetap tidak menyerah, Dirga bahkan bergegas untuk menyusul temannya itu sebelum terlambat. Sungguh, Dirga geram akan Herman, kenapa tidak memberitahunya terlebih dahulu jika memang ingin pergi ke sana untuk menyerahkan paper bag tersebut.
"Herman! Jawab!" kesalnya yang masih terus mencoba untuk menghubungi temannya itu.
Mobil Dirga melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, dia tak mau Herman menemui keluarga wanita itu. Dan karena itu, waktu yang Dirga butuhkan untuk tiba di rumah sakit lebih singkat daripada waktu yang ditempuh Herman. Dia masih melihat mobil temannya yang berada di area parkir rumah sakit ini. Dengan langkah besarnya, Dirga berlari menuju ruangan wanita tersebut. Sekilas dia melewatinya, namun dia tak menemukan keberadaan Herman.
"Untung nggak gue kasih tau lokasi kamarnya," kata Dirga yang merasa bersyukur.
Namun, dia belum sepenuhnya lega jika belum menemukan Herman. Dia berjalan berkeliling, mencari sosok temannya yang bertindak sendirian itu. Dan tak membutuhkan waktu yang lama sampai akhirnya Dirga mendapati Herman yang sedang mencari tiap kamar di lorong yang berbeda.
"Dia emang nggak sepinter yang gue pikirin selama ini," ucapnya pada diri sendiri sebelum akhirnya menarik pundak Herman. "Sini, lo!"
__ADS_1