Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Cemburu


__ADS_3

Waktu mereka semakin lama berada di tempat itu. Sakura duduk di sebelah Dirga yang sudah berhasil mengatur dirinya sendiri, dengan minuman hangat di tangan laki-laki itu sebagai minuman penenangnya. Masih tak ada obrolan apapun diantara keduanya, Sakura sendiri juga tak berani bertanya apapun, kendati dirinya penasaran dengan apa yang terjadi pada Dirga. Sedikit ada rasa canggung dalam keheningan tersebut.


Situasi ini disadari oleh Dirga, laki-laki itu menoleh ke arah Sakura yang tengah bermain dengan kerikil seorang diri. Pribadi itu menyerahkan minuman hangatnya pada Sakura, lantaran hawa dingin malam ini cukup menusuk kulit hingga ke tulang.


"Minum, nih," kata Dirga.


"Nggak us—"


"Udah, nggak usah ngebantah,"


Dirga segera memberikan minumannya pada wanita itu. Membiarkan Sakura juga menghangatkan tubuhnya. Dirga sadar jika mereka berdua telah terlalu lama berada di sini. Hanya beberapa menit usai Sakura meminum minuman hangat itu, Dirga segera mengajak Sakura untuk pergi dari sana.


Laki-laki itu bangkit lebih dulu, menarik pergelangan tangan Sakura untuk bangkit dari sana. Dia sama sekali tak bersuara, membawa wanita itu masuk ke dalam mobil. Dalam hatinya, ada sedikit rasa bersalah lantaran membuat Sakura terlalu lama pergi seperti saat ini. Ditambah, wanita itu sama sekali tidak mengeluh ketika bersamanya.


Mobil tersebut telah melaju, meninggalkan tempat yang mampu membuat kenangan di kepala mereka. Kendati lokasi kecelakaan tersebut masih dipenuhi oleh petugas, Sakura dan Dirga tetap memilih untuk menghindarinya. Beruntung, tak ada yang melihat jika wanita tersebut sempat bersama mereka. Ini bukan soal tidak ingin bertanggung jawab, hanya saja jika mereka diminta keterangan atas kejadiannya, Dirga dan Sakura tak bisa mendatangi tempat itu lagi.


"Kenapa gue ngerasa bersalah sama perempuan itu?"


"Gue juga merasa bersalah," timpal Dirga.


Keduanya sama-sama diam, sibuk dengan pemikiran masing-masing, kembali mengingat tempat yang tadi mereka kunjungi hingga akhirnya bertemu dengan wanita tersebut. Namun, usai beberapa menit terdiam, Sakura mengangkat wajahnya lebih dulu, menoleh cepat ke arah Dirga dengan sedikit rasa kekhawatiran. Dia memegang tangan laki-laki itu yang sedang memegang roda setir.

__ADS_1


"Dirga," panggilnya, sampai membuat Dirga berdeham. "Berarti orang yang nabrak perempuan tadi udah ngikutin kita. Dia pasti bakal ngejar kita lagi," katanya lagi.


Mendengar hal tersebut Dirga mendadak ikut memikirkannya. Pasalnya, ini adalah mobil pribadinya, yang mana selalu ia gunakan setiap harinya. Mungkin dirinya tak khawatir akan hal tersebut, tetapi Dirga memikirkan wanita yang sedang bersamanya ini.


"Untuk sementara ini, kita coba buat tenang dulu. Selagi nggak ada apa-apa, gue rasa mereka emang cuma ngincer perempuan itu,"


...****************...


Dirga baru saja tiba di kamarnya, ia meletakkan diri dibatas ranjang seraya melemaskan semua otot yang terasa begitu kaku. Lantas laki-laki itu menatap langit-langit kamarnya. Dengan tubuh yang lelah, dirinya masih menggunakan otak untuk berpikir. Sampai-sampai, sesuatu teringat di kepalanya.


"Oh iya, akhir-akhir ini gue nggak pernah dapet bayangan apa-apa lagi. Apa mungkin masalah ini hampir selesai?"


Sejenak berpikir, Dirga langsung menaikkan kedua bahunya singkat. Pasalnya, ia tak mau memikirkan hal itu saat ini. Selain tubuhnya yang terasa lelah, pribadi itu merasa hatinya begitu ringan. Kedua sudut bibirnya juga dengan mudah ditarik ke atas. Kendati pendingin udara di rumahnya belum menyala, tubuhnya terasa cukup sejuk. Entahlah, mungkin memang karena hawa malam hari yang menjadikannya seperti ini. Atau mungkin tidak.


"Fokus sama permasalahan dulu," katanya seraya menepuk pipi sendiri.


Masih dengan tangan yang menempel pada pipinya, mendadak Dirga terjingkrak kala sesuatu. Laki-laki itu duduk tegak dengan kepala yang mengarah pada sumber suara. Debaran jantungnya semakin cepat ketika melihat meja di kamarnya mendadak jatuh. Padahal, tak ada gempa maupun angin kencang. Sungguh, Dirga sendiri masih kebingungan dengan hal tersebut. Meja itu sangat berat.


Karena suara benturan keras itu sampai mendatangkan sang ibu yang sama terkejutnya. Berlari cepat guna memastikan keadaan putranya yang baru saja pulang. Wanita paruh baya itu juga sontak menutup mulutnya, kebingungan dan tak mampu bersuara melihat meja tersebut.


"Ibu jangan khawatir. Mungkin emang ada yang iseng aja," tuturnya yang berusaha menenangkan sang ibu.

__ADS_1


"Siapa lagi yang mau ngisengin kita? Bukannya udah setuju buat bantu arwah perempuan itu untuk balas dendam?"


Itu juga yang membuatnya kebingungan, kenapa hantu tersebut malah mengganggunya lagi. Padahal, dia sudah menuruti untuk mencari pelaku yang telah melecehkan hingga membunuhnya. Laki-laki itu tak mampu menjawab pertanyaan sang ibu, lantaran dia juga takut akan salah bicara. Hanya senyuman yang bisa dia berikan pada sang ibu, membawa ibunya keluar dari kamar agar tak kembali melihat pemandangan di kamarnya.


"Paling emang hantu perempuan itu ngajak main aku, bu. Kan Sakura udah pernah bilang, kalau dia suka sama aku," tuturnya seraya menuntun ibunya menuruni anak tangga.


"Suka? Cemburu?"


Wah, Dirga sangat benci mengakui hal itu. Cuma karena arwah perempuan itu menyukainya, dia cemburu karena Dirga sedari tadi membayangkan Sakura. Yang benar saja?


Pribadi itu menyuruh sang ibu untuk segera beristirahat, pasalnya waktu telah menunjukkan lewat tengah malam. Sedangkan dirinya berjalan kembali ke kamar guna merapikan kekacauan tersebut. Dirga sama sekali tidak ingin berkomentar apapun, enggan menambah masalah di malam begini. Pun ia memutuskan untuk memasuki kamar mandi.


Dalam langkahnya, secara perlahan kedua alisnya tertekuk, serta memperlambat langkahnya. Sampai akhirnya Dirga menoleh cepat, dimana tak ada siapapun di ruangan ini. Hendak berbalik, perasaannya mulai tak enak, namun ia tetap memaksa mengembalikan posisi tubuhnya. Dirga terlempar beberapa meter hingga menabrak dinding kamarnya. Sempat kesulitan bernafas, tapi Dirga tetap berusaha bangkit.


Arwah perempuan itu telah menampakkan diri di jarak beberapa meter darinya dengan kemarahan. "Kenapa nyerang gue?! Karena gue suka sama Sakura? Itu hal wajar. Dia manusia, gue juga manusia. Gue nggak bisa suka balik sama lo," katanya seraya menahan sakit dadanya.


Tepat setelah Dirga menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya terasa begitu kaku, sama sekali tak bisa digerakkan. Dirga yakin, jika arwah perempuan itu sangat marah ketika ia mengatakan hal ini. Dia tak tahu harus bagaimana untuk melepaskan diri dari arwah perempuan itu. Laki-laki itu mencoba untuk berpikir kembali.


"Tapi, sebagai gantinya dendam dimasa lalu lo bakal terbalaskan. Nggak ada dendam lagi dimasa depan," kata Dirga.


Sosok tersebut melepaskan Dirga, menatap laki-laki itu untuk sesaat sebelum akhirnya menghilang dari hadapan Dirga. Sedangkan tubuh laki-laki itu terasa begitu lemas, nafasnya juga tidak beraturan. Salah satu tangannya terarah pada pelipisnya yang terasa begitu perih. Entah terkena apa kulitnya terluka dan berdarah.

__ADS_1


Dibandingkan perasaan sukanya, arwah perempuan itu lebih mementingkan pembalasan dendamnya pada pelaku. Iya, Dirga baru menyadari hal itu. Dia sampai mengangkat wajahnya dengan kilatan mata tajam saat di balik retina tersebut, terdapat sesuatu yang tengah dia bayangkan.


__ADS_2