
Sebuah mobil putih baru saja berhenti dengan sosok di dalamnya yang mengenakan pakaian turtleneck hitam serta dipadukan dengan mantel berwarna krem. Laki-laki tersebut baru saja menurunkan salah satu kakinya, guna menemui seorang wanita yang telah menunggu. Keduanya berdiri di depan sebuah toko kue yang merupakan milik Sakura.
"Udah siap?" tanya Dirga.
Wanita tersebut mendekat ke arah Dirga, kedua tangannya memegang mantel laki-laki itu untuk dirapikan. Dia menganggukkan kepalanya dengan sangat yakin, lantaran pada akhirnya dia bisa membuka tokonya sendiri. Lantas mereka berdua sekarang membawa diri masuk ke dalam toko yang sebentar lagi akan dibuka.
Terpancar jelas di wajah mereka, masih cukup tidak menyangka karena semua terasa seperti mimpi yang didapat hanya dalam waktu semalam. Tidak! Butuh waktu bertahun-tahun supaya Sakura bisa membuka toko kue miliknya sendiri. Selama ini dia hanya bekerja dengan orang lain, namun hari ini dia berhasil mewujudkan mimpinya. Tentu saja yang dia dapatkan juga dibantu oleh Dirga. Laki-laki itu selalu ada di belakangnya setelah Sakura memiliki niatan untuk membuka toko sendiri.
Sakura membawa kekasihnya itu untuk duduk di sudut ruangan, supaya mereka bisa melihat seluruh dekorasi toko ini. Sangat mengagumkan, karena toko kue ini terasa begitu nyaman. Dirga sangat yakin jika akan ada banyak orang yang berdatangan ke tempat ini.
"Aku yakin, dalam waktu singkat toko ini bakalan ramai," kata Dirga yang sedang menyemangati kekasihnya itu.
Sakura tidak bisa menyembunyikan senyumannya, dia juga berharap ucapan laki-laki tersebut akan terwujud. Pun dirinya ikut memandang luasnya toko kue yang dia bangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri, merasa sangat bangga karena bisa bertahan sejauh ini untuk mendapatkan mimpinya. Dirinya sedikit terkejut ketika dia merasakan tangannya digenggam oleh kekasihnya. Tak ada alasan lain untuk dia membalas genggaman tersebut.
Di tengah-tengah tatapan mereka yang terbawa dengan suasana toko kue milik Sakura itu, secara tiba-tiba wanita itu menoleh dengan cepat ke arah Dirga. Kedua alisnya tertekuk bersamaan, lantaran dia sedikit bingung dengan kedatangan Dirga yang secara tiba-tiba.
"Emangnya kamu nggak kerja?" tanya Sakura.
"Kerja. Tapi aku mau nyempetin ke sini dulu. Mau lihat pacarku," jawab Dirga.
__ADS_1
"Padahal, aku sama sekali nggak keberatan kalau kamu nggak bisa dateng. Tapi, makasih, ya," balas Sakura.
Dirga hanya menganggukkan kepalanya, dia tersenyum tipis ketika melihat wajah bahagia sang kekasih akan kedatangannya. Laki-laki itu mau lihat waktu saat ini, dia mengingatkan Sakura jika sudah waktunya toko ini dibuka. Bahkan, wanita itu sampai tidak ingat dengan tujuannya.
Kedua maniknya menatap Sakura yang baru saja meresmikan toko kuenya ini dibuka hari ini. Terlihat jelas wajah kebahagiaan Sakura ketika mendengar suara tepuk tangan yang meriah dari Dirga dan juga para karyawan. Semoga di setiap harinya hal baik selalu mendatangi toko kuenya ini.
Sekitar satu jam Dirga berada di toko kekasihnya itu, lantas dia berpamitan pada Sakura untuk menuju tempat kerjanya. Sakura menganggukkan kepala, dia juga mengantar laki-laki itu sampai melihat Dirga masuk ke dalam mobil. Bahkan, wanita itu juga melambaikan tangannya ketika mobil sang kekasih mulai meninggalkan pelataran toko.
"Hati-hati di jalan. Kabarin kalau udah sampai," kata Sakura dengan suara lantangnya.
* * *
Dirga paham jika dia pasti akan datang terlambat jika menemui Sakura terlebih dahulu. Apalagi dia menggunakan waktunya selama satu jam untuk kekasihnya yang membuka toko di hari pertama. Namun bagi laki-laki itu, hal tersebut bukanlah sesuatu yang membuang waktunya. Sebisa mungkin dia akan meluangkan waktu untuk Sakura.
Akan tetapi, ditengah-tengah kesulitannya menerima panggilan dari sekretarisnya, laki-laki itu tidak banyak meletakkan fokusnya pada jalanan. Tersebut juga sudah jelas mendatangkan bahaya untuk dirinya maupun orang lain. Iya, sesuatu terjadi padanya.
"Astaga!"
Terkejut setelah menyadari kejadian ini, dia segera melepaskan ponselnya dan berlari keluar guna memeriksa. Laki-laki itu sampai tidak bisa berkata-kata usai melihat seorang wanita yang sudah tergeletak sadarkan diri di aspal. Tak lama setelahnya, banyak orang yang juga turut mengerumuni.
__ADS_1
"Tolong bawa masuk dia ke mobil saya!" kata Dirga yang meminta tolong pada orang-orang tersebut.
Sudah jelas dia akan bertanggung jawab atas kejadian ini, laki-laki itu harus segera menuju rumah sakit untuk menyelamatkan nyawa wanita tersebut. Mengabaikan panggilan dari sekretarisnya, memilih untuk meletakkan fokus pada jalanan menuju rumah sakit.
Dirga tidak akan berbohong jika dirinya panik dan memiliki rasa takut. Laki-laki itu takut sesuatu terjadi pada wanita yang tidak sengaja dia tabrak ini. Berusaha untuk menenangkan diri dengan mengatur nafasnya, dirinya berdoa di dalam hatinya supaya tidak dapat sesuatu yang buruk.
Sampai akhirnya beberapa menit berlalu, mobilnya telah memasuki area rumah sakit. Laki-laki tersebut langsung meminta bantuan para perawat untuk membawa wanita yang ada di mobilnya itu. Dia tidak akan lari dari tanggung jawabnya, yang mana dirinya harus mengurus di rumah sakit ini. Pun Dirga langsung menghubungi sekretarisnya tersebut untuk membatalkan semua jadwalnya hari ini.
Walaupun dekat bukanlah keluarga dari korban, tapi setidaknya dia harus tahu seberapa parah luka yang dialami wanita yang dia tabrak itu. Dirga sangat tidak tenang ketika menunggu di depan ruang UGD. Tangannya terus menggenggam ponsel, dia benar-benar ragu dan bimbang ketika melihat nomor Sakura. Tidak, wanita itu tidak menghubunginya, justru Dirga lah yang ragu untuk menghubunginya. Haruskah dia mengatakan pada kekasihnya itu jika saat ini dia berada di rumah sakit setelah menabrak seorang wanita?
"Tapi hari ini hari pertama dia buka toko, gue nggak mau ngehancurin hari pertama kebahagiaan dia," gumamnya sendirian.
Tak peduli seberapa dingin ruangan dengan pendingin ruangan di sini, laki-laki itu tetap mengeluarkan keringatnya. Apalagi saat ini dia berada di depan UGD seorang diri. Beberapa lama dia harus di sini sampai mendengar kabar dari korban. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya, ia tidak akan mengabari kekasih ataupun ibunya. Semua ini adalah kesalahannya, jika tidak mau kedua wanita itu ikut merasa khawatir.
"Gue tetap bakal nunggu sampai dokter keluar. Sakura sama ibu nggak boleh tahu kejadian ini," katanya lagi.
Cukup lama laki-laki itu menunggu, jika akhirnya dia melihat pintu yang terbuka dan menampilkan sosok dokter. Dokter tersebut yang menangani wanita itu, yang siap memberitahu kondisi dari korban yang Dirga tabrak. Hanya saja, pernyataan terakhir dari dokter itu membuat Dirga sampai tidak bisa bersuara, yang mana menjadikan suatu kesalahpahaman.
"Hamil? Tapi, saya bukan suaminya," kata Dirga yang membantah.
__ADS_1