Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Berkunjung Diwaktu Yang Salah


__ADS_3

"Saya sebagai walinya ingin Sakura keluar dari tempat kerja ini,"


Wanita bernama Sakura itu langsung membulatkan kedua matanya. Terkejut bukan main dengan perkataan Dirga barusan. Maksudnya, apa-apaan Dirga ini? Bahkan, tak ada obrolan apapun dengannya sebelum hari ini. Dan secara mendadak dia mengaku sebagai wali dan meminta agar Sakura keluar dari tempat kerjanya ini. Dirinya segera menutup mulut Dirga dengan salah satu telapak tangannya. Sakura sampai meminta maaf pada atasannya karena ucapan Dirga itu, lantas membawanya keluar dari sana.


Wajah Sakura menampilkan guratan penuh rasa kesal terhadap Dirga. Ingin sekali meluapkan amarahnya, hanya saja ia masih berada di tempat kerjanya—terlebih masih jam kerja.


"Lo apa-apaan, sih? Kenapa ngomong kayak gitu ke atasan gue? Lo mau gue dipecat, hah?!" tanya Sakura dengan kesal.


"Iya,"


Sakura sampai tak bisa berkata-kata lagi, Dirga sungguh menginginkan dirinya dipecat dari pekerjaannya ini. Pun wanita itu mengatur nafasnya beberapa kali, mencoba untuk bersikap lebih tenang saat menghadapi Dirga.


"Apa alasannya?" tanya Sakura lagi.


"Biar gue gampang ketemu sama lo. Apa lagi?" Dirga berhenti sejenak, dia menarik nafas panjang sebelum kembali berbicara. "Inget, ya, kita masih punya urusan yang harus diselesain bareng. Sedikit aja gue nemuin sesuatu, gue harus repot-repot nemuin lo," katanya lagi.


"Itu masalah lo. Mau atau nggak, tetep yang paling repot harusnya lo, bukan gue," timpal Sakura.


Di sana Dirga terdiam, dia melipat kedua tangannya di depan dada. Pandangannya bergerak acak sebelum akhirnya menemukan kalimat yang bisa menurutnya tidak merugikan untuk wanita itu.


"Kalau gitu, lo kerja aja di tempat gue. Gantiin posisi Ryan," katanya.


Sakura menghela nafas panjang, dia merasakan kepalanya yang mendadak terasa begitu pening. Tungkainya mendekat satu langkah ke arah Dirga, tatapannya masih sangat tajam. Ya, Dirga rasa dia tahu maksud dari tatapan itu. Sakura tidak menyukai idenya.


"Dirga, lo sendiri yang dari kemarin kekeuh nuduh Ryan sebagai pelakunya. Dan gue baru aja dapet kiriman foto semua mantan lo dengan pesan larangan di sana. Kalau gue gantiin posisi Ryan, dan ternyata emang bener Ryan pelakunya, gue bakal dapet kiriman teror lainnya," kata Sakura.

__ADS_1


Dirga menghela nafasnya cukup panjang, dia rasa memang permintaannya itu kalah dengan semua kalimat Sakura. Sekilas dia menatap wanita di hadapannya itu, berdecak dengan tanda kekecewaannya. Pun pada akhirnya dia hanya menurut dengan perkataan Sakura, membiarkan gadis itu bertahan pada pekerjaannya—kendati dia berharap Sakura mengikuti sarannya.


Cukup lama keduanya berbincang, lantas Dirga memilih untuk meninggalkan lokasi. Sedangkan Sakura masih menatap kepergian mobil Dirga sebelum membawa masuk dirinya ke dalam toko kue itu.


...****************...


Di atas kursi yang bergerak, Dirga melipat kedua tangannya di sana. Ia juga tengah berpikir keras perihal semua masalahnya. Tidak, sebenarnya bukan masalahnya, tetapi masalah dari arwah perempuan itu. Jika tak ada hubungannya dengan dirinya, Dirga sendiri juga tak akan mau membantu membalaskan dendamnya. Dan tentang pelaku itu, Dirga harga perlu memeriksa kembali punggung Ryan. Hanya saja, hubungan mereka sedang tidak baik, Dirga juga punya harga diri untuk tidak mendekatinya lebih dulu.


"Mana mungkin gue adain acara liburan ke kolam renang. Tempat ini semua laki-laki dewasa. Mereka mana mau dibawa ke sana," gumamnya sendirian.


Laki-laki itu menggelengkan kepalanya, tak ingin membuat rencana ataupun skenario-skenario aneh. Jika dia salah berbuat, Sakura akan mengomel lagi. Tapi, Dirga tak akan memungkirinya, dia tak bisa menahan diri untuk menunggu lebih lama lagi. Toh, pelaku sudah berada di depan mata. Ah, benar-benar menyebalkan untuk Dirga.


Dia memejamkan kedua matanya, memilih untuk melemaskan seluruh otot dan pikirannya. Mencoba untuk sabar dalam menyelesaikan masalah ini. Namun, baru beberapa detik terpejam, ponselnya berdenting hingga membuat laki-laki itu harus menegakkan tubuh supaya tangannya bisa menggapai gawainya.


...****************...


"Kita mau ke mana?"


Itu adalah pertanyaan yang pertama kali keluar dari mulut Dirga begitu Sakura memasuki mobilnya. Dengan salah satu foto mantan Dirga yang ada di genggaman Sakura, wanita itu memperlihatkan foto tersebut tepat di depan wajah Dirga.


"Ke sini," jawab wanita itu dengan singkat.


"Gue udah bilang, gue nggak tau lokasinya dimana," balas Dirga.


"Gue tau. Tapi, atasan gue bilang, kita jangan kaget waktu sampai di tempat itu,"

__ADS_1


"Kenapa?"


Sakura tak menjawabnya, dia hanya menyuruh Dirga untuk melajukan mobil. Dengan arahan yang diberikan oleh atasannya, Sakura dan Dirga melaju ke tempat yang beberapa hari ini menjadi misteri untuk mereka.


Sejujurnya, di dalam hatinya yang paling dalam, Sakura sendiri juga penasaran dengan tempat yang akan mereka kunjungi sore ini. Pikirannya pun selalu menyuruhnya untuk membawa diri mereka menuju lokasi dalam foto. Dan mengingat seluruh ucapan atasannya tadi, Sakura rasa tempat yang akan mereka datangi bukanlah tempat yang diketahui banyak orang.


Dan sekitar hampir dua jam dalam perjalanan, akhirnya mereka tiba di lokasi. Hanya saja, keadaan langit sudah gelap. Memang benar yang dikatakan atasannya, jika tempat tersebut akan membuat keduanya terkejut. Bagaimana tidak? Bisa dikatakan tempat tersebut bukanlah tempat yang memiliki banyak penduduk. Bahkan, tak terlihat ada rumah warga satupun. Ditambah lokasi yang tak memiliki lampu penerangan. Hanya dengan lampu mobil Dirga, mereka menelusuri jalanan tersebut.


"Kayaknya kita dateng diwaktu yang salah. Pakai lampu mobil aja kita tetep nggak bisa lihat jalananan," kata Dirga.


"Iya, gue rasa juga gitu. Apa kita balik aja? Kita dateng lagi pas pagi atau siangan. Soal harinya, tunggu kabar dari gue," balas Sakura.


Dirga mengangguk, lantas mereka memilih untuk putar balik. Mereka menghentikan niatan mereka untuk memeriksa lokasi ini dimalam hari. Laju mobil mereka juga tak begitu cepat, lantaran khawatir ada sesuatu yang tak bisa mereka lihat dan malah membuat mereka menabraknya. Tidak lucu dalam situasi semacam ini jika mobil Dirga tak bisa melaju pulang.


Keheningan di sana juga membuat keadaan terasa begitu mengerikan. Seakan tengah berada dalam cerita horor yang membuat jantung berdegup kencang walau keadaan begitu tenang. Apalagi—


"Aaaa!!"


Suara pekikan Sakura membuat kegaduhan malam ini. Tidak, bukan hanya Sakura yang terkejut, Dirga juga sama halnya. Ketika mereka melihat seorang wanita dengan rambut begitu berantakan berhenti di depan mobil Dirga. Penampilan wanita itu terlihat begitu berantakan, memaksa untuk ikut pergi dari tempat tersebut. Hal ini yang membuat Sakura dan Dirga dilanda kebingungan. Mereka berdua tidak mengenal wanita tersebut, pun juga dengan tempat ini.


"Tolong!! Tolongin saya!!"


Wanita itu terus menggedor-gedor jendela kaca. Bahkan, suara seraknya juga membuat buku kuduk berdiri. Ditambah wanita tersebut menangis dengan isakan yang begitu menyakitkan, menyayat hati.


"Tolong!! Bawa saya pergi!!"

__ADS_1


__ADS_2