
Dirga sungguh bimbang dengan posisinya saat ini, disaat Sakura mengatakan untuk melepasnya, Hanna justru menggelengkan kepala. Arwah perempuan itu tampak begitu memohon untuk diselamatkan. Pasalnya, dia ingin menyelesaikan semua masalahnya sebelum benar-benar pergi dari dunia ini.
"Dirga! Lo ngapain?! Kenapa nggak tinggalin?!" kata Sakura.
Panggilan Sakura dan Dirga masih berlangsung hingga saat ini. Namun, laki-laki itu hanya terdiam ketika mendengar suara Sakura dari balik ponselnya, dengan kedua manik yang masih menatap Hanna. Kendati begitu, pikiran Dirga benar-benar sedang berantakan, berusaha untuk menata kembali guna mengambil keputusan apa yang akan dia ambil.
Butuh waktu beberapa menit laki-laki itu terdiam untuk mengambil keputusannya. Pun detik setelahnya, Dirga menurunkan ponsel dari telinganya, mematikan panggilannya dengan Sakura. Iya, Dirga memutuskan untuk menyelamatkan Hanna dari wanita tua itu. Langkahnya mencoba untuk mendekati mereka, Dirga berbicara pada wanita tua itu supaya melepaskan Hanna. Dia yakin jika Hanna bisa menyelesaikan masalah terakhirnya sebelum benar-benar pergi.
"Saya mohon, lepaskan dia," kata Dirga. "Saya yakin, dia tidak akan melakukan hal yang buruk untuk kali ini," imbuhnya.
Hanna mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali, guna meyakinkan wanita tua tersebut perihal apa yang dikatakan oleh Dirga benar semua. Bahkan, arwah perempuan itu sampai berlutut, sangat memohon pada wanita tua tersebut agar segera dilepaskan dan menyelesaikan masalahnya dengan cara yang benar.
"Saya jamin," ujar Dirga.
Wanita tua itu tak memiliki pilihan lain untuk melepaskannya setelah Dirga berhasil meyakinkannya. Pun akhirnya Hanna diserahkan pada Dirga, dan laki-laki itu juga bersikap begitu sopan saat berterima kasih sebelum berpamitan. Dia dan Hanna berjalan keluar dari pusat perbelanjaan ini, mereka memutuskan untuk pulang dan tidak melanjutkan kencan ini. Sudah tidak ada semangat lagi untuk melanjutkannya.
Dan selama perjalanan pulang, Dirga sama sekali tidak menjawab panggilan Sakura—entah sudah berapa kali wanita itu menghubunginya. Pasalnya, dalam hatinya dia terdapat rasa bersalah karena tidak mendengarkan pendapatnya, dan memilih untuk melepaskan Hanna.
"Kenapa nggak dijawab?" tanya Hanna.
__ADS_1
"Gue tau apa yang mau dia omongin," jawab Dirga.
Hanna terdiam, pandangannya hanya terarah pada ponsel Dirga yang terus-menerus mendapat panggilan dari Sakura. Sekilas Hanna melihat ke arah Dirga yang hanya terfokus pada jalanan, yang mana membuatnya merasa menyesal karena Dirga harus mendengarkan apa yang seharusnya tidak dia dengarkan dari wanita tua itu.
"Maaf ya, kalau kamu tadi denger rencanakan yang sebenarnya," kata Hanna seraya menundukkan kepalanya.
"Gue hampir aja lebih milih dengerin Sakura setelah tau rencana lo yang sebenarnya," Dirga menjeda kalimatnya, dia juga menarik nafas panjang sebelum kembali bersuara. "Tapi, gue rasa itu bukan sifat lo. Karena itu, gue berani buat bantuin lo," lengkapnya.
Hanna memutuskan pandangannya dari Dirga, hanya diam di sebelah laki-laki itu dengan kepala yang tertunduk. Ya, dia tahu jika Dirga telah menyelamatkannya dari wanita tadi, Hanna menyadari kebaikan Dirga. Kendati dia tahu, jika laki-laki itu tidak sepenuhnya mau kencan dengannya. Bahkan, Dirga sampai berani mengabaikan ucapan Sakura. Sejauh ini, Hanna juga tahu jika Dirga selalu mengikuti apa yang dikatakan oleh Sakura.
Hingga setibanya di rumah Dirga, dia dan arwah perempuan itu masuk ke dalam rumah. Di sana telah terdapat Sakura yang duduk di ruang tamu bersama dengan ibunya. Wanita itu tampak terdiam tanpa beniat melihat ke arahnya. Dirga hanya menghela nafasnya, yakin jika wanita itu marah besar terhadapnya. Apalagi ketika Hanna menampakkan diri di belakang tubuh Dirga.
"Hanna! Berhenti!" teriak Sakura.
Di sana, ibunda Dirga telah histeris melihat Sakura yang tampak kesulitan bernafas akibat hantu itu. Bahkan, wanita paruh baya itu sangat memohon pada Hanna untuk melepaskan Sakura.
"Tolong, lepasin Sakura," ucap wanita paruh baya tersebut dengan suara seraknya.
Sakura dan Hanna saking menatap dengan tatapan tajam, lantaran mereka melemparkan kebencian satu sama lain. Apalagi setelah Dirga memilih untuk menolong Hanna dibandingkan mendengar perkataan Sakura.
__ADS_1
"Kita juga butuh Sakura buat nyelesein masalah lo!!" Dirga akhirnya membentak.
Barulah Hanna melepaskan Sakura yang akhirnya terjatuh di lantai. Dimana ibunda Dirga langsung menghampiri wanita itu untuk menolongnya.
Dirga memijat pelipisnya sendiri, lantaran kepalanya pening setelah menghadapi masalah hari ini. Laki-laki itu duduk dengan membanting tubuhnya, serta kedua mata yang terpejam, berharap rasa pening dan lelah sirna. Hanya selang beberapa menit, sebelum akhirnya laki-laki itu kembali membuka maniknya, menatap tiga wanita di hadapannya secara bergantian. Terutama Sakura dan Hanna.
"Bisa, nggak, kalian berdua nggak usah bikin keributan dulu. Gue juga berat buat ngambil keputusan tadi," kata Dirga dengan suara beratnya.
Iya, baru kali ini Dirga berbicara sangat serius pada Hanna dan Sakura. Apalagi ini berkaitan dengan masalah mereka. Dia yakin, jika Sakura dan Hanna tidak akan mudah berinteraksi kembali setelah hari ini berlalu. Atau mungkin mereka berdua bisa melakukan hal yang tidak bisa diketahui Dirga—mengingat hanya Sakura yang bisa melihat sosok itu.
"Sakura," panggil laki-laki itu dengan suara beratnya. "Gue bener-bener nggak suka cara lo yang ngambil keputusan segampang itu. Kalau sejak awal udah tau cara ini, udah sejak awal gue cari dukun itu. Tapi, karena kita udah berbulan-bulan ngerjain masalah ini, bukan berarti lo bisa lepasin Hanna ke dukun itu. Ryan tetep nyerang kita," tuturnya yang membuat Sakura hanya menundukkan kepala dan tak berani bersuara.
"Dan lo, Hanna," kini beralih memanggil arwah perempuan itu. "Kalau sampai lo nyakitin Sakura sedikit aja, gue nggak akan tanggung-tanggung buat cari dukun tadi. Gue bakal berubah pikiran buat bawa lo ke dukun itu. Nggak peduli bakal tersiksa kayak apa lo sama dukun itu. Camkan itu!" kata Dirga lagi.
Kedua wanita itu sama sekali tidak bersuara, bahkan enggan menatap Dirga yang terlihat menyeramkan. Apalagi Sakura yang sangat terkejut melihat sikap Dirga yang sangat berbeda ini. Pasalnya, Dirga selalu bersikap lembut terhadapnya. Dan penuturan Dirga tadi, juga membuat wanita itu tak dapat berkutik. Dirinya sangat takut terhadap Dirga yang memiliki sisi tegasnya.
Dirga kembali menegakkan tubuhnya, dia menarik nafas panjang usai mengusap wajahnya. Dengan tatapannya yang tampak begitu lelah, laki-laki itu menatap Hanna dan Sakura bergantian. Dia melihat dengan jelas, bagaimana mereka berdua sama-sama menundukkan kepalanya. Entah kenapa, Dirga mendadak merasa bersalah karena telah meninggikan suaranya pada mereka berdua—apalagi pada Sakura.
"Gue minta maaf karena tadi marah sama kalian berdua. Tolong, jangan bikin gue kesel lagi," kata Dirga dengan suara lembutnya.
__ADS_1