
Sudah tak ada waktu lagi untuk membiarkan semuanya. Sakura dan juga Dirga juga sudah lelah menghadapi masalah ini terlalu lama, mereka berdua juga tidak ingin orang-orang terdekat menjadi korbannya juga. Dan hari ini, mereka berdua akan bertemu guna membahas hal yang akan dilakukan untuk membalas Ryan. Akan tetapi, ada satu hal yang ingin dilakukan oleh Sakura dalam pembahasannya nanti.
Wanita itu sedang dalam perjalanannya menuju tempat yang diminta oleh Dirga, aku juga dengan laki-laki tersebut yang baru saja keluar dari tempat kerjanya guna mendatangi tempat pertemuan mereka.
Selama di dalam taksi, sakura hanya memikirkan apa yang akan dia katakan untuk berdiskusi dengan Dirga. Jujur saja, akhir-akhir ini fokusnya jadi terpecahkan setelah mendapatkan hal-hal yang tidak terduga dari Ryan. Bahkan sampai detik ini, kepalanya seperti tidak terdapat apapun—lebih besar rasa takutnya.
Sampai akhirnya setelah belasan menit melewati jalanan kota, tempat tersebut hampir di waktu yang bersamaan. Dirga memanggil Sakura ketika wanita itu hendak akan memasuki pintu masuk. Mereka berdua segera mencari tempat yang nyaman untuk berbicara, tempat yang tidak dapat dilihat oleh kebanyakan pengunjung.
"Di sini aja, ya? Gue rasa ini aman," kata Dirga yang berhasil menemukan tempatnya lebih dulu.
Sakura hanya menuruti apa yang dikatakan oleh laki-laki itu. Mereka berdua sekarang meletakkan diri di sana. Akan tetapi, selama beberapa menit awal mereka di sana, Sakura sama sekali tidak bersuara. Pandangan wanita itu terlihat tampak begitu dan kebingungan dengan situasi. Entahlah, hanya wanita itu yang mengerti apa isi pikirannya.
__ADS_1
"Kenapa diam aja? Ada sesuatu yang ganggu pikiran lo?" Tanya Dirga setelah dia menyadari sikap aneh wanita di hadapannya itu.
Namun, Sakura masih belum mau berkata jujur tentang apa yang ada di pikirannya sekarang. Dirga sendiri juga tidak akan memaksakannya. Toh, dia juga kenal Sakura, yang mana akan bercerita jika sudah kehendaknya sendiri. Laki-laki itu hanya memperhatikannya dalam diam.
Makan sampai makanan mereka tiba, pada obrolan apapun di antara keduanya. Iya, ini karena mereka tidak mau ulan sempat terpotong hanya karena pelayan yang datang membawa makanan. Lantas baru laki-laki itu yang memulainya.
"Orang suruhan gue yang selama ini gue minta buat mata-matain Ryan, ternyata dia kerjasama sama Ryan. Pantes aja selama ini kita nggak pernah dapat informasi apapun dari dia," kata Dirga yang memulai obrolannya.
"Kenapa gitu?" tanya Dirga yang penasaran.
"Waktu gue sama Riana dalam perjalanan mengikuti Ryan, gue ngerasa ada sesuatu yang aneh dari dia. Waktu itu kita berdua sama kehilangan jejak, anehnya Riana tahu betul arah jalan rumah itu," tuturnya, akan tetapi kalimat itu belum selesai. Sakura masih mencoba untuk mengingat kejadian di hari itu. "Emang bener kalau Riana masang GPS ke mobil Ryan. Tapi, setelah gue perhatiin dia, justru Riana nggak banyak lihat ke monitor," imbuhnya.
__ADS_1
Dirga gak hanya terdiam seraya mencerna apa yang baru saja dijelaskan oleh Sakura. Pikiran laki-laki itu juga teralihkan pada Riana. Tapi anehnya, Riana justru berani untuk ngasih bukti yang kuat dari kejadian bertahun-tahun yang lalu.
"Iya, sih. Gue rasa juga gitu. Apalagi waktu dia bilang kalau teman Ryan yang ada di penjara itu cuma teman biasa," balas Dirga.
Mereka berdua sama-sama ntar dia dan mencoba untuk berpikir solusinya. Akan tetapi, terlalu banyak diam juga membuat situasi mereka semakin tidak jelas.
"Terus, kira-kira apa yang lo pikirin sekarang buat ngelawan?" tanya Dirga.
Dan dari pertanyaan itu, Sakura sedikit terkejut karena dia kembali memikirkan apa yang sejak tadi dia pikirkan selama dalam perjalanan ke sini. Wanita itu terlihat jelas penuh keraguan untuk mengatakannya, membuatnya harus merasa yakin.
"Sebenarnya, gue udah mikir ini dari tadi," Sakura menjeda kalimatnya, pandangannya teralihkan pada arwah perempuan yang berada di sebelah kiri Dirga. "Gue mau minta bantuan dia. Karena dia satu-satunya yang ditakutin sama Ryan," ucapnya seraya menatap arwah tersebut.
__ADS_1