
"Ibu udah istirahat," kata Sakura.
Sepasang kekasih itu sedang berada di ruang tamu. Mereka telah menyelesaikan makan malam bersama dengan ibunda Dirga beberapa menit yang lalu. Dan keduanya memilih untuk menghabiskan sisa waktu untuk berbincang. Obrolan malam yang biasanya membawa orang terlarut dalam obrolan yang dalam, tidak berlaku untuk Sakura dan Dirga. Keduanya lebih memilih untuk menghilangkan beban kepala sejenak.
Sakura sendiri yang sengaja meminta Dirga untuk tidak membahas hal-hal yang tidak penting dalam hubungan mereka. Pasalnya, Sakura sudah lama tidak datang ke sini, dia enggan mengingat hal yang tadi terjadi—walau masih teringat jelas dalam ingatannya. Bahkan, dia telah memikirkannya sampai sebelum acara makan malam mereka.
"Kayaknya, kita nggak perlu terlalu lama pacaran," ucap Dirga secara tiba-tiba.
Mendengar kalimat tersebut, Sakura menoleh dengan kedua alis yang sedikit tertekuk. Seakan menantikan jawaban sang kekasih, tubuhnya sedikit dia ubah menghadap Dirga.
"Kita bukan diumur buat mengenal satu sama lain lagi. Aku udah kenal kamu lumayan jauh, walaupun kita belum kenal terlalu lama," kata Dirga.
Sakura terdiam, entah harus menimpali dengan kalimat apa. Karena dia juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya. Usia mereka bukan usia yang muda lagi, hanya saja, jika bukan karena hal yang baru saja dia ketahui, Sakura bisa langsung menyetujuinya tanpa ragu. Wanita itu khawatir jika ada masalah lebih besar lagi jika dirinya langsung menyetujuinya. Namun, menikah dengan Dirga juga menjadi salah satu jalan menghindari masalah dengan wanita bernama Liza itu.
Sebuah senyuman lahir begitu saja, Sakura menganggap kedua tangan laki-laki itu, serta memberikan usapan lembut padanya. "Aku nggak masalah, kalau emang kita mau nikah. Nanti kita obrolan lagi sama ibu," tuturnya yang langsung diangguki oleh Dirga.
Sakura menyandarkan kepalanya pada salah satu pundak Dirga, merasakan kehadiran malam dan juga tiupan angin yang menemani malam mereka berdua. Bersamaan dengan itu juga, Dirga merekatkan kedua tangan mereka, tersenyum lembut aku Saya mau bicarakan sesuatu yang berkaitan dengan berlangsungnya dan mereka ke jenjang yang lebih serius. Memang ini adalah obrolan serius yang secara mendadak mereka, itupun karena rasa takut akan satu masalah yang secara tiba-tiba menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
...****************...
Pukul sepuluh malam, ini sudah cukup malam Sakura berada di rumah Dirga. Dia pikir sudah waktunya untuk dia pulang ke rumah. Toh, sudah tidak ada lain lagi yang mereka perlu bicarakan ataupun lakukan. Sebab itu, sakura memilih untuk pergi, membiarkan Dirga dan juga ibunya bisa beristirahat.
"Kenapa nggak nginep aja di sini?" tanya Dirga.
Iya, Sakura tahu, memang itu adalah keinginan dari dalam diri Dirga. Tapi, mereka tidak berada di daerah yang bebas seperti ini yang Dirga pikirkan. Sebab itu, Sakura sendiri juga memilih untuk menahan dirinya sendiri untuk tidak memiliki pemikiran yang sama terhadap kekasihnya. Dan tentu saja, selalu penolakan yang akan disertai dengan helaan nafas berat dari Dirga. Suka atau tidak, ini sudah bulat keputusan Sakura.
Pun tanpa berpamitan pada ibunda Dirga, sepasang kekasih itu memilih untuk langsung pergi. Pasalnya, keduanya tak mau mengganggu waktu istirahat wanita paruh baya tersebut. Apalagi Dirga merasa sangat bersalah pada ibunya karena kejadian yang mengejutkan hari ini. Entah sudah berapa kali dia menjadi anak durhaka.
Diheningnya malam dan suasana dalam mobil, Sakura sibuk dengan pemikirannya sendiri. Terlalu berisik sampai dia sulit untuk meletakkan fokusnya pada keadaan sekitar. Sebelum nantinya dia akan membicarakan pernikahan dengan orang tua Dirga, Sakura hanya memikirkan masalah yang sedang melanda hubungan mereka. Apa yang akan terjadi nantinya? Besok? Lusa?
"Gue emang nggak takut ancamannya, tapi entah kenapa gue lebih takut ada sesuatu yang lebih besar dari itu," ucapnya dalam batin.
Salah satu tangannya berada pada pintu, menggunakan tangan tersebut sebagai penyangga kepalanya. Pikiran berantakannya itu masih belum berakhir, seakan tengah mengumpulkan semua rasa takut dan khawatirnya dalam satu wadah.
"Mikirin apa, sih?" tanya Dirga.
__ADS_1
Sakura yang tersadar akan pertanyaan tersebut langsung menurunkan tangannya. Dia menggelengkan kepala dengan sedikit senyuman lembut. "Cuma sedikit ngantuk," alibinya.
Mengejutkannya, salah satu tangan Dirga diletakkan di atas kepala Sakura, menyuruh wanita tersebut untuk memejamkan kedua maniknya. Sedikit mengusapnya, seakan memberikan sebuah sentuhan yang mampu membawa Sakura ke dalam alam mimpinya. Pun Sakura hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Dirga—kendati dirinya tidak mengantuk sama sekali. Ya, setidaknya Sakura bisa menghindari kekasihnya sendiri, lantaran tak ingin membahas hal-hal yang akan panjang jika dibicarakan.
Sampai akhirnya mereka berdua tiba di pelataran rumah Sakura, wanita tersebut turun setelah berterimakasih pada kekasihnya tersebut. Tak ada banyak konversasi yang terjadi diantara keduanya, malah Sakura langsung melambaikan tangannya, membiarkan kekasihnya itu untuk mampir. Bukan apa-apa, karena memang tujuan Dirga hanya untuk mengantar Sakura.
"Hati-hati di jalan," ucapnya disertai dengan lambaian tangan.
Wanita itu memasuki rumahnya usai melihat mobil kekasihnya pergi meninggalkan rumahnya. Dirinya tak segera masuk ke dalam kamar, justru meletakkan diri di sofa ruang tamu dengan tubuh yang sengaja dia banting. Kedua tangannya melepas sepatunya dengan cukup kasar, seakan menggambarkan suasana hatinya saat ini yang tidak karuan. Sejak tadi Sakura hanya bisa menahannya, lantaran tak mau terjadi keributan di sana. Rupanya begitu sulit menahan diri untuk tetap tenang—walaupun itu yang biasa dia lakukan.
Tubuhnya bersandar dengan kedua manik yang terpejam. Dia sedikit menjambak rambutnya yang terasa cukup pening, kedua rahangnya menegas lantaran dirinya yang hanya bisa menahan emosinya. Hanya selang beberapa detik sebelum akhirnya kedua mata Sakura terbuka lebar. Tidak ada rasa kantuk yang menyerangnya, hanya kesal dan bingung yang bercampur jadi satu.
"Sebenarnya, apa sih maunya perempuan itu?! Kenapa harus dateng ditengah-tengah hubungan gue sama Dirga yang mau serius?!" ucapnya penuh rasa kesal.
Kedua alisnya tertekuk, wajahnya tampak memerah penuh rasa kesal. Deru nafas yang tidak beraturan juga menunjukkan amarahnya yang sedikit terlupakan. Hanya di rumahnya sendiri Sakura melepaskan seluruh emosinya, dia tidak bisa melakukannya saat berada di depan Dirga maupun ibunda Dirga.
"Ditambah gue nggak tau harus apa?! Gimana kalau dia semakin ngacau hubungan gue sama Dirga? Padahal, baru aja terlepas dari masalah berat," tuturnya penuh kekesalan.
__ADS_1