
Seperti melaju di sirkuit sungguhan, Dirga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aneh sekali, Ryan begitu cepat sampai tiba di rumahnya. Astaga, Dirga jadi sulit berpikiran positif terhadap sang ibu yang berada di rumah hanya berdua dengan Ryan. Salah satu tangannya meraih ponsel guna mencari nomor Sakura. Niatnya, dia akan meminta wanita itu untuk tiba di rumahnya agar sang ibu memiliki teman selama dirinya bergegas pulang. Akan tetapi, karena rasa paniknya yang besar, ponselnya jatuh ke bawah, yang mana menyulitkan untuknya.
Laki-laki itu geram dengan situasi ini, pun dia mengabaikan ponselnya dan membatalkan niatannya untuk menghubungi Sakura. Dia hanya perlu tiba di rumah dengan cepat, sebelum Ryan. Bahkan, dengan keadaan jalan yang tiba-tiba sedikit macet, membuat dirinya berusaha keras menahan ledakannya. Namun, kesempatan itu dia gunakan untuk mengambil ponselnya yang terjatuh, kembali menghubungi Sakura untuk datang ke rumahnya lebih dulu. Tujuannya saat ini hanyalah melindungi sang ibu.
"Gue mohon banget, dateng ke rumah gue sekarang juga. Ada Ryan di sana," kata Dirga dari balik panggilan.
"Iya, gue langsung ke sana," balas Sakura.
Panggilan keduanya langsung tertutup, Dirga harap dua wanita tersebut dalam keadaan baik-baik saja sampai dirinya tiba. Dia tak akan memaafkan Ryan jika terjadi sesuatu pada Sakura dan ibunya. Pasalnya, semua yang saat ini dilakukan Ryan memang perlu untuk dicurigai, entah hal sekecil apapun itu.
Sedangkan diwaktu yang sama, Sakura telah berada dalam perjalanan menuju rumah Dirga. Wanita itu turut tidak tenang ketika Dirga memberikan kabar tentang ibunya yang berada di rumah bersama dengan Ryan.
"Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi," itu adalah kalimat yang terus dirapalkan oleh wanita tersebut sejak dirinya memulai perjalanan ke rumah Dirga.
Jujur saja, kedua tangan wanita itu sudah terasa begitu dingin lantaran rasa kekhawatirannya yang cukup besar terhadap ibunda Dirga. Sungguh, dia dan dia buat kilap kalau laki-laki tersebut. Pikiran Sakura juga kalut, tidak tahu harus memikirkan apa selain keselamatan ibunda Dirga.
Sampai akhirnya, wanita itu tiba di pelataran rumah Dirga. Dia segera berlari cepat setelah melihat mobil Ryan yang juga telah terparkir di sana. Beruntung, pintu rumah Dirga tidak tertutup rapat. Lantas langkahnya berhenti ketika dia melihat ibunda Dirga dan juga Ryan berada di ruang tamu. Hal pertama yang dilakukan wanita itu adalah memastikan keadaan wanita paruh baya tersebut.
Sakura sama sekali tidak terputus pada Ryan ketika menarik ibunda Dirga menjauh dari ruang tamu. Walau laki-laki itu hanya tersenyum kecil, tapi Sakura sama sekali tidak berniat untuk membalas senyuman itu.
__ADS_1
"Tante, lebih baik di sini aja sama saya," tutur Sakura dengan suara yang begitu lembut. Pun wanita paruh baya tersebut hanya menganggukkan kepalanya guna menyetujui permintaan dari Sakura. "Nggak ada yang luka, kan? Dia nggak nyentuh tante sama sekali, kan?" tanya Sakura runtut.
Pertanyaan yang langsung dijawab dengan kepala besar apa kali oleh wanita paruh baya itu. Ya, saat itu juga Sakura merasa begitu lega lantaran dia datang tepat waktu. Dan saat ini mereka berdua hanya perlu menunggu kedatangan Dirga.
"Memangnya ada apa? Kenapa khawatir?" tanya sebenarnya seraya menggenggam tangannya. "Dirga juga tadi khawatir banget waktu tante hubungin," imbuhnya.
Sakura hanya tersenyum lembut ketika mendengar kalimat tersebut, dia juga menggelengkan kepalanya antara tidak mau membuat suasana saat ini semakin terasa mencekam. Pasti, dia dan juga Dirga akan menjelaskannya.
"Biar tante buatin minum dulu buat Ryan. Dari tadi, cuman nungguin Dirga di depan," kata ibunda Dirga yang hendak bangkit.
Itu juga Sakura menahan pergerakan wanita paruh baya tersebut. Akan jauh lebih baik jika dirinya sendiri yang melakukan hal itu demi melindungi wanita tua. Lantas tanpa mengulur waktu lebih lama lagi, sekarang menuju dapur guna membuatkan minuman untuk Ryan.
"Target gue bukan nyokapnya, kok," Ryan menjeda kalimatnya, menyeruput minuman yang baru saja diletakkan di atas meja. " Tapi kalian berdua. Sama gaya kalian yang jadiin gue sebagai target," sambungnya yang langsung diakhiri dengan senyuman.
"Iya. Kalau gitu, nikmatin minumannya. Sekalian, lagi rencana apa yang mau lo lakuin," balas Sakura dengan begitu santai dan kembali melangkah meninggalkan Ryan.
Setibanya wanita itu menemani ibunda Dirga lagi, Sakura telah mengubah raut wajahnya. Hal ini dia lakukan supaya wanita paruh baya tersebut tidak meletakkan rasa curiga apapun. Dan beruntungnya, tak lama setelah itu terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah.
"Tante, kayaknya itu Dirga udah pulang," ucap Sakura.
__ADS_1
"Oh iya?"
Ibunda Dirga hendak keluar guna menghampiri putranya tersebut, namun langsung ditahan oleh Sakura. Jadinya yakin cinta Dirga pasti akan langsung menghadapi Ryan yang masih duduk santai di ruang tamu.
Dan ya, memang benar laki-laki itu langsung menghampiri Ryan. Rahang Dirga terlihat begitu tegas ketika dia bertatap wajah langsung dengan laki-laki tersebut. Di kedua sisi tubuhnya, telapak tangannya terkepal kuat menahan amarah.
"Mau ngapain ke sini?" tanya Dirga tanpa basa-basi.
"Kenapa? Ini rumah tante gue, dan sepupu gue juga tinggal di sini. Kita ini masih saudara, Dirga," jawab Ryan.
Dia masih berada di tempatnya tanpa berniat untuk membawa langkahnya lebih dekat. Tapi tatapan laki-laki itu telah tersorot begitu tajam ke arah Ryan. Memang Ryan terlihat jelas akan melawan dirinya. Dan hal ini dia yakini sebagai gertakan untuknya.
Tapi, tak lama berbincang dengan Dirga, Ryan justru langsung berpamitan. Bahkan, laki-laki itu masih bersikap sopan terhadap ibunda Dirga sebelum pergi meninggalkan rumah ini. Mengabaikan situasi yang cukup tegang bagi mereka. Lantas laki-laki itu berjalan keluar, namun tungkainya sempat berhenti ketika dia melihat ada mobil lain di pelataran rumah ini. Hanya senyuman sungging yang dia tunjukkan.
Tentu saja, hal yang dia lakukan saat ini memang tepat dengan apa yang dia pikirkan sejak tadi. Sebenarnya, kedatangannya ke rumah Dirga hanyalah untuk memastikan sesuatu, dan sudah terjawab ketika melihat mobil yang tadi digunakan oleh Dirga.
"Dirga, Dirga. Sekali bodoh, tetap aja bodoh," gumamnya disertai dengan tawa remeh. Pun laki-laki itu segera membawa mobilnya pergi.
Sedangkan keadaan di dalam rumah masih terlihat begitu tegang, apalagi ketika ibunda Dirga melihat putranya yang masih diam. Sakura yang juga berada di sana tak mampu berbuat apapun selain membiarkan keadaan ini reda dengan sendirinya.
__ADS_1