
Sakura telah melepaskan rasa ketakutannya. Hal yang membuatnya takut itu juga membuatnya bangkit dan menghilangkan rasa takut demi satu persen keberaniannya. Pikirannya yang telah bersih itu mendapatkan sebuah ide untuk melawan Hanna yang saat ini cukup berbahaya untuknya. Hanya dirinya yang menjadi incaran hantu perempuan itu.
Ide tersebut dia temukan ketika Sakura mengingat seluruh hal yang telah dia alami selama mengenal Hanna. Dan salah satu hari yang tak bisa dia lupakan sampai kapanpun adalah hari dimana Dirga lebih memilih Hanna saat hantu perempuan itu tertangkap oleh dukun dihari Dirga dan Hanna berkencan.
Dia rasa, menggunakan dukun itu adalah hal terbaik, lantaran Hanna tak bisa berbuat apa-apa ketika hantu itu ditangkap oleh dukun. Ya, walaupun Sakura tidak melihatnya secara langsung, akan tetapi dia yakin bagaimana keadaan kala itu. Setidaknya, dia memiliki tameng yang cukup kuat. Hanya saja, Sakura tidak tahu siapa dukun itu, dan seperti apa wajahnya. Hanya Dirga yang melihatnya saat itu, dan sebab itu Sakura membutuhkan bantuan laki-laki itu sampai mereka menemukan dukun.
"Nyuruh Dirga buat kencan lagi? Mustahil banget. Minta dia buat bantuin lagi aja, sempet nolak," kata Sakura yang masih mencoba untuk berpikir.
Dirga memang menyetujui untuk menggunakan dirinya membantu Sakura melakukan cara ini. Hanya saja, wanita itu sangat yakin seutuhnya jika Dirga tak akan mau melakukan cara yang sama. Laki-laki itu enggan untuk terlihat dan bersikap romantis pada hantu yang telah banyak membuat kerugian. Inilah masalah yang dihadapi Sakura. Dia tak menemukan cara lain untuk membuat Dirga dan Hanna bisa bertemu dengan dukun itu lagi.
Wanita itu menggaruk kepalanya seraya memikirkan ide lain. Namun, agaknya dia kesulitan karena semua kejadian terjadi diwaktu yang berdekatan. Sakura memerlukan waktunya untuk berpikir. Iya, dia juga tahu jika dirinya ingin cepat-cepat terbebas dari hantu itu.
Ditengah-tengah kebingungannya, dia melihat sebuah mobil yang berhenti di depan toko kue tempatnya bekerja. Tunggu, itu bukanlah mobil Dirga, wanita itu sangat mengenali mobil laki-laki yang sering dia tumpangi bersama Dirga. Bahkan, saat pengemudi tersebut keluar dari mobil itu, penampilannya tampak mencurigakan. Sakura sudah bersiap-siap memasang badannya untuk melakukan penyerangan.
"Kayak artis aja," gumamnya saat melihat penampilan sosok tersebut.
Menggunakan kaca mata hitam serta penutup kepala, pribadi itu memasuki toko kue ini. Sakura kembali meletakkan sapu yang dia siapkan tadi, dahinya mengerut saat sosok yang dianggap pelanggan itu menundukkan kepalanya. Ya, Sakura mengabaikannya, dia pikir memang wanita itu hanya akan berbelanja kue. Anggap saja dia memang artis yang ingin bersembunyi dari paparazi.
Akan tetapi, anehnya perempuan itu justru mendatangi kasir dan memanggil namanya. Tunggu dulu, Sakura tak merasa kenal dengan banyak orang ataupun artis. Tapi, dia tidak salah dengar, kan?
"Maaf, anda mengenal saya?" tanya Sakura dengan sangat sopan.
__ADS_1
"Gue, Riana!" jawabnya dengan berbisik namun penuh penekanan.
Sakura terkejut, membuat kedua alisnya terangkat bersamaan. Manik Sakura juga bergerak cepat, memperhatikan keluar toko guna memastikan tak ada yang mengikuti gadis itu. Namun, Sakura juga takut jika Riana terlalu lama berada di sini. Pasalnya, sampai saat ini tak ada yang mengetahui jika kejadian kala itu juga melibatkan Riana. Wah, Sakura tak menyangka akan bertemu gadis itu di tempat kerjanya sendiri.
Riana hanya membuka penutup kepalanya, pun gadis itu meminta pada Sakura untuk menutup mulutnya dan tidak mengaitkan dirinya pada kejadian itu. Bahkan, gadis itu sampai memohon pada Sakura agar tidak membuka mulut. Karena hanya Sakura yang saat itu melihat keberadaannya.
"Gue mohon banget, lo jangan buka cerita itu lagi ke polisi. Gue nggak mau dipenjara," kata Riana yang sampai menggenggam tangan Sakura.
Sedangkan Sakura masih terdiam saat menatap gadis di hadapannya itu. Bukan tanpa alasan dia diam begini, kepalanya mendadak mendapatkan ide untuk membuat Riana membantunya. "Oke, gue bakal tutup mulut," jedanya, yang mana membuat Riana tampak bernafas lega. "Tapi, lo harus bantuin gue. Emang sih, sekarang gue belum tau harus minta bantuan apa, tapi suatu saat gue butuh lo," kata Sakura lagi.
"Oke!! Gue mau bantuin lo!" seru Riana tanpa ragu.
...****************...
"Gue penasaran sama luka yang lo dapet waktu kalian nyulik gue. Lo sama sekali nggak kenal sama yang nyerang lo?" tanya Sakura.
Jam kerja Sakura telah berakhir, dan saat ini wanita itu dengan bersama Riana untuk berbicara. Sakura ingin tahu lebih jauh tentang Riana dan Hanna. Ya, memang dia yakin jika keduanya tak ada hubungannya sama sekali. Namun, ada saja hal yang membingungkan dirinya.
"Ada perempuan tiba-tiba dateng ke rumah gue. Dan dia dorong gue sampai ke tembok," Riana menjeda ceritanya, maniknya sedikit menyipit dan mengingat kejadian itu. "Dia nggak ngomong apa-apa, tapi tiba-tiba gue dicakar gitu. Bahkan, bekasnya masih ada sampai sekarang," jelas Riana.
"Seriusan? Ciri-cirinya?"
__ADS_1
"Dia perempuan biasa. Penampilannya juga kayak orang-orang lainnya,"
"Orang? Dia manusia?!"
Riana menganggukkan kepalanya tanpa ragu, bahkan gadis itu melakukannya dua kali ketika Sakura mengajukan pertanyaan yang sama untuk meyakinkan sesuatu. Pun melihat raut wajah Sakura saat ini membuatnya penasaran dengan sesuatu yang mungkin tidak Riana ketahui.
"Emang kenapa?" tanya Riana.
"Waktu itu, Ryan juga sempet dapet luka kayak gitu. Gue pun juga dapet. Dan lo juga," kata Sakura yang memulai penjelasannya. "Gue nggak tau siapa yang ngelakuin itu ke Ryan, tapi gue dapetin luka cakar itu dari hantu perempuan itu. Tapi, kenapa di lo justru manusia?" Sakura sangat terheran.
Kedua wanita itu sama-sama kebingungan, lantaran tak menyangka jika terdapat perbedaan diantara mereka mengenai luka yang sama. Pun Sakura yang paling banyak berpikir, lantaran dia tak mengira jika Hanna bisa menggunakan tubuh manusia. Rupanya, hantu itu jauh lebih menakutkan dari yang dia pikirkan.
"Tapi, lo bisa lihat hantu?" tanya Sakura.
"Bisa. Tapi, gue nggak pernah lihat hantu itu. Ryan cuma ngasih ciri-cirinya ke gue, tanpa kasih tau wajahnya kayak apa. Sebab itu, dia gue bisa nyebutin ciri-ciri hantu itu ke lo," jawabnya.
"Riana, kita berdua harus hati-hati," kata Sakura lagi.
"Apa ada masalah?" tanya Riana.
Sakura mengangkat wajahnya melihat ke arah Riana dengan raut wajah yang cukup menegangkan lantaran rasa takut yang mendadak hadir. "Lawan kita bukan sekedar roh jahat. Dia pasti lebih berbahaya dari yang kita pikirin," tutur wanita itu pada Riana.
__ADS_1