Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Mencari Kesenangan


__ADS_3

"Ayo, cari makan,"


Itu adalah kalimat ajakan yang keluar dari mulut Dirga begitu mereka meninggalkan lokasi pemakaman. Namun di sebelahnya, Sakura memasang raut wajah terkejut dan bingung dalam waktu bersamaan. Pasalnya, pakaian mereka basah semua, usai hujan-hujanan. Anehnya, Dirga begitu ringan mengajaknya.


"Pakaian kita basah, lho," balas Sakura.


"Jaman sekarang pesan makanan bisa dari dalam mobil, Ra. Ada banyak tempat yang bisa drive thru,"


Sakura mengangguk paham, dia sama sekali tak terpikirkan akan hal tersebut, lantaran dirinya tak pernah melakukannya. Wajar memang, Sakura itu hidup sendiri dan selalu memilih untuk berhemat, tak pernah memikirkan untuk menghabiskan uang demi membeli makanan dari restoran cepat saji.


Di dalam sana, keduanya juga masih membicarakan tempat apa yang ingin didatangi. Layaknya sepasang kekasih yang berdebat memilih tempat makan, Dirga dan Sakura masih kebingungan untuk menentukan makanan apa yang ingin mereka makan. Namun, pada akhirnya Dirga yang mengalah, dan mengikuti kemana Sakura inginkan. Pada akhirnya, pilihan tersebut jatuh pada pedagang kaki lima, dan Dirga tetap membawa Sakura ke sana.


Keadaan di luar memang sudah tidak hujan, akan tetapi pakaian mereka masih belum kering. Tak mungkin keduanya turut bergabung bersama pembeli yang lain dengan pakaian yang masih basah. Pun pesanan tersebut hanya dibungkus untuk dimakan di dalam mobil.


"Ini pertama kalinya gue ngajak lo makan berdua, tapi kenapa pilihan lo cuma ke pedagang kaki lima?" tanya Dirga yang penasaran.


"Lo bilang 'cuma'?" Sakura menjedanya sejemang, ia sedikit mengubah posisi duduknya menghadap Dirga. "Bahkan, masakan pedagang kaki lima itu jauh lebih enak daripada restoran. Harganya juga lebih murah," sambungnya seraya memasukkan suapan pertamanya.


Melihat cara makan Sakura yang meyakinkan, membuat Dirga turut memasukkan suapan pertamanya. Dia sampai tersenyum ketika memakan makanan yang telah dibeli.


Makan apa saja diwaktu hujan seperti ini sukses membuat tubuh keduanya hangat. Pun obrolan usai begitu saja, mereka sama-sama fokus untuk menghabiskan makanannya. Dikala mengunyah, Sakura baru menyadari jika lukanya kembali terasa perih. Wanita itu sampai menjeda kegiatan makannya, menatap panjangnya luka cakaran tersebut dengan pipi yang penuh dengan makanan.


"Abisin dulu makannya," kata Dirga.


"Perih lukanya,"


Dirga meletakkan makanannya, mengambil minuman guna melarutkan sisa makanan dalam mulut. Lantas dia menarik tangan Sakura, tanpa ragu memberikan tiupan untuk menghilangkan rasa perihnya. Hanya saja, Sakura mendadak berdebar ketika Dirga melakukannya. Pun ia segera menarik tangannya, serta memalingkan wajah.


"Nggak apa-apa, nggak apa-apa, nanti perihnya juga ilang," kata Sakura disertai dengan senyuman singkat.

__ADS_1


"Yakin, nggak apa-apa? Kalau perih lagi, bilang aja," tutur laki-laki tersebut.


...****************...


Dalam perjalanan pulang, secara mendadak mobil yang ditumpangi Dirga dan Sakura mendadak terjebak macet. Dilihat-lihat, kemacetan ini telah terjadi cukup lama, lantaran panjangnya antrian mobil yang juga menggunakan jalanan ini. Mereka yang mengemudikannya sampai keluar dari mobil guna memastikan apa yang terjadi di depan sana. Dirga sampai ikut keluar guna mencari tahu.


"Ada apa?" tanya Sakura.


"Gue juga nggak tau. Orang-orang bilang ada kecelakaan di depan sana," kata Dirga.


Tepat setelah mengatakannya, Dirga buru-buru masuk ke dalam mobil lantaran lalu lintas tampak kembali berjalan. Ya, walau hanya beberapa meter mobilnya bergerak, setidaknya tidak benar-benar berhenti di tempat. Entahlah, Dirga juga penasaran dengan kecelakaan tersebut.


"Udah kelihatan apa belum kecelakaannya?" tanya Sakura lagi.


"Belum, masih panjang banget,"


Salah satu tangan Dirga bergerak ke belakang, mengambil sebuah mantel yang tertinggal. Iya, dia memberikan mantelnya pada Sakura, lantaran suhu yang semakin rendah pasti membuat tubuh wanita itu terasa semakin dingin. Apalagi mereka sempat hujan-hujanan tanpa membawa pakaian ganti.


"Lo tau nggak, mantel yang lo pakai sekarang, itu mantel yang waktu itu lo anter ke rumah gue," kata Dirga saat mobil tersebut kembali melaju.


"Oh, jadi isi paket itu mantel ini. Bagus," balas Sakura.


Seutas senyuman Dirga muncul begitu saja, sekilas melihat ke arah Sakura yang terlihat nyaman menggunakan mantelnya. "Setelah kecelakaan Nadia, nyokap selalu beliin mantel baru buat gue. Karena gue selalu pulang dengan keadaan yang kacau setelah pergi ke tempat kejadian itu. Tempat yang sama waktu lo kecelakaan," katanya jelas. Dia masih menatap kaca di depannya, melajukan mobilnya yang semakin berjalan jauh. "Tapi, gue rasa itu mantel terakhir yang bakal dibeli nyokap," kata Dirga lagi.


"Kok gitu?"


"Karena lo udah bantu gue,"


Tentunya Sakura kebingungan dengan kalimat Dirga yang baru saja dia dengar. Kedua maniknya mengerjap beberapa kali, seakan tengah berusaha mencerna kalimat tersebut.

__ADS_1


"Apa hub—"


"Oh? Kecelakaannya mulai kelihatan," kata Dirga saat maniknya telah melihat adanya lampu dari mobil ambulan dan polisi.


Kontan Sakura langsung menegakkan tubuhnya, turut melihat yang telah dikatakan oleh laki-laki di sebelahnya. Wah, Sakura tak menyangka, jika kecelakaan ini membuat banyak orang turun membantu. Dia sampai tak mampu berkata-kata, lantaran melihat sebuah mobil yang terbalik. Oh tidak, bulu-bulu tangannya berdiri.


Mobil Dirga akhirnya melaju melewati mobil yang masih belum diangkut itu. Disaat Dirga fokus untuk menyetir, Sakura justru mengamati kecelakaan tersebut.


"Siapa korbannya?" tanya Dirga.


"Perempuan,"


Tepat setelah Sakura mengucapkannya, dia terkejut dengan menutup mulutnya. Pasalnya, Dirga memiliki trauma dengan kecelakaan semacam ini, lantaran hal yang sama telah terjadi dimasa lalunya. Dia sampai meminta maaf pada Dirga, benar-benar lupa akan hal tersebut. Beruntung, Dirga juga sudah tak mempermasalahkan hal tersebut.


Kedua netra Sakura masih terfokus pada kecelakaan di sana, namun wanita itu kembali menutup mulutnya lantaran terkejut dengan sesuatu yang ia lihat. Dirinya segera mengalihkan pandangannya ke arah kaca depan, menyudahi apa yang dilakukan sebelumnya.


"Udah selesai lihatnya?" tanya Dirga yang menyadari arah pandangan Sakura.


"U-udah. Kita fokus aja ke depan," jawabnya.


Dirga merasakan sesuatu yang aneh dari wanita di sebelahnya. Dia mendengar, baru saja Sakura mengatakan supaya mereka fokus untuk melihat jalanan. Hanya saja, tatapan Sakura terlalu fokus untuk seseorang yang bersikap normal. Pun dia meletakkan salah satu telapak tangannya pada pucuk kepala Sakura, memutar kepala wanita itu sebelum melontarkan pertanyaan.


"Kenapa sih?"


Sejujurnya, ada keraguan dalam diri Sakura untuk menceritakannya pada Dirga. Bukan apa-apa, tapi apa yang dia lihat ini bisa dikatakan tampak mirip dengan semua kejadian mantan kekasih Dirga.


"Kalian mencari kesenangan aku juga akan melakukannya,"


"Aaaa..!!" Sakura berteriak saat mendengar suara arwah perempuan yang secara mendadak muncul di kursi belakang. Dia juga menutup kedua telinganya secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2