Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Dilanda Rasa Canggung


__ADS_3

Hal canggung ini tak pernah terjadi sebelumnya, bahkan ini melebihi kecanggungan ketika dua orang yang baru saja bertemu untuk pertama kalinya. Setelah kejadian minggu lalu, Sakura dan Dirga akhirnya kembali bertemu untuk pertama kalinya. Iya, mereka berdua secara tidak sengaja bertemu di salah satu supermarket. Dimana ketika Sakura sedang membeli bahan-bahan makanan untuk persediaan di rumahnya, dan Dirga yang sedang mengantar sang ibu berbelanja.


Saat kedua mata mereka saling menatap, Sakura justru lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya. Pasalnya, hubungan mereka masih terbilang belum baik-baik saja, yang mana Sakura sempat kesal pada laki-laki itu. Dan yang membuat hubungannya canggung seperti ini adalah perjanjian yang mereka pakai. Keduanya masih sama-sama menggunakan cincin tersebut. Padahal, cincin itu memiliki kenangan buruk untuk mereka berdua. Entah sampai kapan mereka akan memakai cincin tersebut.


"Gimana kabar lo?" tanya Dirga. Hanya saja, setelah dia menanyakan pertanyaan itu, Dirga merasa sangat malu dan kesal. "Kenapa nanya begitu?! Makin kelihatan canggungnya!" ucap laki-laki itu di dalam batin.


"Oh? Gue..baik," jawab Sakura yang tidak kalah canggung.


Sebab keadaan yang canggung, mereka berdua sudah tidak memiliki obrolan apa-apa lagi setelah Dirga menanyakan kabar Sakura. Apalagi wanita itu sama sekali tidak berniat untuk menanyakan balik pertanyaan yang sama pada Dirga. Dia tahu jika itu akan memperburuk kecanggungan mereka. Pun Sakura memilih untuk pergi dari hadapan Dirga, lantaran tidak tahu harus bagaimana lagi.


Baru beberapa langkah Sakura berjalan, secara tiba-tiba laki-laki itu menahan salah satu tangan Sakura. Tepat di tangan kiri mereka masing-masing, cincin pasangan itu kembali bertemu. Apalagi jari-jari Dirga juga berhenti pada cincin tersebut. Dia masih terdiam, motoran sulit untuk mengeluarkan kalimat dari mulutnya sendiri. Laki-laki itu menoleh, dengan tatapannya yang tampak sayu, akhirnya memberanikan diri untuk membuka suaranya.


"Gue kangen," ucapnya dengan lirih.


Mendengar kalimat itu, Sakura sama sekali tidak bisa bereaksi apa-apa. Bahkan, tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Sampai-sampai pegangan tangan mereka terlepas. Tatapannya juga tak bisa dia arahkan dengan fokus, hanya bisa tersenyum canggung. Namun, setelah dirinya mendengar suara ibunda Dirga, wanita itu justru langsung pergi meninggalkan Dirga tanpa berkata apapun. Sakura rasa, dia belum bisa bertemu dengan wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Dirga yang melihatnya sampai tidak bisa berkata-kata lagi, karena wanita itu orangnya setelah mendengar suara ibunya. Dia menghela nafas cukup panjang, atas kembali melanjutkan kegiatannya bersama dengan sang ibu. Mau bagaimana lagi? Dia belum mendengar apa-apa dari Sakura.


Sedangkan Sakura sendiri langsung berhenti ketika dia merasa sudah jauh dari Dirga dan juga ibunya. Nafasnya sedikit tersengal disertai dengan debaran jantung yang begitu cepat. Pasalnya, dia merasa lebih gugup bertemu dengan wanita paruh baya itu daripada lelah berlari. Sudah cukup lama dia tidak pernah berkunjung ke rumah laki-laki itu dan bertemu dengan ibunda Dirga. Apalagi hubungannya dan juga Dirga masih harus diperbaiki, yang mana membuat rasa jagungnya juga terarah pada wanita paruh baya tersebut.


"Mana bisa gue ketemu ibunya sekarang?!" kesalnya pada diri sendiri.


Dia menghela nafasnya cukup panjang, lantas pandangan wanita itu terarah pada keranjang belanja yang ada di tangannya. Dirinya sudah tidak ada keinginan untuk melanjutkan berbelanja, yang mana menjadikan sakura segera membawa semua barangnya menuju kasir. Dia meletakkan satu persatu barangnya, pandangannya hanya terfokus pada penjaga kasir tersebut yang sedang memindai semua barangnya.


Sungguh, wanita itu sama sekali tidak menyangka jika dirinya akan menjadi selemah ini setelah bertemu dengan Dirga. Semua yang dilakukannya terasa begitu membosankan. Bahkan, dia seperti enggan untuk membawa semua barang belanjaannya ini pulang bersamanya. Andai dirinya memiliki mobil, sakura tidak akan repot-repot menenteng banyak kantong belanja. Sepanjang jalan menuju halte, wanita itu hanya bisa mengeluh.


Selagi masih menunggu bis datang, secara mendadak hujan deras turun begitu saja. Sakura sedikit terkejut, lantaran dia tidak tahu jika akan ada hujan yang turun. Bahkan, dirinya sama sekali tidak membawa payung. Pikirnya, bagaimana dia akan membawa semua kantong belanja ini setelah turun dari bis? Halte dan rumahnya cukup jauh. Tentu saja, yang Sakura inginkan adalah hujan tersebut cepat mereda.


Dan beberapa menit setelahnya, sakura sudah terlihat adanya mobil hitam yang berhenti di halte tersebut. Dia tidak akan menampik jika dirinya sangat mengenali mobil tersebut. Tapi kenapa Dirga harus berhenti di depannya? Lagi-lagi membuat Sakura sudah mulai merasa canggung.


Dia kaca depan yang turun begitu saja, menampilkan sosok Dirga dan ibunya. Sakura bersikap sopan terhadap wanita paruh baya tersebut, dia tersenyum lembut sangat akan tidak ada rasa canggung di antara keduanya. Namun, walau begitu, jantung Sakura rasanya sudah ingin meledak.

__ADS_1


"Sakura, sendirian?" tanya wanita paruh baya itu.


"Iya, tante," jawabnya.


"Kalau begitu, ayo naik. Biar Dirga anter pulang,"


Kalimat itu sukses membuat Sakura terdiam, sekilas dia memperhatikan Dirga yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Astaga, wanita itu kebingungan saat ini. Dirinya takut jika dia akan terkesan tidak sopan karena menolak ajakan dari ibunda Dirga, namun wanita itu juga mungkin akan menyebabkan rasa ketidaknyamanan Dirga. Hanya saja, belum dia jawab wanita paruh baya tersebut sudah keluar dari mobilnya dan memaksa dirinya untuk segera masuk.


Ya, memang rasanya begitu canggung setelah dia memasuki mobil Dirga. Pribadi itu hanya bisa terdiam, sedikit menoleh ke arah Dirga yang terus terfokus pada jalanan. Sungguh, Sakura ingin cepat-cepat sampai di rumah, yang mana bisa membuatnya segera menghindari situasi ini.


"Tante nggak tau kalau kamu juga belanja. Tau begitu, mending tadi kita belanja bareng," kata wanita paruh baya itu.


"Iya, tante. Aku tadi juga udah lumayan lama keliling sendirian," balas Sakura dengan gugup.


Ibunda Dirga menganggukkan kepalanya beberapa kali. Pasalnya, supermarket itu sangat besar, tidak menjamin mereka akan bertemu walaupun ada di zona waktu yang sama. Sedangkan Sakura hanya bisa menyatukan kedua tangannya yang terasa lebih dihindari daripada pendingin mobil ini. Dia gugup setengah mati, lantaran Dirga juga tidak bersuara sama sekali. Oh, atau mungkin itu jauh lebih baik? Karena Sakura tak akan berbicara padanya.

__ADS_1


"Oh iya, kalian kapan mau serius? Masalah kalian juga udah selesai, 'kan?" tanya ibunda Dirga, yang mana membuat Sakura hanya bisa mengerjap kebingungan.


__ADS_2