
Tubuh yang menggigil di atas ranjang dengan selimut tebal menutup sekujurnya menandakan seseorang tengah dalam kondisi yang kurang baik. Ini akibat dari semalam yang kehujanan saat keduanya buru-buru menghindari warga yang melihat mobil Dirga terparkir di depan rumah tersebut. Niat mereka hanya ingin menghindar, tetapi justru hanya bisa bersembunyi di pekarangan rumah tersebut. Pasalnya, ada banyak senter yang menyoroti rumah besar yang mereka datangi.
Padahal rencana memarkir mobil tepat di depan rumah itu adalah Dirga, tapi bukannya berhasil kabur malah keduanya harus menunggu sampai warga mejauh dari mobil. Benar-benar kesalahan yang tak ingin dia lakukan lagi. Ide Dirga bukanlah ide yang bagus. Dan hari ini membuat Sakura tidak bisa pergi bekerja akibat tubuhnya yang tidak kuat untuk bangkit dari tempat tidur. Memeriksa ponselnya saja sudah menunjukkan waktu delapan pagi.
Tidak. Hari ini Sakura tidak ingin melakukan apapun, termasuk membantu Dirga. Tubuhnya terlalu lemah. Dirinya hanya ingin beristirahat seharian guna mengembalikan energinya sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya besok pagi. Sekalipun Dirga memaksanya, Sakura tak akan menuruti kemauan laki-laki itu. Lagipula, kemauannya ini hanya menguntungkan Dirga untuk menyelesaikan masalahnya, dan malah membawa Sakura terlibat dalam lingkaran permasalahannya.
Tok! Tok! Tok!
Belum ada lima detik Sakura memejamkan kedua maniknya, namun rungunya menangkap suara ketukan pintu. Astaga, tubuhnya saja sulit untuk bangkit, bagaimana dia bisa berjalan ke arah pintu untuk membuka dan melihat siapa tamunya. Namun, gendang telinganya juga sangat terganggu dengan suara ketukan tersebut. Dia menahan rasa kesalnya, berusaha keras untuk turun dari tempat tidurnya, berjalan ke arah luar.
"Sebentar," katanya dengan suara parau.
Sampai akhirnya wanita itu membuka pintu rumahnya, mendapati Dirga yang berdiri di depan pintu rumahnya. Maniknya merotasi jengah, masih ada rasa kesal pada laki-laki itu. Bahkan, suara hembusan nafas panjang Sakura telah menandakan dirinya malas bertemu dengan Dirga. Namun, alih-alih mengomel banyak, Sakura malah dibuat bergeming ketika Dirga membawa ibunya datang ke rumah ini. Tidak mungkin dia akan banyak mengoceh di depan wanita paruh baya itu. Hanya dengan menjamu mereka yang bisa Sakura lakukan saat ini.
Ibu dan anak tersebut telah membawa diri mereka masuk ke dalam ruang tamu rumah Sakura. Wanita itu mempersilakan tamunya untuk duduk. Berniat untuk membuat minuman, justru Sakura ditahan oleh ibunda Dirga, membuat niatannya harus terurungkan begitu saja.
Salah satu pergelangan tangannya digenggam oleh wanita paruh baya yang memasang air muka begitu khawatir. Dapat terlihat jelas bagaimana lemahnya Sakura dengan bukti suhu tubuh yang tinggi. Ah, bukannya menjamu, malah Sakura yang dijamu. Saat ini dia duduk di sofa ruang tamu bersama Dirga, dengan ibunda Dirga yang menuju dapur guna menyiapkan makanan yang telah dibeli.
"Ini sogokan supaya gue tetep bantuin lo?" tanya Sakura.
__ADS_1
"Nyokap sendiri yang minta anter ke sini. Nggak usah mikir macem-macem, deh," balas Dirga seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Tak lama setelahnya, seorang wanita paruh baya telah kembali membawa tiga porsi makanan yang sudah diletakkan di atas piring. Makanan itu diletakkan di atas meja ruang tamu, yang menandakan jika mereka akan sarapan bersama. Namun, saat wanita itu akan kembali menuju dapur guna mengambil minuman, Dirga melarangnya.
"Ibu duduk sini aja, biar aku yang ambil. Dapurnya sebelah mana?" tanya Dirga pada sang ibu.
"Jalan masuk aja, nanti langsung kelihatan," jawab ibunya.
Kini di rumah tamu hanya ada Sakura dan wanita paruh baya itu. Mereka belum menyentuh makanan, masih menunggu Dirga supaya ketiganya bisa makan bersama. Tak ada obrolan diantara keduanya. Sampai akhirnya ibunda Dirga menggenggam tangannya, disertai dengan senyuman khas seorang ibu. Entah kenapa, melihat senyuman itu membuat hati Sakura menghangat. Hatinya juga melemah karena merasakan kehangatan seorang ibu.
"Pasti sulit, ya?"
Sakura memberikan senyumannya, lantaran wanita paruh baya itu bisa merasakan yang dia rasakan. Namun, memang sengaja tak dia tunjukkan begitu jelas. Sakura tak ingin melihat raut sedih pada wanita paruh baya itu. Kalau senjata Dirga adalah ibunya sendiri, Sakura mana bisa menghentikan di tengah jalan. Mau tidak mau, dia akan membantu Dirga sampai benar-benar selesai.
Tanpa mereka ketahui jika sedari tadi Dirga berdiri di balik dinding saat mendengarkan konversasi yang terjadi diantara sang ibu dan Sakura. Pun laki-laki itu segera menunjukkan dirinya, tak ingin kedua wanita itu meletakkan rasa curiga padanya lantaran terlalu lama berada di dapur. Dia berjalan dengan tangan yang membawa nampan berisi minuman untuk ketiganya. Barulah mereka memulai menyantap sarapan yang dibawakan oleh ibunda Dirga.
Ditengah-tengah kegiatan makan pagi mereka, sejujurnya Sakura masih belum tahu alasan Dirga dan ibunya datang ke sini. Namun, Sakura memilih untuk bungkam dan menelan rasa penasarannya bersama dengan makanan yang tengah dia lahap. Hanya saja, kebaikan memang berpihak padanya, lantaran Dirga langsung menjelaskan tanpa ditanya.
"Nyokap gue khawatir karena semalem kita hujan-hujanan. Makanya, minta anter ke sini," tutur Dirga.
__ADS_1
"Jelas ibu khawatir, kamu pergi sama Sakura, pulang-pulang keadaan basah kuyup," kata sang ibu.
"Makasih, tante, sudah mengkhawatirkan saya," timpal Sakura. Hatinya bahagia, lantaran bisa merasakan kasih sayang seorang ibu—kendati bukan ibu kandungnya.
"Buat apa terima kasih? Justru tante yang terima kasih sama kamu. Kamu gadis yang baik,"
Tepat setelah Dirga memasukkan suapannya, dia menjentikkan jari, lantaran ada hal yang ingin dia katakan. "Gue inget," dia menjeda kalimatnya, meletakkan makanannya di atas meja sebelum kembali bersuara. "Dibayangan tadi malem, cowok yang ngelakuin hal itu pakai baju warna biru tua, dan warna putih di bagian kerahnya," tambahnya.
Kontan Sakura berdecak, lantaran ciri-ciri yang disebutkan itu sulit untuk mengarah pada satu orang. Pasti banyak di luaran sana yang memiliki baju serupa. "Yang lebih spesifik, dong. Kalau cuma itu, banyak yang punya," kata Sakura.
Dirga sama sekali tidak bisa menjawabnya, karena memang hanya pakaian pelakunya yang dia ingat. Entahlah, apa sebenarnya dia juga melihat hal lain atau tidak. Berusaha keras untuk mengingatnya, justru semakin membuat Dirga tak mampu mengingat apapun. Dia menggelengkan kepalanya, menandakan jika tak ada hal lebih detail yang dia ingat.
"Gue cuma berharap, ada sesuatu yang nempel di badannya, supaya kita bisa lebih gampang cari orang itu," kata Sakura.
"Buat apa juga cari pelakunya? Arwah perempuan itu udah terlanjur suka sama gue. Harusnya, gue yang diutamakan, bukan pelakunya," protes Dirga.
"Ga, dia juga pasti marah sama pelakunya. Nggak adil buat dia yang sampai kehilangan nyawanya, sedangkan si pelaku masih keluyuran, hidup tenang. Kalau dia sampai nyakitin orang-orang di sekitar lo, gimana? Karena lo sendiri juga udah tau penyebab kematiannya,"
Disaat perbicangan Dirga dan Sakura disertai dengan sedikit sulutan emosi, sang ibu segera menghentikan keduanya untuk tidak melanjutkan.
__ADS_1
"Lebih baik dijalani pelan-pelan. Kedepannya, kalian bakal nemuin solusi yang tepat setelah bisa membaca situasinya. Tolong jangan berdebat lagi," kata wanita paruh baya itu.
Saat itulah Dirga dan Sakura menyudahi perdebatan mereka, lantas melanjutkan makan paginya.