Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Membodohi Diri Sendiri


__ADS_3

Tepat di hari Minggu yang cerah ini, Sakura telah berada di depan cermin seraya memastikan penampilannya yang cukup rapi untuk bertemu dengan Dirga. Celana kulot krem dengan kemeja biru muda yang dipadukan dengan vest abu-abu, merupakan pilihan penampilannya hari ini. Dengan tas selempang berwarna putih, wanita itu berjalan usai memastikan mewarnai bibirnya.


Dia menggunakan taksi yang telah dipesannya dari rumah. Hanya menunggu beberapa menit sampai akhirnya taksi tersebut berhenti di depan rumahnya, pun wanita itu langsung masuk ke dalam dan membawa dirinya pergi menuju tempat tujuan. Dirinya tak akan menampik betapa gugupnya hari ini, seperti hidupnya akan bergantung pada pertemuannya dengan Dirga. Seluruh jarinya telah menyatu di atas paha, pandangannya yang hanya bisa dia arahkan keluar jendela ketika pikirannya tidak tenang.


"Gimana nanti kalau udah ketemu dia?" ucapnya lirih yang gugupnya sudah tidak karuan.


Langit yang semula cerah mendadak terlihat mulai gelap. Sakura menelan ludahnya, entah kenapa setelah melihat awan mendung agak membuatnya sedikit takut untuk bertemu dengan laki-laki itu. Pun Sakura hanya bisa mengatur nafasnya untuk menghilangkan kegugupannya ini. Ya, dia harus bertemu laki-laki itu untuk memperbaiki hubungan mereka. Toh, Sakura yang lebih dulu menjauh sebelum permasalahan dengan Hanna berakhir.


Hingga menempuh waktu hampir enam puluh menit lamanya, akhirnya taksi tersebut berhenti. Dia segera membawa dirinya keluar guna bertemu dengan Dirga. Tepat bersamaan dengan itu, dia mulai merasakan rintik hujan yang menetes di kepalanya. Sebelum benar-benar deras, Sakura berhasil masuk ke dalam sebuah kafe pernah mereka datangi dengan meja terpisah.


Kedua tungkai wanita itu berjalan menuju meja yang telah dipesannya. Hanya saja, meja tersebut masih kosong, menandakan jika Dirga belum datang ke tempat ini. Ya, tentu saja dia harus menunggu laki-laki itu. Kuku tangan kirinya bergerak mengetuk meja, maniknya juga mengedar ke segala arah. Rupanya, ada banyak pasangan yang datang ke tempat ini. Entahlah, Sakura juga tidak tahu jika pemandangan itu yang akan dia lihat.


Hanya saja, beberapa kali maniknya menatap waktu saat ini, presensi laki-laki itu masih belum nampak. Sakura mencoba untuk memeriksa ponselnya, tapi tak ada pesan apapun dari Dirga. Mendadak dia ragu jika laki-laki itu melupakan hari ini. Apalagi mereka sudah tidak bertukar kabar usai Sakura mengajaknya seminggu yang lalu.


"Kalau nggak lima menit lagi, ya sepuluh menit lagi," ucapnya meyakinkan Dirga akan datang.


Wanita itu benar-benar menunggu, Kendari waktu sudah lebih dari dua puluh menit dari waktu yang sudah ditentukan sebelumnya. Sampai akhirnya dia menghela nafas panjang dengan kekecewaan. Sepertinya, Sakura hanya membodohi dirinya sendiri, yang mana hingga detik ini Dirga sama sekali tidak muncul di hadapannya. Dia rasa sudah cukup membuat dirinya lelah, pun wanita itu bangkit dari tempat duduknya. Baru dua langkah, secara tiba-tiba dia mendengar suara Dirga.


"Gue pikir, lo masih mau nunggu gue satu atau dua jam lagi," kata Dirga.

__ADS_1


Sakura menoleh dengan cepat, seseorang yang berada di meja belakangnya adalah Dirga. Dia sampai menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut, maniknya mengerjap berkali-kali. Sedari tadi mereka duduk saling membelakangi, namun Sakura tak menyadari. Padahal, sejak tadi dia menghirup aroma parfum laki-laki itu. Akan tetapi, dirinya sama sekali tidak berpikir jika dia adalah Dirga, lantaran aroma parfum yang berbeda.


Sedangkan Dirga membalik tubuhnya, dia berdiri dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku. Entah dorongan dari mana, Sakura tersentak saat pikirannya menyuruh dia untuk memeluk laki-laki itu. Namun, Dirga mengeluarkan tangannya dari dalam saku, tanpa ragu memeluk wanita di hadapannya itu.


"Lakuin apa yang pengen lo lakuin," tutur Dirga.


Pun juga tanpa ragi Sakura membalas pelukan laki-laki itu. Wajahnya yang tersenyum tersembunyi di balik dada laki-laki itu. Rasa sesaknya mendadak hilang, bahkan tubuhnya terasa begitu ringan saat bisa memeluk Dirga lagi. Memang, tak selama itu mereka saling berjauhan, tapi rasanya seperti telah melewati banyak bulan untuk bertemu kembali.


...****************...


"Apa sih yang ngebuat lo ngejauh dari gue?" tanya Dirga.


Sakura menggembungkan pipinya, maniknya juga menatap ke lain arah—menghindari Dirga. Pun dia menjelaskan alasan sebenarnya yang membuat dirinya sempat kesal terhadap laki-laki itu. Dan Dirga sendiri juga mengakui kesalahannya, memang tak seharusnya dia menyerah begitu saja disaat semua orang telah bertekad untuk terus melawan. Namun, dia senang karena Sakura tidak mendengarkannya dan lebih memilih melakukan pilihannya sendiri.


"Kenapa malah lo yang minta maaf? Seharusnya itu gue," balas Dirga.


Salah satu tangan laki-laki itu terarah pada pucuk kepala Sakura. Dirinya tersenyum ke arah wanita tersebut, melampiaskan rasa bahagia pada Sakura yang telah lama tak dia jumpai. Pun tangannya turun pada telapak tangan Sakura, menggenggam tangan wanita itu dengan erat.


Namun, perlakuan Dirga yang satu ini membuat Sakura menatapnya cukup lama—genggaman tangan tersebut. Pasalnya, Sakura ingin semua diperjelas, dan tak mau semua hanya menjadi harapan atau angannya. Dia sempat berdeham panjang, sampai Dirga menoleh dan merasa penasaran dengan perubahan raut wajah Sakura sekarang.

__ADS_1


"Kenapa lagi, sih?" tanya Dirga.


"Hubungan kita, apa sih?" tanya Sakura.


Kontan mendengar hal itu membuat Dirga tertawa lantang. Dia tak menyangka jika Sakura akan menanyakan hal tersebut. Namun, tidak semudah itu Dirga memberikan jawabannya, justru laki-laki tersebut lebih senang menggoda Sakura.


"Sejak awal kita cuma temen," kata Dirga.


"Aaa," Sakura langsung melepas genggaman tangan Dirga. "Udah ah, tangan gue keringetan," alibinya untuk menghindari rasa malunya.


Dengan cepat Dirga kembali menarik tangan Sakura, dia juga mengelap keringat pada telapak tangan wanita itu pada celananya. Tak peduli jika celananya akan meninggalkan jejak. Toh, Sakura terlihat menahan senyumannya ketika dia memperlakukan hal ini. "Tadi gue udah bilang, lakuin apa yang mau lo lakuin. Kalau mau senyum, jangan ditahan," ucap Dirga.


Sakura sendiri juga langsung menerbitkan senyumannya tanpa ragu. Hanya saja, wanita itu masih belum mendengar jawaban jelas Dirga. Apa benar mereka hingga kini hanya berteman?


"Emangnya, perlakuan gue dari tadi masih kurang jelas, ya?" tanya Dirga.


Sakura tak menimpalinya, terdiam seraya berpikir hal yang sejak tadi Dirga lakukan. Pasalnya tidak banyak, hanya memeluk dan mereka berakhir dengan saling menggenggam. Sekilas melirik Dirga, seakan mencari jawaban di wajah laki-laki tersebut—walaupun tidak dia temukan juga.


"Tapi, lo nggak ci..um?" tanyanya dengan malu-malu.

__ADS_1


Lagi-lagi Dirga tersenyum, dia baru tahu jika Sakura memiliki sisi menggemaskan seperti ini. Pun dia mendekatkan mulutnya pada rungu wanita tersebut, membisikkan jawaban yang mungkin saja Sakura inginkan sejak tadi.


"Kalau itu, nanti aja. Sepulang dari sini,"


__ADS_2