
Bukan hanya sebuah obrolan untuk mengisi kekosongan diantara keduanya, tetapi pembahasan perihal masalah yang tengah mereka hadapi. Ya, walaupun acara makan malam ini seharusnya berjalan indah dan romantis, tapi karena kemunculan arwah perempuan tersebut, Sakura harus memaksa Dirga mengubah topik obrolannya.
Akan tetapi, yang masih terpikirkan di dalam benar Sakura adalah kemunculan hantu tersebut. Pasalnya, sejak awal mereka mengetahui tentangnya, semua berjalan aman. Saat Dirga menutup cincin tersebut, maka arwah perempuan itu tak akan menampilkan dirinya. Ya, memang Sakura mengkhawatirkan ada orang lain yang mampu melihat sosok tersebut. Situasinya saat ini harus sesuai keinginan dari sosok itu.
"Sekarang gini, deh. Kita coba cari hubungannya semua luka yang kita kumpulin," kata Dirga. Pria itu mengeluarkan ponselnya, membuka galeri guna menampilkan gambar yang ia gambar beberapa waktu lalu. "Pertama dari luka ini. Sebelum semua semakin rumit, gue pernah lihat luka yang sama persis sama gambar ini di punggung Ryan. Awalnya, gue sama sekali nggak peduli, karena lukanya pasti dia dapet dari masa lalu yang buruk," katanya. Dia sedikit menegakkan tubuh, melipat kedua tangannya seraya menatap Sakura.
"Gue rasa juga gitu. Apalagi, waktu Ryan lihat gue ada di kamar lo, hantu itu kelihatan marah waktu ada Ryan di sana," Sakura menambahkan.
Makanan di hadapan keduanya telah habis sempurna, namun belum ada niatan keduanya untuk pergi dikala pembahasan ini masih membingungkan keduanya. Lantas dengan sedikit senggolan dari Sakura, keduanya tersadar jika restoran tersebut mulai sepi. Ah, mereka akhirnya bergegas meninggalkan tempat sebelum benar-benar sepi. Tentu saja, hantu tersebut juga membuntuti mereka.
Pun obrolan mereka kembali berlanjut di dalam mobil. Dengan laju kecepatan mobil yang kecil, membuat mereka memiliki banyak waktu untuk mengobrol.
"Ada sesuatu yang menurut gue aneh," kata Dirga.
"Apa?"
Terdengar suara Dirga yang menarik nafas panjang, kedua mata yang sedikit menyipit sebelum bersuara. "Kenapa dia selalu punya luka?" tanyanya.
"Maksudnya?"
Dirga sekilas melihat ke arah Sakura yang tengah menatapnya. Pun pada akhirnya Dirga segera memberi tahu pada wanita di sebelahnya itu. "Luka yang dia dapet, semua mirip kayak yang lo dapet," katanya. Laki-laki itu berhedeham singkat, menormalkan tenggorokannya sebelum memperjelas ucapannya. "Jadi waktu itu gue lihat dia punya luka. Dan setelah dia punya luka itu, luka yang sama lo dapetin,"
"Luka apa?"
__ADS_1
"Cakaran,"
Tepat setelah Dirga menjawab, keduanya sama-sama bungkam, lantaran baru menyadari adanya sosok di kursi belakang. Sebab itu, Dirga segera memfokuskan diri ke kaca depan, sedangkan Sakura menoleh guna melihat ekspresi dari arwah tersebut. Hanya helaan yang bisa Sakura tunjukkan lantaran wajah mengerikan itu tengah menatapnya.
Aneh sekali, sebelumnya dia tak merasa takut dengan keberadaan arwah itu. Hanya saja, akhir-akhir ini dia justru ketakutan saat melihat emosi dari arwah. Rasa ingin menyerah jelas ada, tapi dia juga memikirkan orang-orang di sekitarnya.
Beberapa menit berlalu, mendadak Sakura teringat akan sesuatu, membuat tubuh wanita itu stagnan. Jantungnya sampai berdebar kuat, pun terasa panas di dalam. Dia belum menceritakan akan hal ini pada Dirga, lantaran takut jika laki-laki itu akan menolaknya. Akan tetapi, dia juga telah memikirkan hal ini, resikonya cukup besar jika dia melakukannya seorang diri.
Wanita itu menelan ludahnya kesulitan, dia sekilas mau lihat ke arah Dirga yang masih fokus dengan laju kendaraan. Jujur saja, Sakura tangannya pada laki-laki itu tentang sesuatu yang sangat indah dikatakan oleh arwah perempuan di belakang mereka.
"Suasananya terlalu menakutkan," ucapnya lirih sedikit dengan rasa kesal.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Dirga.
"Ada untungnya juga lo ngurangin pekerjaan. Gue jadi lebih sering ketemu lo," kata laki-laki itu tanpa ragu.
Namun, Sakura tetap memberikan pukulan ringan terhadap laki-laki tersebut usai mengatakannya. Pasalnya, wanita itu sama sekali tidak mau membuat masalah dengan arwah perempuan yang berada di belakang.
"Jangan nyari masalah malem-malem begini," kata Sakura memperingati Dirga.
...****************...
Seperti yang dikatakan oleh Sakura tadi malam, hari ini wanita itu benar-benar mendatangi delaer Dirga. Yang mana ada tempat itu juga terlihat cukup ramai dengan beberapa pengunjung yang sedang melihat-lihat mobil. Ada pemandangan yang berbeda tertangkap kedua maniknya. Entah kenapa, pemandangan itu membuat Sakura tersenyum.
__ADS_1
"Dia udah berani buat ketemu pengunjung perempuan," gumamnya seorang diri.
Wanita itu masih belum terlihat belum memasuki tempat tersebut, dia hanya memperhatikan dari jarak beberapa meter. Dia tahu, jika laki-laki yang menjadi tujuannya saat ini masih belum menyadari keberadaannya. Tak apa, Sakura bisa menunggunya sampai Dirga selesai melayani para calon pembelinya. Kapan lagi melihat Dirga memiliki interaksi dengan wanita lain?
Hingga beberapa menit berlalu, akhirnya Dirga menyadari keberadaannya di sana. Laki-laki itu melambaikan salah satu tangan ke arahnya, begitu juga dengan Sakura yang membalasnya. Dia membawa masuk dirinya ke dalam, sempat terkejut dengan apa yang mereka lakukan tadi. Sakura malu untuk mengakuinya, tapi mereka terlihat seperti sepasang kekasih? Entahlah, Sakura hanya memikirkannya secara tidak sengaja.
Pun keduanya telah berada di ruangan Dirga. Wanita itu duduk seraya melihat Dirga yang sedang melepas jaketnya. Masih dengan memasang senyuman, Sakura memberikan sedikit pujian terhadap laki-laki. Ya, dia bersyukur karena Dirga telah menampilkan perubahannya.
"Gue takjub, akhirnya lo mau buat tampil di depan banyak orang," tutur Sakura.
"Semua berkat lo," balas Dirga.
Obrolan singkat itu berakhir ketika Dirga mulai meletakkan dirinya di atas kursi. Karena rasa penasaran, Dirga juga tidak ingin berbasa-basi terlalu lama, ia segera menanyakan tentang hal yang tadi malam tidak diceritakan oleh Sakura.
"Lo ceritain sekarang," pintanya.
"Sebenarnya, ini udah lama, tapi gue lupa mau cerita ke lo," kata Sakura yang menjeda kalimat yang sejenak. "Jadi, sebelum gue diculik, hantu itu dateng secara tiba-tiba, dia bilang kalau gue harus pergi sendiri buat mastiin luka yang ada di punggung Ryan. Dan—" ucapan Sakura terpotong.
"Nggak. Gue nggak akan ngizinin lo buat nemuin dia sendirian. Sama orang yang nggak dikenal aja, dia bisa sejahat itu, apalagi sama lo yang jelas-jelas gue kenal," cegah Dirga.
Sakura menganggukan kepalanya, dia sendiri juga memang tidak berniat untuk melakukannya seorang diri. Rasa takutnya jauh lebih besar daripada keberaniannya. Namun, memang pada akhirnya hal ini membuat banyak waktu yang terbuang karena tak kunjung melihat punggung Ryan.
"Iya, gue emang nggak mau lakuin hal itu, kok," kata Sakura, tatapannya sedikit turun usai menceritakannya pada Dirga.
__ADS_1
Obrolan itu terdengar sampai keluar ruangan. Lebih tepatnya pada Ryan langsung, karena ruangan Dirga yang tak tertutup rapat.