Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Yang Dirindukan


__ADS_3

"Ayo, main lagi ke rumah tante,"


Sakura baru saja diantar hingga ke depan rumahnya, namun dia masih belum terbebas dari rasa canggungnya. Apalagi ketika ibunda Dirga memintanya untuk kembali berkunjung ke rumah mereka. Dia tidak seperti dulu, dan hanya mampu menjawab sebisanya. Paling tidak, jawabannya tidak menyakiti hati ibunda Dirga.


Lantas mobil tersebut meninggalkan rumah Sakura setelah berbincang singkat, yang mana senyuman Sakura langsung hilang begitu saja. Dia menghela nafas cukup panjang seraya menatap mobil Dirga yang semakin tak terlihat dari pandangannya. Wanita itu membawa dirinya masuk ke dalam rumah dengan banyak barang bawaan. Yang semula dia ingin memasak makanan enak, kini keinginan itu sudah tak ada dalam dirinya. Sakura hanya terduduk di bangku ruang tamu, tatapannya kosong, tapi pikirannya terus memikirkan kalimat yang Dirga katakan saat mereka bertemu di supermarket.


"Gue kangen,"


Wanita itu memejamkan mata, salah satu tangannya menarik rambut lantaran kepalanya yang mendadak terasa pening. Sakura bingung, tak tahu harus bagaimana setelah semua ini. Harus dia akui, jika setelah masalah itu berakhir, dan menjalani hari-hari seperti sebelum mengenal Dirga, wanita itu terasa begitu hampa. Entahlah, terkadang Sakura merindukan hari-hari dimana dirinya sering bertemu dengan Dirga untuk menyelesaikan masalah kemarin.


Padahal, keduanya juga sudah sama-sama mengerti jika mereka saling menyukai. Bahkan, Dirga berjanji jika dirinya akan meresmikan hubungan mereka setelah masalah tersebut berakhir. Namun, semua itu tidak berjalan sesuai kemauan. Terdapat perubahan yang juga tidak mereka rencanakan.


"Siapa yang harus ngelakuin duluan? Gue yang ngajak dia ketemu, atau dia yang mestinya ngehubungin gue dulu?" tanyanya pada diri sendiri. Dia malah melemparkan dirinya ke atas sofa, menatap langit-langit ruang tamunya. "Gue juga kangen," ucapnya.


...****************...


Dirga dan ibunya baru saja tiba di rumah, laki-laki itu membantu sang ibu membawa semua barang belanjaan yang ke dalam. Semua kegiatan yang dilakukan dengan mulut terbungkam. Dan hal itu juga dilihat oleh ibunya, yang mana tidak mendengar suara putranya sama sekali. Apalagi ketika mereka bersama dengan Sakura selama dalam perjalanan, mereka berdua terlihat seperti dua orang yang tidak saling mengenal.


Sang ibu ingin menanyakannya pada Dirga, namun wanita tersebut tidak terlalu yakin menanyakan pertanyaan yang mungkin saja membuat putranya tidak nyaman. Akan tetapi rasanya juga tidak nyaman karena wanita paruh baya itu tidak bisa melihat putranya tersenyum lagi bersama dengan Sakura. Entah apa yang sedang terjadi diantara mereka berdua.


"Ibu, semua sayuran udah aku masukin kulkas," kata Dirga yang memberikan laporan pada ibunya. Hanya dijawab dengan anggukkan beberapa kali oleh ibunya, sebelum akhirnya dia berjalan menuju kamar.

__ADS_1


Laki-laki itu langsung menenggelamkan diri di dalam kamar. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan pandangan yang terarah pada langit-langit kamar. Setiap hembusan nafasnya terasa begitu berat, seakan beban dunia seluruhnya ditanggung oleh laki-laki itu. Saat kedua maniknya terpejam, yang terdapat dalam kegelapan itu hanyalah wajah Sakura. Dia ingat seluruhnya saat mengatakan merindukan wanita itu secara sadar.


Dirga mengangkat tangan kirinya tepat di atas wajah, sebuah cincin yang masih terus berada di jari manisnya. Dan dengan bantuan tangan kanannya, Dirga melepas cincin tersebut, lantaran adanya rasa bimbang saat melihat benda tersebut. Antara teringat masa lalunya serta masa sekarang.


Dia meletakkan salah satu tangannya di atas manik yang terpejam, mencoba untuk menghilangkan rasa lelahnya. Namun, gangguan lain justru mendatanginya, yang mana membuat dirinya berdecak kesal. Tangannya merogoh saku celana saat dia merasakan ponselnya bergetar. Dengan segera dia menjawab panggilan tersebut dengan nada suara yang sedikit kasar.


"Halo!"


"H-halo,"


Kontan Dirga menegakkan tubuhnya, terkejut dengan suara yang baru saja masuk ke dalam rungu. Bahkan, untuk memastikannya, Dirga sampai melihat nama penelpon. Lantas laki-laki itu kembali mendapatkan ponselnya pada telinga. Dia menormalkan tenggorokannya yang mendadak terasa mengganggunya. Laki-laki itu mendengar suara Sakura yang menghubunginya untuk mengucapkan terima kasih karena telah mengantarnya pulang. Akan tetapi wanita itu sama sekali belum memutuskan panggilannya setelah dia selesai berterima kasih. Sampai Dirga mengira jika panggilan itu sudah terputus dengan sendirinya.


Di balik panggilan itu, Dirga hanya beberapa kali mendengar suara Sakura yang berdeham singkat. Wanita itu seperti sedang menahan kalimatnya.


"Jangan dulu!" cegah Sakura dengan cepat.


Dirga menghembuskan nafasnya cukup panjang, dia melipat salah satu tangannya di depan dada guna menunggu Sakura melanjutkan kalimatnya.


"Minggu depan, ayo ketemu," kata Sakura.


Dirga terdiam, dia sama sekali tidak tahu jika Sakura yang akan mengajaknya untuk bertemu lebih dulu. Otaknya tengah mencerna perkataan wanita itu, memastikan juga jika dirinya tidak salah mendengar. Lantas satu tarikan nafasnya menandakan jika dia akan bersiap untuk membuka suaranya.

__ADS_1


"Oke, terserah lo di mana kita mau ketemu," balas Dirga.


Tempat setelah kalimatnya selesai dia ucapkan, laki-laki itu langsung memutus panggilan suaranya. Dia menatap layar ponsel, melihat riwayat panggilan yang terdapat nama Sakura di bagian paling atas. Hanya beberapa detik, sebelum akhirnya dia melempar ponselnya di atas ranjang—tepat di belakang tubuhnya.


Laki-laki itu hendak keluar dari kamarnya, saat membuka pintu, dirinya terkejut melihat ibunya yang sudah berdiri di depan pintu dengan posisi seperti sedang menguping. Dirga sedikit terkejut dan juga kebingungan, apalagi melihat ibunya yang hanya tertawa kecil.


"Ibu ngapain?" tanya Dirga.


"Ibu cuma khawatir sama kamu," jawab sang ibu.


Dirga hanya mengerjapkan manik beberapa kali, namun tidak lama setelahnya sang ibu mendorong laki-laki itu untuk masuk ke dalam kamarnya lagi. Sudah jelas apa yang akan Dirga dapatkan. Dia hanya menghela nafas tanpa berprotes, duduk di pinggir ranjang dan menunggu sang ibu membuka mulut.


"Bilang sama ibu sekarang, kamu sama Sakura kenapa?" tanya sang ibu.


Dirga terdiam seraya menatap ibunya, lantas dia menggelengkan kepala. "Nggak apa-apa, kok. Bahkan, bentar lagi kita mau ketemuan," jawab Dirga.


Mungkin, selama ini mereka selalu memberi tahu wanita paruh baya tersebut perihal hantu dan juga Ryan, tapi ini adalah urusan yang berbeda. Dirga tidak mau membawa urusan pribadi mereka pada sang ibu. Toh, yang terpenting mereka bisa memperbaiki hubungan setelah bertemu nanti—itu harapannya.


"Beneran? Tapi, kenapa tadi diem-diem aja?" tanya sang ibu lagi.


"Karena emang nggak ada yang mau diomongin," jawabnya.

__ADS_1


Tak ada kalimat ibunya lagi, wanita tersebut menatap Dirga dalam diam. Perlahan, kedua alisnya tertekuk lantaran perasaannya tak percaya dengan perkataan putranya itu. Merasa pernah muda, sikap yang dilihat sang ibu ketika menatap Dirga dan Sakura bukanlah sesuatu yang mengatakan mereka baik-baik saja. Akan tetapi, wanita paruh baya itu memilih diam dan enggan untuk berkomentar lebih jauh.


__ADS_2