
Tidurnya terganggu usai mendengar suara nada dering telepon yang berbunyi. Dirga segera membuka kedua matanya, mematikan panggilan tersebut yang sama sekali tidak dia lihat nomor pemanggilnya. Dia menyadari jika hari ini laki-laki itu masih berada di rumah Sakura. Bahkan, wanita tersebut masih terlelap dengan tubuh yang memeluknya.
Paginya langsung disuguhkan dengan wajah cantik dan damai wanita itu. Salah satu tangannya terarah untuk menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Sakura ke belakang daun telinganya. Dia tak bisa menyembunyikan senyuman, terlalu menyukai pemandangan baru ini. Lantas melihat waktu dari jam dinding kamar Sakura, laki-laki itu memindahkan tubuh Sakura untuk terlepas darinya. Lantas bangkit meninggalkan Sakura yang masih terlelap.
Bersama dengan ponselnya, Dirga keluar menuju ruang tamu, melihat kembali siapa yang menghubunginya tadi. Dia suka terkejut ketika melihat nomor ibunya yang menghubunginya sejak tadi. Riwayatnya saja sudah sampai belasan kali, tapi Dirga hanya mendengar panggilan yang terakhir. Laki-laki itu lupa memberitahu ibunya jika tadi malam dia tidak bisa pulang ke rumah.
"Gue lupa ngabarin ibu," gumamnya seorang diri. Dia juga mengetikkan pesan pada wanita paruh baya tersebut.
Beberapa menit pandangan yang terfokus pada layar ponsel, laki-laki itu langsung menaikkan wajahnya ketika melihat Sakura yang baru saja bangun dari tidurnya. Anehnya, wajah khas bangun tidur Sakura tampak begitu indah dimatanya.
"Udah bangun?" tanya Dirga.
Wanita itu duduk di sofa, dengan kedua mata yang masih setengah terbuka. Sakura melihat ke arah Dirga, seakan laki-laki itu masih tak nyata di hadapannya sekarang. Perlahan senyumannya ikut muncul, dia juga telah menyadari jika laki-laki itu sempat tidur bersamanya. Jujur, hal tersebut sedikit membuatnya tersipu malu.
"Udah," jawab wanita itu dengan suara parau.
"Oh iya, gue langsung pulang aja, ya. Soalnya—" ucap Dirga yang mendadak terpotong.
"Buru-buru banget, ada apa emangnya?"
Dirga sampai sedikit terkejut ketika wanita itu menyala ucapannya. Lantas semua pasang senyuman dan menunjukkan alasan yang membuatnya ingin segera pulang. Sakura sendiri hanya bisa mengganggukan kepalanya guna memahami keadaan tersebut. Mana mungkin wanita itu melarang Dirga untuk kembali ke rumah orang tuanya.
Kini laki-laki tersebut telah mengambil semua barangnya sebelum akhirnya berpamitan pada Sakura. Wanita itu juga mengantar Dirga keluar, walaupun hanya sampai di ambang pintu.
__ADS_1
"Gue pulang dulu. Jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa langsung hubungin gue," kata Dirga.
"Iyaaaa,"
Sakura telah melihat mobil Dirga yang mulai meninggalkan pelataran rumahnya. Wanita itu segera kembali masuk ke dalam ke dalam rumahnya. Dia berniat untuk menuju dapur guna mengambil segelas air, akan tetapi ketika melewati kamarnya yang terbuka, Sakura melihat salah satu barang Dirga yang tertinggal. Iya, jaket laki-laki itu berada di atas kursi. Dengan seutas senyuman, Sakura mengambilnya guna meletakkan jaket tersebut pada tempat yang benar.
Akan tetapi, ketika jaket tersebut dipegang olehnya, Sakura terkejut saat melihat sebuah kertas yang jatuh ke atas lantai. Kertas dengan ukuran kecil itu cuman dilipat beberapa kali. Wanita itu membaca sebuah alamat yang tertulis di dalamnya. Entahlah, Sakura tidak tahu alamat apa yang ada di dalam saku jaket ini. Dia dengan cepat mengambil ponsel dan mencari lokasi alamat tersebut.
"Penjara?"
...****************...
Setibanya di rumah, laki-laki itu memasuki ruang tamu, yang mana sudah terdapat sang ibu menunggunya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Sedangkan Dirga hanya memasang senyuman, seakan dirinya tidak bersalah.
Dirga masih cengengesan, laki-laki itu tahu jika sang ibu tak marah jika sudah berhubungan dengan Sakura. Toh, emang kenyataannya laki-laki itu bersama dengan Sakura tadi malam.
"Ngapain aja kamu? Jangan macem-macem sama Sakura. Bisa-bisa, Sakura yang ibu tuker jadi anak ibu, bukan kamu," kata wanita paruh baya itu lagi.
"Cuma tidur bareng, kok," jawab Dirga seraya berjalan meninggalkan sang ibu.
"Cuma tidur bareng? Kamu bilang itu 'cuma'? Astaga, Dirga," laki-laki itu mendapat pukulan beberapa kali dari ibunya sendiri.
"Bu, cuma tidur. Nggak lebih, kok, bu. Beneran. Sakura juga ngizinin, kok," kata Dirga yang sedang membela dirinya sendiri.
__ADS_1
Pukulan ibunya itu terhenti, sorot tatap sang ibu tepat ke arahnya. Lantas sang ibu memegang dahinya, serta hembusan nafas yang cukup panjang ibu usai mendengar pembelaan dari putranya itu.
"Makanya, cepat nikah sama Sakura. Biar ibu juga nggak khawatir sama kalian berdua," tutur sang ibu.
"Aku udah bilang sama Sakura buat nunggu sebentar lagi sampai permasalahan ini selesai. Aku nggak mau, kalau suatu saat nanti, Sakura dalam bahaya karena permasalahan ini, bu. Sakura juga setuju," tutur Dirga.
Terdengar suara decakan dari mulut ibunya, seperti ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Sakura dan juga Dirga. Pasalnya, hubungan mereka harus terhalangi oleh permasalahan yang masih diurus keduanya. Apalagi sudah berbulan-bulan, tapi masih belum memperlihatkan hasil yang bagus. Sebagai seorang ibu pun merasakan perih di dada.
Kedua tangan wanita yang kepala memiliki keriput itu menangkup wajah putranya. Wajahnya tersenyum lembut menatap Dirga yang juga mentap sang ibu. Sedikit memberikan belaian dari tengan lemahnya sebelum berujar.
"Maaf, karena ibu nggak bisa ngelakuin apa-apa buat kalian," ucap sang ibu.
"Nggak apa-apa, bu. Lagipula, setelah aku pikir lagi, permasalahan ini yang bikin aku sama Sakura akhirnya ketemu. Tiap hari ketemu, ngobrol, sampai akhirnya aku suka sama dia," balas Dirga.
Dirga dan sang ibu mengobrol dalam waktu yang lama. Sama-sama merasakan lelah dengan permasalahan ini. Namun, sang ibu aku juga merasa lega karena ini bukan kutukan seperti yang diduga sejak awal.
Lantas setelah obrolannya selesai, Dirga memilih untuk memasuki kamarnya. Toh, laki-laki itu juga belum mandi sejak kemarin. Tubuhnya mulai terasa lengket usai keluar dari mobil tadi. Dia melangkah satu persatu menaiki anak tangga, akan tetapi langkahnya secara mendadak perhatikan dia baru menyadari jika Dirga tak memakai jaketnya.
"Jaket gue?" Dirga mencoba untuk mengingatnya di mana terakhir kali dia mengatakan jaket tersebut. "Ah, kamar Sakura," katanya lagi usai berhasil ingat.
Laki-laki itu menepuk dahinya sendiri, dia sama sekali tidak mengingat jika membawa jaket ke rumah wanita itu. Pantas saja, sejak tadi Dirga merasa ada yang kurang. Dia hanya bisa berdecak kesal, namun juga tidak bisa menyalahkan siapapun. Dia tahu, setelah ini pasti Sakura akan bertanya tentang sebuah alamat yang dia temukan di saku jaket.
"Itupun kalau dia sadar ada kertas lipat di dalamnya," ucapnya sendirian. Pun pribadi itu saudara kamu melanjutkan langkahnya menuju kamar. Sudah terlanjur, Dirga bisa apa?
__ADS_1